kumparan
28 Agustus 2018 9:19

Kisah tentang Laut: Aero dan Aqsa Sutan Aswar

Aqsa Sutan Aswar
Aqsa Sutan Aswar di final jetski endurance runabout AG 2018. (Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Bram Selo Agung)
"Harus lebih banyak orang yang senang laut, karena laut itu adalah harapan kita. Kita harus memelihara dan membesarkan laut ini"
ADVERTISEMENT
Ucapan itu dilontarkan oleh Saiful Sutan Aswar atau akrab disapa Fully, ayah dari Aero dan Aqsa Sutan Aswar, atlet jetski Indonesia di ajang Asian Games 2018. Ucapan ini berkenaan dengan bagaimana caranya agar Federasi Jetski Indonesia (IJBA) bisa berkembang lebih jauh ke depan. Jika ditakar dengan nalar, penuturan dari Fully ini memang ada benarnya.
Indonesia, sejak dulu kala, sudah dikenal sebagai negara dengan kekuatan maritim apik. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, di masa lampau, menguasai Indonesia berkat kekuatan maritimnya yang menawan. Total 70% wilayah Indonesia pun memang terdiri dari lautan.
Hal tersebut disadari betul oleh Fully. Memaksimalkan potensi olahraga laut berarti memaksimalkan potensi Indonesia. Tak heran, kecintaannya kepada laut pun ditanamkan kepada dua anaknya sejak dini. Sebuah kecintaan yang berbuah manis saat Aero dan Aqsa beranjak dewasa.
ADVERTISEMENT
Awal Mencintai JetSki
Aero dan Aqsa berhasil menorehkan prestasi apik di ajang Asian Games 2018. Tercatat, keduanya menorehkan satu medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu. Raihan ini didapat dari dua nomor: runabout limited dan endurance runabout open.
Menyoal prestasinya ini, Aqsa, sang peraih emas di nomor endurance runabout limited dan perunggu di nomor runabout limited, mengutarakan bahwa raihannya berkat kecintaan yang ayahnya tanamkan kepada laut sejak muda.
"Buat saya, laut adalah home (rumah). Dari kecil emang sering dikenalkan sama laut oleh ayah," ujar Aqsa (21 tahun).
Aqsa Sutan Aswar
Aqsa menyumbang emas ke-12 untuk Indonesia di Asian Games 2018. (Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Bram Selo Agung)
Berkat kecintaannya kepada laut, Aqsa, dan juga Aero, tumbuh menjadi dua pemuda yang begitu mencintai jetski. Sedari kecil, keduanya sudah menggeluti olahraga yang kerap disebut olahraga mahal oleh sebagian kalangan ini. Baik itu Aero maupun Aqsa memiliki kisah tersendiri, sekaligus titik yang menjadikan mereka pada akhirnya memutuskan untuk menekuni olahraga jetski.
ADVERTISEMENT
"Karena papa dan mama sejak kecil sering bawa aku naik jetski, terus aku jadi suka. Mulai jadi hobi, ternyata bisa balapan. Ya sudah, kenapa enggak diseriusin? Awal main jetski itu dulu umur 4 tahun," tutur Aqsa.
"Ada momennya suka jetski, yang bikin saya akhirnya mau milih jetski sebagai olahraga yang digeluti. Kalau tidak salah pas di luar negeri, di sana lihat orang balapan (jetski), terus orangnya kurang jago, dan aku langsung mikir harus lebih jago daripada dia. Itu kalau tidak salah aku umur enam tahun," ucap Aero (23 tahun).
Kecintaan terhadap laut mengantarkan mereka mencintai jetski. Dari mencintai jetski, setelah melalui berbagai perjalanan seperti cedera, kekalahan, jatuh-bangun, serta berbagai keindahan masa remaja yang dikorbankan, akhirnya mereka mampu menjadi sosok yang dikenal oleh dunia.
ADVERTISEMENT
Asian Games Meredakan Persaingan Kakak-Adik
Selaku kakak-adik yang menggeluti olahraga serupa, Aqsa dan Aero tentu tak lepas dari persaingan. Sebagai kakak, Aero lebih dulu mencicipi kesuksesan. Tidak hanya perak Asian Games 2018, berbagai gelar seperti juara 1 Watercross National Tour di Panama pada Mei 2018 serta medali emas Asian Beach Games 2014 di Thailand adalah sederet prestasi yang sudah dia torehkan. Sebagai adik, Aqsa pun mengakui hal ini.
