kumparan
25 Januari 2019 10:38

Kemenangan Nadal, Pelajaran tentang Kekalahan untuk Tsitsipas

Rafael Nadal
Rafael Nadal tembus final Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson)
Anak muda berusia 20 tahun itu datang dari Yunani. Menggenggam raket, memukul bola, menundukkan raksasa-raksasa lapangan tenis. Sampailah ia di lapangan Rod Laver Arena, bertemu muka dengan muka dengan petarung Spanyol. Rafael Nadal nama si petarung, Stefanos Tsitsipas nama si anak muda.
ADVERTISEMENT
Laga tiga set berakhir dengan kemenangan Nadal. Tak ada lagi cerita gempuran Tsitsipas yang menundukkan nama besar. Tapi, itu cerita untuk hari kemarin. Entahlah besok, bulan depan, atau mungkin beberapa tahun lagi--saat ia menyerang balik dan merebut kemenangan yang sudah disimpan baik-baik oleh si 'Raja Lapangan Tanah Liat'.
Bertanding di semifinal tunggal putra Australia Terbuka 2019, Tsitsipas harus mengakui keunggulan Nadal. Pertandingan yang berlangsung pada Kamis (25/1/2019) itu tuntas dengan skor 2-6, 4-6, 0-6--yang berarti dibukakannya pintu untuk berlaga di partai puncak bagi Nadal. Siapa yang menjadi lawan masih menunggu partai semifinal lain antara Novak Djokovic dan Lucas Pouille.
Tsitsipas memantapkan diri sebagai profesional pada 2016. Secara hitung-hitungan pengalaman, ia memang belum ada apa-apanya. Masih hijau. Tapi, dialah yang mengalahkan Roger Federer, si juara bertahan. Ia juga yang mengandaskan perlawanan petenis senior macam Roberto Bautista Agut, yang sudah mengganjar Andy Murray dengan kekalahan lima set di babak pertama.
ADVERTISEMENT
Berangkat dari sini saja, Tsitsipas bukan orang sembarangan. Ia bukan petenis bermodalkan usia muda belaka. Ada teknik dan kemampuan menjanjikan yang ditopang oleh kegigihan teramat sangat. Untuk faktor terakhir, kita hanya perlu melihat dua laga terakhir sebelum melawan Nadal. Ia masing-masing kehilangan satu set di pertandingan melawan Federer dan Agut.
Stefanos Tsitsipas
Stefanos Tsitsipas telan kekalahan tiga set di semifinal Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson)
Nadal tak perlu lagi mengajari Tsitsipas bagaimana caranya memukul dengan benar. Ia tak perlu lagi memompa semangat bertarung Tsitsipas. Malang-melintang di lapangan tenis, Nadal tahu benar bahwa dua hal tadi sudah dipahami dalam-dalam oleh Tsitsipas. Jika ada satu hal yang harus diajarkan oleh Nadal, maka itu adalah tentang kekalahan.
Nadal pertama kali menjadi juara di Australia Terbuka pada 2009. Hanya, hingga sekarang gelar juara itu belum terulang lagi. Sebelum 2019 ini--setelah 2009--Nadal sudah tiga kali menjejak ke final di Melbourne Park, tapi selalu kandas. Dari sekian banyak final, tentu yang mempertemukannya dengan Djokovic pada 2012 menjadi yang paling masyhur dalam ingatan.
ADVERTISEMENT
Bukan tanpa sebab, partai itu mencatatkan rekor sebagai pertandingan dengan durasi terlama di sepanjang sejarah Australia Terbuka. Nadal mesti bertanding selama 5 jam 53 menit. Sialnya, pertarungan panjang itu berakhir dengan kekalahan Nadal.
Bahkan dengan segala kemasyhurannya, musim 2018 tidak berjalan ceria untuk Nadal. Ia memang menjadi juara di Prancis Terbuka, tapi tiga seri kompetisi Grand Slam lainnya kandas dengan kekalahan. Nadal malah harus mundur di perempat final Australia Terbuka karena cedera.
"Dinamika kalah dan menang adalah bagian dari pertandingan. Kadang kamu menang, kadang kamu kalah. Stefanos (Tsitsipas) masih muda. Saya berkali-kali kalah untuk menyadari hal ini, untuk sampai di titik ini. Setiap orang harus mampu melewati situasi yang tak enak semacam ini. Setiap harus mesti sanggup menghidupi pengalaman ini," ucap Nadal, dikutip dari laman resmi Australia Terbuka.
ADVERTISEMENT
Kekalahan tidak datang untuk diingat-ingat, ranah olahraga--termasuk tenis--mengenal kalimat itu. Namun, Nadal berbeda. Ia bukan petenis yang melupakan kekalahan. Hasil buruk itu menancap kuat dalam kepalanya, diolahnya sedemikian rupa serupa mengolah raga menjadi trofi dan nama besar. Pelajaran macam ini pulalah yang ia berikan lewat kekalahan untuk Tsitsipas.
Rafael Nadal dan Stefanos Tsitsipas BUKAN COVER!!!
Rafael Nadal dan Stefanos Tsitsipas usai laga semifinal Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Adnan Abidi)
"Apakah saya mengingat satu kekalahan? Tidak, saya tidak mengingat satu, tapi beberapa kekalahan sekaligus. Saat kamu masuk ke lapangan, kamu tahu bahwa kamu bisa kalah dan menang. Seperti itulah olahraga. Setiap minggu hanya ada satu pemenang, dan sisanya adalah orang-orang kalah. Kalau kamu memang berkecimpung di olahraga ini, kamu harus paham benar pengertian ini. Walaupun di satu sisi, normal bila kamu merasa terpuruk karena kekalahan," ucap Nadal.
ADVERTISEMENT
"Ia (Tsitsipas) bermain di turnamen besar dan ternyata ini adalah semifinal Grand Slam pertamanya. Seperti yang saya bilang tadi, ia masih muda. Ia memiliki segalanya untuk menjadi juara. Dengan segala hal yang dimilikinya, termasuk cara ia membuka musim, ia tidak punya banyak alasan untuk terpuruk walaupun kalah dalam tiga set langsung. Wajar kalau ia sedih karena tidak ada orang yang tidak bersedih karena kekalahan. Tapi di atas segalanya, ia memulai musim dengan luar biasa," jelas Nadal.
Musim kompetisi 2019 masih panjang, masih banyak pertandingan yang harus dilakoni Tsitsipas. Apa pun hasilnya nanti, segala hal yang dikatakan Nadal tadi adalah pelajaran yang bisa memaksa Tsitsipas untuk merumuskan ulang tentang apa artinya kekalahan, tentang apa artinya hidup sebagai petarung di lapangan tenis.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan