Kisah Kelam Atlet Olimpiade: Suami Rela Sewa 'Tukang Pukul' demi Rival Cedera

kumparanSPORTverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tonya Harding. Foto: REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Tonya Harding. Foto: REUTERS

Nancy Kerrigan adalah atlet seluncur es asal Amerika Serikat (AS) yang cukup berbakat. Tercatat, ia sudah dua kali mendapatkan medali World Championship pada 1991 dan 1992. Tidak hanya itu, ia juga memenangi medali Olimpiade Musim Dingin pada 1992 dan 1994.

Kerrigan pernah ditahbiskan sebagai Figur Nasional Juara Seluncur Es 1993 oleh Amerika Serikat. Di balik pencapaiannya yang cukup mentereng, ternyata wanita yang kini berusia 52 tahun itu pernah melewati beberapa peristiwa kelam.

Parahnya, pengalaman buruk yang dirasakannya itu berkaitan dengan kehidupannya di dunia seluncuran es. Mulanya, sesaat sebelum Olimpiade Musim Dingin 1994, Kerrigan diserang oleh orang-orang tak dikenal saat ia sedang berlatih di gelanggang es Detroit.

Kerrigan dipukul dengan tongkat di bagian belakang lututnya, sehingga membuat ia berteriak kesakitan. Awalnya, tidak ada yang mengetahui siapa pelaku di balik penyerangan yang menyebabkan Kerrigan cedera. Seminggu setelah itu, fakta yang menaungi kejadian tersebut pun terungkap.

Salah satu saingan Kerrigan di Olimpiade, Tonya Harding, diduga terlibat dalam aksi brutal tersebut. Hal itu berakar dari pelaku yang menyerang Kerrigan adalah orang suruhan suami Harding, Jeff Gillooly. Meskipun begitu, Harding menampik segala tuduhan yang ditujukan kepadanya.

Ilustrasi Olimpiade. Foto: Shutterstock

Pada pertengahan Desember 1993, Gillooly mengaku bahwa ia mendekati bodyguard Harding, Shawn Eckardt, untuk berdiskusi terkait bagaimana menyingkirkan saingan terberat istrinya di Olimpiade. Akhirnya, Gillooly menemukan ide untuk menyewa 'tukang pukul'.

Singkat cerita, usai diskusi dengan Eckardt, suami Harding menemukan sosok eksekutor. Mereka Derrick Smith dan Shane Stant yang kemudian ditugaskan untuk melumpuhkan Kerrigan di Detroit.

Akibat dari aksi tersebut, Kerrigan pun langsung absen dalam kompetisi Pra-Olimpiade 1994. Harding sendiri mampu merebut tempat untuk menjadi perwakilan AS.

Ketika pihak Gillooly menganggap hal itu selesai begitu saja, ternyata dugaannya salah. Tanpa sepengetahuan bos yang membayarnya, Smith langsung mengakui perbuatannya kepada Federal Bureau of Investigation (FBI) pada 11 Januari. Tiga hari setelah itu, Stant juga ikut mengaku.

Usai menjelaskan mengenai seluk beluk aksinya, Harding pun dipanggil FBI untuk menyatakan keterangan terkait peristiwa kelam yang menimpa rivalnya. Dalam proses interogasi tersebut, Harding membantah keterlibatannya dan siap memutuskan hubungan dengan Gillooly.

Tonya Harding. Foto: REUTERS

Hari selanjutnya, kebusukan Gillooly pada kejadian yang merugikan Kerrigan akhirnya tercium. Gillooly didakwa terkait insiden penyerangan tersebut serta menyeret nama Harding. Berkat tuduhan yang dikatakan suaminya, Harding mengaku bahwa ia sebenarnya sudah mengetahui jauh-jauh hari terkait keterlibatan Gillooly.

Namun, kelirunya, Harding tidak menceritakan semuanya kepada pihak berwenang. Akibatnya, Harding pun dijatuhi hukuman percobaan, denda USD 100 ribu atau sekitar Rp 1,4 miliar dan 500 jam jadi pelayan masyarakat.

Kendati demikian, Harding tidak pernah didakwa sebab terlibat dalam penyerangan itu secara langsung. Alhasil, Gillooly pun geram dengan kedustaan yang dilakukan Harding, sehingga mengancamnya melalui aksi penyebaran video seks mereka saat berbulan madu.

Bak usaha yang sia-sia, secara mengejutkan ternyata Kerrigan bisa pulih dengan cepat sehingga tetap masuk ke dalam daftar atlet yang mewakili Amerika Serikat. Alhasil, Harding pun gagal meraih medali sebab kemampuan Kerrigan yang memang benar-benar di atas rata-rata.

Pada kompetisi yang digelar Februari 1994 tersebut, Kerrigan sukses membawa pulang medali perak meskipun ia baru pulih dari cedera akibat niat buruk sang rival.

Terlepas dari abu-abunya peran Harding yang merugikan sang rival, wanita asal Amerika Serikat itu banting setir menjadi petinju profesional pada 2004.

Penulis: Hamas Nurhan R T