Jurnal: Kaki-kaki Emas Triyaningsih

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kaki-kaki emas itu berpacu di atas lintasan. (Foto: Wahyu Putro A/ANTARA)
zoom-in-whitePerbesar
Kaki-kaki emas itu berpacu di atas lintasan. (Foto: Wahyu Putro A/ANTARA)

Matahari masih tinggi, kaki-kaki kecil itu terlihat begitu cekatan berlari di atas lintasan. Melahap putaran demi putaran. Tak pula terbersit rasa lelah pada raut wajahnya.

Ketika saya menghampirinya, alur napasnya juga tampak masih teratur. Seperti tak habis melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Padahal, sudah lebih dari satu jam ia mengelilingi trek tanpa henti.

Ya, sore itu, Rabu (26/7/2017), di GOR Ragunan, Jakarta Selatan, saya berkesempatan menemui pelari nasional, Triyaningsih. Seusai menyantap menu latihan, ia lantas langsung menghampiri saya. Melempar senyum sambil berjabat tangan.

Harus saya akui, selama bertahun-tahun menjadi jurnalis, Triyaningsih merupakan salah satu atlet paling ramah yang pernah saya temui. Tak perlu berbelit-belit untuk membuat janji, ia langsung mengizinkan datang ke tempat latihannya begitu saya hubungi.

Percayalah, tidak semua atlet mudah ditemui seperti Triyaningsih. Padahal, kalau melihat prestasinya, Triyaningsih bolehlah masuk kategori atlet kelas satu di Indonesia.

Obrolan saya buka dengan menanyakan persiapan Triyaningsih menuju SEA Games 2017 yang tinggal sebulan lagi. Sudah mencapai 85%, katanya. Ia juga mengaku tak terbebani dengan target emas yang diamantkan kepada dirinya di Malaysia nanti. Terpenting baginya berlatih secara maksimal, lalu biar Tuhan yang menentukan hasilnya.

Kehendak Tuhan pula, bagi Triyaningsih, yang kemudian membawanya terjun ke dunia atletik. Jalan hidupnya telah digariskan untuk menjadi seorang pelari. Beruntung juga Triyaningsih memiliki seorang kakak yang merupakan pelari profesional. Ruwiyati namanya.

Sang kakaklah yang memiliki andil besar dalam jalan hidupnya. Ketika Triyaningsih masih kecil, Ruwiyati sudah melihat bakat adiknya itu untuk menjadi atlet.

“Awalnya saya nggak suka lari. Cuma waktu itu lihat kakak yang sudah jadi pelari profesional. Dia lihat saya punya potensi. Setelah dilatih, ternyata benar saya kuat (berlari),” ujar Triyaningsih.

Ruwiyati terus memompa semangat adiknya yang kala itu masih berusia 14 tahun, meyakinkan Triyaningish untuk mengikuti jejaknya. Tentunya, semua dilalui dengan penuh perjuangan.

Triyaningsih bahkan mengaku bahwa suatu waktu dirinya sempat ingin menyerah. Ia tak menjelaskannya secara rinci faktor apa ketika itu yang membuatnya nyaris melempar handuk putih. Akan tetapi, ada sosok sang kakak yang membantunya kembali berdiri.

“Kakak saya sangat besar perannya. Dia yang kasih motivasi. Kalau nggak, mungkin saya nggak akan jadi pelari seperti sekarang ini.”

“Kalau sekarang 'kan saya sudah punya background dan pengalaman bertanding, jadi bisa di-review lagi kalau ada masalah. Tapi, kalau dulu nggak ada bayangan apa-apa. Awal memulai (jadi pelari) banyak sekali kendalanya.”

“Waktu itu saya masih SMA di Salatiga. Dan, tinggal sama kakak. Jadi, di situ saya dikasih pandangan. Saya banyak ngobrol,” katanya.

Jika Triyaningsih mengikuti kehendaknya untuk berhenti, mungkin juga Indonesia tak punya pelari wanita yang menjadi langganan meraih medali emas. Di ajang SEA Games, Triyaningsih tercatat sudah menyabet total sepuluh keping emas sejak 2007. Sembilan dari nomor 5.000 meter dan 10.000 meter, sementara sisanya berasal dari nomor maraton.

video youtube embed

Bakatnya sebagai pelari jarak jauh sejatinya sudah tercium sejak awal mulai berlatih. Tubuhnya yang kecil dilengkapi dengan stamina yang mengagumkan. Entah sudah berapa puluh ribu —atau mungkin lebih— kilometer yang ditempuhnya.

