Kisah Rizki Juniansyah: Tekad Angkat Derajat Keluarga, Bidik Emas Kedua

kumparanSPORTverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Atlet angkat besi Indonesia, Rizki Juniansyah. Foto: Katondio Bayumitra Wedya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Atlet angkat besi Indonesia, Rizki Juniansyah. Foto: Katondio Bayumitra Wedya/kumparan

Rizki Juniansyah menolak puas usai berhasil mengamankan medali emas Olimpiade Paris 2024. Atlet angkat besi asal Banten itu bertekad merebut emas berikutnya di Los Angeles 2028. Semua demi Indonesia, juga demi mengangkat derajat keluarga tercinta.

Sejak kecil, Rizki sudah akrab dengan angkat besi karena sang ayah dan kakak-kakaknya juga menggeluti profesi serupa. Mereka berlatih di sebuah sasana sederhana yang terletak di Serang, Banten, bernama Bulldog Gym.

Sang ayah, Muhammad Yasin, adalah sosok yang menggemblengnya dari kecil hingga jadi juara. Beruntung, ayahnya masih bisa melihat perjuangannya meraih emas di Olimpiade pada Agustus 2024. Karena tak lama setelah itu, sang ayah berpulang pada Oktober tahun yang sama.

"Sangat down. Kurang lebih dua bulan saya enggak bisa ngapa-ngapain karena memang ayah saya itu adalah sosok yang memang pahlawan buat saya. Dari remaja, junior, senior, dia yang selalu pegang saya, dia yang selalu perhatikan saya, dia yang selalu marah di tempat latihan, dia yang selalu disiplin pas latihan," kisahnya kepada kumparan.

instagram embed

"Saya sakit hatinya banget itu kan karena memang ayah lagi sehat-sehatnya waktu itu lagi pakai motor besar bareng saya kecelakaannya di hari Jumat pukul setengah 3 sore. Saya berangkat bareng dia gitu kan dan biasanya kan dia cium kening mama gitu, kan cium tangan mama, ini enggak."

"Di situ sudah mulai janggal gitu kan dan cuek saja, ayah makin cuek, enggak mau ngelihatin orang lain, jadi kayak udah bahagia sendiri. Mungkin dia ninggalin kita semua, ninggalin keluarganya, tidak mau dengan keadaan susah," tambahnya.

Duka tak membuatnya terluka terlalu lama. Rizki Juniansyah menemukan cara untuk kembali bangkit.

Tidak pernah ada sedikit pun rasa ingin meninggalkan angkat besi usai ayahnya meninggal. Karena bagi Rizki, angkat besi adalah jalan untuk mengangkat derajat keluarga. Toh, ia juga masih memiliki ibu, kakak, dan adik.

instagram embed

Alhamdulillah kemarin tidak ada sedikit pikiran seperti itu. Memang saya ingin melanjutkan dedikasi perjuangan ayah saya terutama di Sasana Bulldog Gym. Saya mau ngangkat keluarga saya. Saya mau ngangkat Sasana Bulldog Gym. Saya juga ingin mengangkat derajat Indonesia juga gitu kan ke Olimpiade selanjutnya," terangnya.

Karena buat saya, kehilangan ayah bolehlah gitu kan hanya beberapa bulan itu kan sakit hati atau down tapi saya harus bangkit lagi dan bangkit lagi untuk meraih prestasi selanjutnya.

"Saya juga ingin membanggakan orang tua saya ini ada satu lagi sekarang ibu dan saya juga membanggakan kakak-kakak saya dan adik saya dan saya juga ingin melihat ayah tersenyum di alam sana," imbuhnya.

Dari sekarang, Rizki Juniansyah sudah kembali bersiap menatap Olimpiade Los Angeles 2028. Ia mengaku harus bekerja lebih keras lagi demi meraih emas kedua di kariernya. Main di kelas 79 kg putra, ia harus bersaing dengan Rahmat Erwin di kualifikasi.

instagram embed

"Lebih disiplin lagi karena memang 2028 ini sangatlah berat. Sama seperti Olimpiade Paris kemarin karena lawan yang sama untuk nanti kualifikasi, juga sama lawannya dari Indonesia lagi, dan saya juga harus bekerja keras, tetap menjaga makanan, menjaga istirahatnya lebih-lebih disiplin lagi, dan latihannya pasti lebih keras lagi," tuturnya.

Karena memang ini [Olimpiade 2028] adalah bukan suatu main-main. Ini adalah harus perjuangannya lebih-lebih parah lagi dari seperti sebelum di Paris.

Sang pelatih, Triyatno, mengutarakan bagaimana etos kerja Rizki selama ini. Kadang, mood bisa memengaruhi Rizki.

"Kalau untuk latihan Rizki itu sangat profesional. Karena seperti yang dilihat tadi itu Rizki latihan itu dengan tekun, dengan semangat. Tapi kalau sudah mulai jenuhnya ya itu kambuh, paling dia pergi main motor gitu. Takutnya itu aja. Kalau disiplin latihan Rizki bagus," terangnya.

Triyatno, eks atlet angkat besi sekaligus pelatih Rizki Juniansyah. Foto: Katondio Bayumitra Wedya/kumparan

Bagi Triyatno, yang memiliki riwayat meraih perak Olimpiade 2012, Rizki berbeda dari atlet angkat besi kebanyakan. Ada hal spesial yang dimilikinya.

"Hal spesial mungkin dari bakat ya mungkin. Karena kan angkat besi ini kalau enggak bakat, mungkin nonsense-lah untuk juara. Bisa ditutupin bakat tersebut dengan latihan konsisten. Dengan berturut-turut kontinu latihan terus, istirahat kontinu, makan kontinu. Semua itu diatur dengan sedemikian rupa baru bisa juara," ucapnya.

Rizki, meski dia libur satu minggu, itu masih bisa angkatan 90-95 kg, masih bisa dia angkat gitu. Nah itulah salah satu kemungkinan mukjizat dari Allah yang diberikan ke Rizki."

"Harapan saya untuk Rizki Juniansyah itu tetap konsisten dengan dia punya latihan, semangat jiwa-juang dia harus benar-benar ditambah lagi," tandasnya.