Kisah Kevin Sanjaya yang Pernah Menangis di Pojokan Usai Kalah

Memegang rekor tujuh gelar juara di level dunia musim lalu, nama Kevin Sanjaya Sukamuljo sontak melambung setinggi-tingginya. Umurnya belum genap 23 tahun, tetapi sebagai pemain ganda putra Indonesia bersama Marcus Fernaldi Gideon, sosoknya sudah menjadi tembok besar yang sulit ditembus lawan-lawannya.
Hal ini pun berlaku baginya di PB Djarum, rumah tempat Kevin dibina hingga tampil menjadi andalan 'Merah-Putih'. Begitu bangganya, klub yang bermarkas di Kudus ini pun menjadikan Kevin sebagai ikon di Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2018.
Lantas, bagaimana sosok Kevin ketika masih meniti langkahnya di PB Djarum? Mari meniliknya dari kisah yang diceritakan oleh Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, serta Manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi.
Berdasarkan penuturan Yoppy, Kevin begitu tertarik untuk bergabung di PB Djarum usai melihat iklan audisi di media. Terinspirasi dengan iklan yang ada, Kevin mengikuti audisi pada 2006, tetapi kala itu nasib baik belum berpihak kepadanya. Gagal, atlet kelahiran Banyuwangi, 2 Agustus 1995 itu, tak lantas menyerah.
"Tempat tinggal Kevin di Banyuwangi itu bukan kotanya ya, tapi 10 km lagi. Iklan kami menginspirasi karena kami tegaskan ini Indonesia, bukan Jawa atau luar pulau. Kevin terpanggil, setelah gagal bukan melempem tapi makin giat. Kevin juga sempat ke Jember, berlatih terus, dan akhirnya lolos audisi 2007," ungkap Yoppy.
Nah, itu soal kegigihan Kevin. Bagaimana PB Djarum mempertajam kemampuan Kevin selama di asrama? Usut punya usut, Kevin awalnya diplot menjadi pemain tunggal. Akan tetapi, Dewi Fortuna belum mengiringi langkah Kevin di sektor tunggal.
"Pelatih lihat Kevin itu langkahnya enak dan terbukti makin dewasa makin matang antisipiasinya. Luar biasa, permainan dia hebat, bisa menebak arah bola. Tapi, saat dulu jadi tunggal, Kevin tidak pernah juara. Suatu saat, tim pelatih punya pandangan. Dia potensi lebih besar di ganda, akhirnya setelah diskusi, Kevin dikirim ke ganda," katanya.
"Setelah itu yang komplain keras ibunya Kevin yang minta jangan dipindah ke ganda. Saya jelaskan terus, akhirnya biar sepakat, ya bikin janji. Kalau setahun Kevin tidak juara ganda, boleh kembali ke tunggal. Itu harusnya janji palsu, ya, buat menenangkan ibu Kevin," kelakar Yoppy.
"Setelah setahun di ganda, mulai juara Sirnas dan tahun kedua di remaja. Perkembangannya terus meningkat, sesuai janji lalu kami tawarkan ke ibunya, eh ternyata ibunya bilang, 'jangan udah bener kok ini'. Sampai sekarang pun ibunya kalau diingatkan lagi ketawa sendiri. Kevin pernah juara nasional dan akhirnya masuk Pelatnas. Ini cerita manisnya, yang gagal ya lebih banyak lagi," ucap Yoppy.
Sementara bagi Fung, pelatih yang mengasuh Kevin di PB Djarum, dia menilai Kevin sudah memiliki bakat unggul ketika pertama masuk. Satu hal lain dari Kevin, kata Fung, sifat tidak mau kalah dari jawara All England 2017 itulah, yang menjadi akar dari kesuksesannya saat ini.
"Pertama lihat Kevin dengan posturnya, kurang tinggi. Tapi ternyata main tunggal tidak kesulitan, walau lawan lebih tinggi. Main shuttlecock tidak susah, antisipasinya bagus, Kevin tahu arah serangan lawan," kata Fung.
"Satu hal lain yang menonjol, dia sangat gigih dan tidak mau kalah. Dalam hal apa pun tidak mau kalah, memang benar orang yang juara itu orang yang sangat egois. Nah, egoisnya Kevin memang ada negatif, tapi lebih banyak positifnya."
"Pernah main di Surabaya, Kevin kalah main di sektor tunggal. Setelah pertandingan, dia di pojok atas nangis sendirian. Diajak pulang sama pelatihnya tidak mau, karena kalah. Itu yang mendasari Kevin bisa berprestasi seperti sekarang ini."
Kini, Kevin sukses membukukan sederet prestasi di usia mudanya. Sebut saja medali emas SEA Games 2015 beregu putra, juara China Terbuka 2016, hingga tahun kejayaannya musim lalu diantaranya ukiran titel All England, Hong Kong Terbuka, dan BWF Super Series Finals.
Bersama Marcus, kini Kevin sebagai ganda terbaik dunia itu pun terus menjejakkan prestasi di setiap turnamen yang dilakoninya. Mengawali musim ini, dua gelar sudah direngkuh 'Minions' --sebutan Marcus/Kevin-- yakni Indonesia Masters dan India Terbuka.
