Kisah Yusra Mardini: Perenang Cantik di Olimpiade 2020, Korban Perang Suriah

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yusra Mardini, perenang wanita asal Suriah. Foto: Ronny Hartmann / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Yusra Mardini, perenang wanita asal Suriah. Foto: Ronny Hartmann / AFP

Yusra Mardini merupakan salah satu wakil IOC Refugee Olympic Team (tim pengungsi) di Olimpiade 2020. Ia pernah berenang berjam-jam di laut demi kabur dari perang Suriah.

Di Tokyo 2020, Yusra Mardini bertanding di nomor 300 meter gaya kupu-kupu. Dia terhenti di babak penyisihan. Meski demikian, hal itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi perempuan kelahiran Damaskus, 5 Maret 1998.

Butuh perjuangan besar dengan pertaruhan nyawa bagi Yusra untuk sampai pada titik ini. Ia melewati masa remaja dalam kondisi mencekam karena konflik Suriah yang terjadi di 2011. Saat itu usianya masih 13 tahun.

Kehidupan Yusra yang normal secara perlahan berubah menjadi semakin buruk saat perang mulai berkecamuk di Suriah. Pada 2012, rumah keluarganya luluh lantak akibat tragedi Daraya, satu dari tragedi pembunuhan terburuk di awal konflik negara tersebut.

Yusra Mardini, perenang wanita asal Suriah. Foto: Oli Scarff/AFP

Puncaknya, pada 2015, rumah Yusra hancur akibat ledakan dan ayahnya, Ezzat, ditangkap serta dipukuli oleh tentara setempat. Mau tak mau, keluarga Yusra tak ada pilihan lain selain keluar dari negara tersebut.

Menariknya, Yusra dan kakaknya yang bernama Sara memilih jalur laut untuk bisa pergi dari Suriah, melewati Lebanon dan Turki hingga diseberangkan ke Yunani dengan perahu bersama 18 pengungsi lainnya.

Namun, perahu yang digunakan sejatinya hanya berkapasitas 6-7 orang. Alhasil, mesin perahu yang ditumpanginya mati di tengah laut. Hal itu memaksa Yusra dan Sara terjun ke air dan berenang untuk bisa sampai ke pantai di Lesbos, keduanya berenang selama 3,5 jam.

“Itu adalah bagian tersulit bagiku karena harus merasakan perihnya air asin. Tapi, apa yang akan aku lakukan setelah itu? Membiarkan semua orang tenggelam? Kami akhirnya memutuskan menarik dan berenang untuk hidup mereka," ujar Yusra, kepada majalah Vogue.

Yusra Mardini, perenang wanita asal Suriah. Foto: Martin Bureau/AFP

Yusra dan Sarah kemudian berjalan kaki ke Jerman, di mana mereka lantas menetap di kamp pengungsian di Berlin dan berbagi tenda dengan enam pengungsi lainnya.

Beruntung, saat itu Yusra mengetahui ada klub renang yang sedang mencari dan melatih atlet muda, Wasserfreunde Spandau 04. Tanpa pikir panjang, Yusra bergabung dengan klub tersebut.

Dibantu oleh klub renangnya tersebut, Yusra akhirnya berhasil mengurus izin tinggal di Jerman. Beberapa bulan Yusra berlatih di klub tersebut sampai akhirnya terpilih untuk mengikuti Olimpiade Rio 2016 mewakili IOC Refugee Olympic Team yang baru dibentuk oleh UNHCR.

X post embed

Olimpiade Tokyo 2020 menjadi olimpiade kedua yang diikutinya. Sebelumnya, Yusra juga mendapat kesempatan untuk bertanding di Olimpiade Rio 2016. Ia bertanding untuk dua nomor perlombaan, yakni 100 meter gaya bebas dan 100 meter gaya kupu-kupu.

Pada Olimpiade Tokyo 2020 ini, Yusra tak hanya bertanding. Ia juga mendapat kehormatan sebagai pembawa bendera dalam upacara pembukaan.

****

embed from external kumparan