Ketika Arena Conda Kembali Bergemuruh

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Bocah pendukung Chapecoense (Foto: Paulo Whitaker/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Bocah pendukung Chapecoense (Foto: Paulo Whitaker/Reuters)

Tak pernah ada trofi yang harganya semahal trofi Copa Sudamericana milik Chapecoense. Bukan uang puluhan atau ratusan juta euro yang harus dibayarkan Chapecoense untuk bisa menyimpan trofi itu di lemari milik mereka, melainkan nyawa 19 orang pemainnya.

Getir, memang, tetapi mau bagaimana lagi?

Ketika Neto, Jakson Follmann, dan Alan Ruschel, tiga pemain yang selamat dari kecelakaan pesawat 28 November 2016 lalu, memasuki lapangan dan mengangkat trofi, air mata tumpah ruah di Arena Conda. Semua rasa berkecamuk jadi satu, hari Sabtu (21/1/2017) lalu.

Hari itu, Chapecoense mencoba bangkit dari sebuah tragedi yang akan membuat siapa pun bergidik. Mereka tak ingin menjadi "sekali berarti, sesudah itu mati".

Bantuan sudah datang dari seluruh penjuru negeri. Kini, dari 32 orang yang terdaftar menjadi pemain utama, 17 orang di antaranya adalah pemain pinjaman. Mereka pun mengundang Palmeiras, juara Serie A Brasil, untuk jadi lawan mereka pada laga persahabatan pembuka musim.

Terik mentari Chapeco hari itu memang belum mampu sepenuhnya menghapus tangis Chapecoense. Akan tetapi, dengan hati yang masih berlumur duka, mereka memberanikan diri untuk kembali menyepak bola.

Pemain Chapecoense & Palmeiras berpose bersama (Foto: Paulo Whitaker/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Chapecoense & Palmeiras berpose bersama (Foto: Paulo Whitaker/Reuters)

Sebelas menit laga berjalan, Chapecoense tertinggal lewat aksi Raphael Veiga yang kemudian tampak berjuang untuk tidak merayakan gol secara berlebihan. Namun, Chapecoense menolak tunduk.

Tak lama kemudian; hanya tiga menit berselang, gawang Palmeiras berhasil mereka bobol. Douglas Grolli, bek pinjaman dari Cruzeiro, berhasil menggetarkan jala gawang Fernando Prass. Tidak spektakuler memang. Hanya lewat sebuah sontekan. Namun, gol itu seperti mampu mengangkat duka yang merundung ke awang-awang.

Grolli tahu bahwa gol itu bukan gol biasa. Lebih dari itu, gol Grolli itu adalah sebuah pernyataan: Chapecoense belum, dan takkan mati.

Sejurus usai menaklukan Prass, Grolli langsung berlutut dan menengadahkan tangan ke langit. Dia kirimkan gol itu bagi mereka yang gugur di belantara Kolombia.

video youtube embed

Sepuluh menit sebelum turun minum, Wellington Paulista yang dipinjam dari Fluminense berhasil menaklukkan Fernando Prass. Akan tetapi, gol tersebut dianulir karena pemain bernomor punggung 9 tersebut sudah terperangkap offside. Pagar-pagar yang bergetar pun kembali bergeming. Papan skor pun urung bersalin rupa hingga akhirnya wasit meniup peluit tanda babak pertama berakhir.

Hanya dua menit setelah babak kedua dimulai, Chapecoense berbalik unggul. Gelandang bertahan mereka, Amaral, berhasil menanduk umpan silang Reinaldo dari sisi kiri dan menjebol gawang klub yang meminjamkannya ke Chapecoense tersebut. Skor 2-1 itu disambut hangat oleh para suporter Chapecoense yang tak berhenti bersorak meski disengat habis oleh Sang Surya.

Sayang, kemenangan yang sudah ada di depan mata itu pupus setelah pemain muda Palmeiras, Vitinho, mencetak gol indah dari luar kotak penalti 12 menit jelang bubaran. Hasil imbang 2-2 itu, meski tak sepenuhnya memuaskan, sudah cukup untuk setidaknya memberi sedikit hiburan bagi para suporter yang datang siang itu. Kesedihan itu memang takkan serta merta dapat tercerabut begitu saja. Akan tetapi, seperti luka-luka lainnya, hanya waktu yang akan mampu menjadi pelipurnya.

Selamat datang kembali, Chapecoense. Sepak bola berutang banyak pada kalian.