"Wah, butuh waktu lama, sih (menyamai prestasi Aero). Kalo serius banget mungkin butuh waktu tiga sampai empat tahun," tuturnya.
Meski sudah mencicipi sukses terlebih dahulu, bukan berarti aura persaingan di antara keduanya tidak hidup. Justru dengan usia yang tidak jauh berbeda, dalam sebuah single event yang mereka ikuti, tak jarang posisi keduanya saling berdekatan. Mereka akan saling balapan dengan sekuat tenaga jika itu sudah menyangkut dunia balap jetski, terkecuali untuk ajang Asian Games 2018, saat mereka saling bekerja sama.
ADVERTISEMENT
"Deket banget, kita beda setahun dua tahun. Ke mana-mana sama-sama, bareng-bareng. Kalau balapan juga sering deketan posisinya. Kalau soal persaingan pasti ada, tapi kalau bukan karena Asian Games, kita tidak akan saling back up. Kalau di single event, beda lagi kita balapan banget," ujar Aqsa.
JetSki
JetSki (Foto: REUTERS/Athit Perawongmetha)
Walaupun bersaing, bahkan tak jarang bertengkar, Aqsa dan Aero bukan berarti tak saling membantu. Komunikasi dan diskusi mengenai kekurangan dan kelebihan masing-masing adalah hal yang sering mereka lakukan. Sebagai kakak, Aero kerap membimbing Aqsa yang terkadang masih terbawa emosi. Latihan bersama juga sering dijalani keduanya, tentu ditambah motivasi sang ayah yang dekat dengan keduanya. Ancol adalah saksi bisunya.
"Memang di sini (Ancol). Di sinilah juara dunia jetski dibangun. Di Ancol ini. Jadi memang ada satu sejarah. Ombak di sini juga paling bagus, paling susah dan menantang. Orang seluruh dunia kalo latihan di sini jadi hebat semua. Terbiasa mereka. Lihat saja, kan, hasilnya (Aero dan Aqsa)?" ujar Fully.
ADVERTISEMENT
Ya, buah memang tak akan jatuh dari pohonnya, mengingat sang ayah juga adalah atlet jetski pada masa mudanya.
Warisan untuk Jetski Indonesia
Jetski acap dianggap olahraga yang tidak populer. Tidak seperti sepak bola, bulu tangkis, atau basket, olahraga jetski ini hanya mampu dimainkan oleh beberapa kalangan saja. Mereka yang mampu membeli jetski. Hal ini seolah menjadi anggapan umum masyarakat, sekaligus membuat jetski tidak berkembang pesat di Indonesia.
Aero dan Aqsa coba membantah anggapan tersebut. Dengan sang ayah yang sudah membuat fasilitas jetski apik bernama Jetski Indonesia Academy, Aero berharap bahwa pada masa depan, jetski bisa berkembang rupa di Indonesia, apalagi venue yang dibuat ayahnya tersebut sudah berstandar dunia.
"Itu yang jadi mimpi aku sekarang. Sekarang, apa yang sudah kami bangun, fasilitasnya, tempat ini jadi venue Asian Games, ini bisa dibilang sebagai tempat nomor satu di dunia. Tempat ini (Jetski Indonesia Academy) adalah tempat jetski dengan standar dunia," tutur Aero.
ADVERTISEMENT
Aqsa Sutan Aswar
Aksi Aqsa Sutan Aswar di Asian Games 2018. (Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/BRAM SELO AGUNG)
Lain hal dengan Aqsa. Sang adik memiliki mimpi yang sedikit unik. Selain ingin membuat jetski menjadi olahraga populer di Indonesia, dia juga ingin agar kelak ada suatu momen ketika orang bermain jetski bersama-sama. Mengendarai jetski, sambil bercanda-ria di tengah lautan.
"Jetski memang unpopular, tapi semoga dengan emas ini jetski bisa jadi populer, apalagi nanti di sini bakal sering banyak kompetisi. Terus, saya pengen ada momennya itu kita balapan ramai-ramai, banyak orang. Ini yang jadi impianku sekarang," ujar Aqsa.
Dari cerita Aero dan Aqsa, kita mengenal jetski dan melihat bagaimana Indonesia berprestasi dari bidang ini. Dan, semoga warisan sang ayah tidak cuma menghasilkan prestasi untuk keduanya, tetapi juga membuat jetski semakin bertumbuh di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan