Kegilaan Kyrgios yang Mengubah Wajah Wimbledon

kumparanSPORTverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nick Kyrgios di babak pertama tunggal putra Wimbledon 2019. Foto: REUTERS/Hannah McKay
zoom-in-whitePerbesar
Nick Kyrgios di babak pertama tunggal putra Wimbledon 2019. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Penampilan Nick Kyrgios di babak pertama Wimbledon 2019 menunjukkan wajah tenis yang lain. Bahwa tenis tak melulu tentang olahraga yang menggilai tatanan, bahwa tenis bisa berlangsung dengan semarak, bahwa kau bisa bertingkah gila di atas lapangan tenis.

Pada Selasa (2/7/2019), Kyrgios berlaga di Court 3 All England Lawn Tennis and Croquet Club melawan sesama wakil Australia, Jordan Thompson. Laga ini menjadi gila bukan karena berlangsung selama lima set, tapi fragmen apa saja yang muncul dalam duel lima set tersebut. Dan siapa lagi yang menjadi pemicu kalau bukan Kyrgios?

instagram embed

Rasanya tidak akan ada petenis yang menyangkutkan badannya sendiri di net lapangan Wimbledon usai melakukan manuver netting. Yang melakukannya cuma Kyrgios, tepatnya ketika ia tertinggal 3-4 dalam kedudukan 15-15 di set ketiga.

Atau ketika ia menjatuhkan diri dalam posisi tengkurap di atas lapangan usai terjatuh ketika gagal mengembalikan bola via pukulan voli. Ajaibnya, ia berbaring di sana sekitar dalam posisi demikian selama sekitar 10 detik.

Di awal-awal laga, ia berteriak kepada seorang wanita karena menurutnya terlalu berisik, "Apakah kau bisa diam sebentar? Terima kasih. Kau terlalu berisik!"

Jordan Thompson, The Majestic Moustache. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Itu tidak cuma terjadi di set pertama. Kyrgios masih kesal dengan wanita tersebut di set kedua. Apakah ia tetap mengomel? Tentu saja: "Terus terang saja, ya. Wanita ini ribut sekali. Ia mengobrol terus dari tadi. Menggelikan!"

Nah, saat tertinggal 4-5 di set ketiga, Kyrgios mengeluhkan hal serupa. Kali ini, ia mengomel kepada umpire: "Dia diizinkan untuk berbicara, memang tidak salah. Tapi, kalau saya jadi dia, saya akan pikir-pikir lagi, jangan-jangan saya mengganggu para pemain. Hei, ada juga yang membawa kamera sebesar raket. Kalau flash-nya mengganggu pemain seperti apa?"

Code violation tentu menjadi ganjaran. Dan lucunya, bukan cuma Kyrgios yang menerima ganjaran ini. Thompson pun mendapat code violation karena protes kepada umpire. Hadeeh.

instagram embed

Tapi, ulah Kyrgios tak cuma sekadar ngomel-ngomel dan bertingkah grouchy. Manuver-manuver akrobatis menjadi pemandangan yang berseliweran di sepanjang laga. Mulai dari pukulan loop dan netting yang atraktif hingga tweener-tweener yang membikin penonton berpikir, "Ini anak maunya apa, sih?"

Masalahnya, beberapa tweener (memukul dengan menyilangkan raket di antara kedua kaki) itu dilakukannya ketika dalam berlari mengejar bola. Jadi, ia tidak sedang dalam keadaan yang stabil. Coba pikir, bagaimana kalau aksinya itu justru berujung eror?

Tapi, seperti itulah Kyrgios. Ulahnya memang membuat jagat tenis secara tak sadar menjalin love-hate relationship dengannya. Kyrgios tidak seperti Roger Federer yang kalem. Ia bukan pula serupa Rafael Nadal yang garang dan dewasa sekaligus.

Kyrgios adalah Kyrgios, anak bengal di lapangan tenis. Ia bukan seperti Thompson, The Majestic Moustache, yang merasa cukup merayakan kemenangan set dengan mengacungkan tinju.

Kyrgios adalah satu-satunya petenis yang merayakan kemenangan set dengan berlari-lari kegirangan mengelilingi bidang permainannya seperti para pesepak bola yang merayakan gol.

video youtube embed

Set ketiga adalah duel gila bagi kedua petenis. Babak tie break-nya saja baru ditutup ketika sampai pada kedudukan 12-10. Sah-sah saja jika Kyrgios girang bukan kepalang. Ngomong-ngomong, julukan untuk Thompson tadi diberikan sejumlah jurnalis Inggris setelah laga melawan Kyrgios itu.

"Sejujurnya, saya tidak paham juga. Begini, ketika energi saya lagi penuh, saya bermain dengan baik. Kalau sudah begini biasanya emosi saya ikut-ikutan naik. Kalau saya anteng-anteng saja, saya malah tidak bisa menampilkan permainan yang tidak tertebak sehingga malah tidak menghibur. Intinya, saya berusaha sedapat mungkin supaya bisa bermain dengan baik dan menghibur sekaligus," jelas Kyrgios, dilansir The Guardian.

Ya, okelah. Memang bisaan dia. Selama tidak ada aksi melempar kursi, rasanya penonton cukup terhibur dengan tingkah Kyrgios di atas lapangan.

Terlepas dari segala kegilaannya, kemenangan tersebut memperpanjang napas Kyrgios di Wimbledon edisi ke-133 ini. Memang masih terlalu dini, tapi merayakannya juga tak masalah--terlebih jika melihat ada begitu banyak unggulan yang gugur di babak perdana.

Nick Kyrgios di laga babak pertama Wimbledon 2019. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Masalahnya, yang menjadi lawan di babak kedua adalah Rafael Nadal. Petenis asal Spanyol ini memeram cerita kekalahan dari Novak Djokovic di semifinal tahun lalu. Tapi, langkah Nadal juga diawali dengan trofi Prancis Terbuka ke-12-nya. Jadi bukannya tidak mungkin ia tampil menggila dan membungkam seluruh kegilaan Kyrgios.

Namun demikian, Kyrgios juga tidak akan menjadi lawan yang mudah bagi Nadal. Rekor pertemuan keduanya imbang. Dalam enam pertemuan, masing-masing menyegel tiga kemenangan. Bahkan Kyrgios menang 3-6 7-6 (2) 7-6 (6) di pertemuan terakhir, tepatnya di babak 16 besar Meksiko Terbuka 2019.

Rekam jejak memang tidak bisa menjadi jaminan. Tapi, setidaknya rekam jejak itu memberi harapan, kita bisa melihat kegilaan Kyrgios menggelitik Wimbledon yang agung itu lebih lama lagi.

instagram embed