Pada SEA Games 2011, Triyaningsih tercatat sebagai pelari yang berlari paling jauh dalam cabang atletik. Total sejauh 42.195 km ditempuhnya dari tiga nomor yakni 5.000 m, 10.000 m, dan maraton. Di SEA Games 2007, ia juga mencatatkan dirinya sebagai pemecah rekor nomor 5.000 m dengan waktu 15 menit 54,32 detik.

Lantas, apa rahasia dibalik daya tahan Triyaningsih yang mumpuni itu?

Ia mengaku tak ada perlakuan khusus untuk melatih daya tahannya dalam berlari. Tak ada makanan spesial. Hanya ia mengaku sering mengonsumsi madu setiap harinya. Itu pun bukan madu yang spesifik.

“Karena madu itu ‘kan gula murni. Buat saya itu pengaruh. Tapi, memang dari kecil dulu saya dilatih ke nomor-nomor jarak jauh. Jadi mungkin endurance saya sudah terlatih dari dulu,” ucapnya.

Jika melihat Triyaningsih latihan secara langsung, orang-orang awam pasti akan dibuat geleng-geleng kepala, termasuk saya. Ketika saya baru memasuki lintasan lari di GOR Ragunan, Triyaningsih tepat melintas di hadapan saya didampingi pelatihnya.

Perhatian saya teralihkan ketika ada pesan masuk di WhatsApp saya. Saya pun mengeceknya. Setelah membalas sekadarnya, saya lalu mencoba mencari keberadaan Triyaningsih yang hanya dalam hitungan detik tadi melintas di hadapan saya. Lucunya, saya sudah kehilangan jejak.

Setelah mata memutari lintasan, baru saya termukan, ternyata dia dan sang pelatih sudah hampir melahap satu putaran penuh. Hanya dalam hitungan detik!

"Gila," ujar saya dalam hati.

Orang-orang awam yang tak mengenal sosok Triyaningsih mungkin akan terkecoh juga. Boleh jadi mereka tak menyangka ia merupakan pelari jarak jauh dengan sederet prestasi. Dengan tinggi 147 cm dan berat 40 kg, postur tubuh Triyaningsih terlihat kecil jika dibandingkan pelari pada umumnya.

Namun, hal itu tak pernah membuatnya rendah diri. Termasuk tak ambil pusing dengan pandangan lawan terhadapnya —atau siapapun yang ia lawan.

Triyaningsih tak pernah merasa terbebani. (Foto: Wahyu Putro A/ANTARA)
zoom-in-whitePerbesar
Triyaningsih tak pernah merasa terbebani. (Foto: Wahyu Putro A/ANTARA)

“Saya, sih, nggak pernah mikir lawan siapa, karena nanti jadi down. Yang saya pikirkan saya sudah mempersiapkan diri. Lakukan yang terbaik.”

“Sejauh ini saya belum pernah dengar dari lawan yang underestimate saya ya. Tapi, kalau pun ada saya nggak mikirin hal-hal begitu. Nggak bagus buat dipikirin,” tegasnya.

Kini, yang ada di benaknya hanyalah bagaimana bisa mempertahankan raihan medali emas di SEA Games 2017. Tradisi yang telah dipegangnya sejak sepuluh tahun silam (hanya putus di SEA Games 2013 saat meraih perak di nomor 5.000 m).

Setelah kenyang medali emas di SEA Games, Triyaningsih saat ini juga membidik raihan medali di Asian Games. Itu jadi salah satu mimpinya yang belum terwujud hingga sekarang. Apalagi, tahun depan pesta olahraga terbesar se-Asia itu bakal dihelat di Jakarta-Palembang.

Hanya, lagi-lagi, Triyaningsih lebih memilih untuk menjalaninya satu per satu. Langkah demi langkah. Karena segala sesuatu masih saja mungkin terjadi ke depannya. Pencapaian terbaiknya di Asian Games adalah peringkat keempat pada nomor maraton di Asian Games 2010 China.

“Memang, itu mimpi saya. Tapi, saya jalanin saja kalau masalah target. Sejauh masih bisa digapai, saya akan berusaha terbaik mungkin. Kalau sekiranya nggak ada kesempatan lagi, saya coba bersikap realistis saja. Sejauh ini, saya masih ikut pelatnas SEA Games yang juga berlanjut nanti ke Asian Games 2018,” pungkasnya.

Tak terasa, sudah 30 menit saya berbincang dengan Triyaningsih. Perbincangan yang berlangsung dengan hangat.

Satu hal yang pasti, tak ada sama sekali gurat keangkuhan dalam bicaranya meski sudah menjadi pelari wanita tersohor di Tanah Air. Sebuah sikap yang pantas ditiru oleh atlet-atlet nasional.