kumparan
10 Juni 2019 19:44

Kegeniusan Mental yang Menyelamatkan Rafael Nadal

Rafael Nadal
Rafael Nadal juara Roland Garros 2019. Foto: Martin BUREAU / AFP
Rafael Nadal memang menutup Prancis Terbuka 2019 dengan elegan, dengan membawa pulang trofi Roland Garros ke-12-nya. Tapi, pencapaian setinggi langit itu cuma highlight reel. Jangan harap yang indah-indah seperti itu muncul di balik layar.
ADVERTISEMENT
Carlos Moya, pelatih yang mengasuh Nadal sejak 2016 itu, mengakui sendiri, timnya--termasuk si petenis--tidak datang ke Paris dengan langkah ringan. Riwayat cedera otot psoas dalam 18 bulan terakhir dan cedera lutut menjadi hantu yang gentayangan di sekitar Nadal.
Cedera otot psoas memaksanya mundur di perempat final Australia Terbuka 2018. Sementara, di semifinal Amerika Serikat Terbuka 2018 pun, ia mengalami cedera lutut kala bertanding melawan Juan Martin del Potro. Bahkan pada November 2018, petenis kelahiran Mallorca itu harus naik meja operasi untuk menangani cedera pergelangan kakinya.
Rafael Nadal
Pelatih Rafael Nadal, Carlos Moya. Foto: MIGUEL MEDINA / AFP
Nadal memang datang ke Prancis Terbuka 2019 sebagai juara bertahan. Namun, setelah menjuarai Roland Garros tahun lalu, ia acap menelan kekalahan di turnamen mayor. Tak termasuk Prancis Terbuka edisi ke-123 ini, Nadal baku hantam di 12 turnamen. Sayangnya, hanya dua yang tuntas dengan gelar juara.
ADVERTISEMENT
Tak pelak periode itu menjadi waktu-waktu yang sulit bagi Nadal. Terlebih, empat dari tiga lawannya kali ini berstatus sebagai unggulan: David Goffin, Kei Nishikori, Roger Federer, dan Dominic Thiem.
Namun, jika pada akhirnya tetap menutup kompetisi dengan gelar juara, itu semua bisa terjadi karena kekuatan mentalnya. Jatuh-bangun di atas lapangan, berulang kali dihajar kekalahan dan cedera justru membuat Nadal menjadi petenis tangguh.
"Rafa benar-benar harus mendorong diri sendiri untuk melampaui batas. Entah itu di lapangan, latihan atau sekadar memotivasi diri sendiri. Tapi, sikapnya di momen-momen buruk itu sungguh luar biasa. Gelar juara ini menjadi ganjaran yang pantas untuknya," jelas Moya.
"Saya memberi tabik untuk segala hal yang dilakukannya. Kalau segalanya baik-baik saja, bermain bagus itu bukan perkara sulit. Setiap hal yang dikerjakannya membuktikan bahwa ia genius secara mental," ucap pelatih asal Spanyol itu.
ADVERTISEMENT
Moya tahu benar siapa Nadal. Jauh sebelum keduanya bekerja sama sebagai pelatih dan anak didik, Nadal adalah lawan yang enam kali mengalahkannya dalam delapan laga.
Bahkan, pertemuan pertama mereka di lapangan tanah liat ATP Masters 1000 Hamburg 2003 itu tuntas dengan kemenangan 6-4, 6-4. Padahal, kala itu Nadal masih berusia 16 tahun. Sementara, Moya datang dengan riwayat gelar juara Prancis Terbuka 1998.
Tak cuma itu. Keduanya pun pernah berlaga sebagai pasangan ganda putra di Italia Terbuka 2007. Pertandingan paling memorable tentu saat Nadal/Moya berhadapan dengan Federer/Stan Wawrinka di babak pertama.
Rafael Nadal
Nadal bersiap-siap jelang laga final melawan Thiem. Foto: Philippe LOPEZ / AFP
Ketangguhan sebagai petenis tidak hanya ditunjukkan Nadal lewat motivasi dan keengganan untuk menyerah, tapi juga gaya bermainnya. Bahkan ketika berhadapan dengan petenis-petenis unggulan macam Federer, Nadal tak ragu bermain ofensif dan mengambil risiko. Seolah-olah lewat permainannya itu Nadal ingin berkata: Kalau melawan cedera saja menang, kenapa tidak berani menyerang mereka?
ADVERTISEMENT
Yang mengakui ketangguhan mental Nadal tak cuma Moya, tapi juga sang paman, Toni Nadal. Tapi, Toni percaya keponakannya itu lebih hebat ketimbang cedera yang menghajarnya bertubi-tubi. Itulah sebabnya, ia tak khawatir-khawatir amat ketika Nadal mempersiapkan diri menyongsong Roland Garros--termasuk ketika Nadal berlaga di Italia Terbuka.
Ngomong-ngomong, Toni pernah masuk dalam tim kepelatihan Nadal. Namun per Februari 2017, ia mengundurkan diri karena ingin fokus ke pembinaan pemain muda di Rafa Nadal Academy.
"Baginya, periode itu memang momen yang buruk, tapi saya katakan: 'Satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah menjadi juara di Roma, lalu menjuarai Roland Garros. Setelahnya, kamu akan memiliki musim panas yang menyenangkan.' Dan benar saja, ia melakukannya,'' ucap Toni.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan