Kolo Toure, Dia yang "Tak Tersentuh"

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Toure punya rekor spesial. (Foto: Celtic FC)
zoom-in-whitePerbesar
Toure punya rekor spesial. (Foto: Celtic FC)

Ketika itu, tahun 2002, Arsenal belum seperti sekarang ini. Maksudnya, ketika itu mereka masih diperkuat oleh pemain-pemain legendaris macam Thierry Henry dan Dennis Bergkamp, serta secara rutin masih bersaing ketat di jalur juara dengan Manchester United.

Di tahun itu, seorang pemuda berusia 21 tahun dari Pantai Gading datang ke London. Si pemuda itu tidak punya pengalaman sama sekali di sepak bola level teratas. Sebelumnya, selama beberapa tahun dia hanya pernah menimba ilmu di klub lokal Abidjan (ibu kota Pantai Gading), ASEC Mimosas.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, meski kekar. Di Abidjan sana, dia adalah pemain serbabisa. Bermain sebagai pemain sayap, dia bisa. Begitu pula ketika dia diminta untuk menjadi tukang jagal di lini tengah.

Ketika dia datang ke Arsenal, Arsene Wenger pun bingung. Di hadapannya, ada seorang pemain yang punya kecepatan dan kekuatan. Akan tetapi, dia belum punya spesialisasi.

Maka dari itu, Wenger pun tak langsung mau merekrutnya. Dalam sebuah sesi latihan bersama tim utama, dia mengundang si pemuda itu untuk menunjukkan kemampuannya.

Seusai sesi tersebut, hati sang pemuda risau bukan kepalang. Pasalnya, pada sesi yang menentukan masa depannya itu, dia membuat tak hanya satu, tetapi tiga kesalahan fatal.

Pertama, dia menekel keras Thierry Henry. Kedua, dia menekel keras Dennis Bergkamp. Dan terakhir, Arsene Wenger pun ditekelnya sampai mengaduh.

Sudah jauh-jauh datang dari Pantai Gading, kans si pemuda untuk bermain di Arsenal sepertinya bakal sampai di situ saja.

Namun, seperti yang dituturkan legenda Arsenal, Ray Parlour, dalam buku Arsene Wenger: The Inside Story of Arsenal Under Wenger, sang manajer justru memutuskan hal tak terduga. Alih-alih memulangkan si pemuda kembali ke negeri asalnya, Sang Profesor memilih untuk merekrutnya. Kata Wenger ketika itu, "Aku suka dengan gairahnya."

Toure saat di Arsenal. (Foto: Arsenal Fan TV)
zoom-in-whitePerbesar
Toure saat di Arsenal. (Foto: Arsenal Fan TV)

Nama pemuda itu adalah Kolo Abib Toure dan kini, di usia yang telah menginjak angka 36, karier profesionalnya sebagai pesepak bola sudah mendekati garis akhir.

Meski mengawali karier bersama Arsenal dengan tiga kesalahan sekaligus, Toure akhirnya menjelma menjadi salah satu pemain terbaik klub itu, setidaknya dalam dua dekade terakhir.

Awalnya, ketika Martin Keown masih kuat menandingi penyerang-penyerang lawan, Toure kerap dimainkan sebagai bek kanan untuk melapis Lauren Bisan. Namun, setelah usia memakan karier Keown, Toure pun dipercaya Wenger untuk mendampingi Sol Campbell di jantung pertahanan The Gunners.

Hasilnya, Toure pun menjadi bagian penting dari Invincible (Tak Tersentuh) Arsenal yang legendaris itu. Sebanyak 49 pertandingan, mulai dari musim 2003/04 sampai 2004/05, "Meriam London" tak pernah sekali pun terkalahkan. Tim itu pun kemudian diingat publik sebagai tim Arsenal terbaik sepanjang sejarah.

video youtube embed

Namun, kebersamaan Toure dengan Arsenal harus berakhir pada tahun 2009 ketika dia menerima pinangan Manchester City. Tak seperti Samir Nasri yang ingin pindah demi bayaran yang lebih besar, Toure meminta dijual karena dia tidak menyukai partnernya di lini belakang, William Gallas.

Bersama City, Toure bertahan selama empat musim dan mendapat satu lagi gelar juara Premier League sebelum dilepas ke Liverpool dengan status bebas transfer. Namun, ketika bermain untuk Liverpool, kakak Yaya Toure ini sudah terlihat sangat menurun. Kecepatannya sudah sangat berkurang dan untuk kompetisi seperti Premier League yang amat mendewakan kecepatan serta kekuatan, Toure memang sudah tidak kuat lagi. Di usia yang ke-35, dia dilepas oleh The Reds dan memutuskan hijrah ke utara; ke Skotlandia, bersama Celtic.

instagram embed

Di Parkhead, markas Celtic, Toure bereuni dengan manajer yang memboyongnya ke Anfield, Brendan Rodgers. Meski sudah dianggap habis di Premier League, Toure ternyata masih cukup bisa diandalkan di Scottish Premiership. Berpasangan dengan Erik Sviatchenko, Toure pun menjadi komandan lini belakang The Bhoys.

Rodgers, dengan tim Celtic-nya ini, memang terlalu tangguh untuk klub Skotlandia mana pun. Belum pulihnya keadaan Rangers yang belum lama ini bangkrut membuat Celtic benar-benar tak punya lawan sepadan.

Hasilnya, dari 38 pertandingan Scottish Premiership, Celtic menang 34 kali dan bermain imbang empat kali. Dengan 106 poin yang dikumpulkan, mereka pun benar-benar menjadi klub paling dominan dan menjadi juara tak terkalahkan untuk pertama kalinya.

instagram embed

Tak hanya itu, mereka pun sebelumnya telah mengamankan gelar Piala Liga dan berpeluang meraih trigelar akhir pekan nanti pada final Piala Skotlandia melawan runner-up liga, Aberdeen. Satu-satunya cacat Celtic pada musim ini adalah babak belurnya mereka di Liga Champions, termasuk ketika dilumat Barcelona tujuh gol tanpa balas.

Musim ini, Celtic memang tampil begitu istimewa dan dari sana, Kolo Toure pun berhasil mencatatkan lagi namanya dalam buku sejarah. Dengan tidak terkalahkannya Celtic, Toure pun menjadi pemain pertama dalam sejarah sepak bola yang pernah menjalani dua musim tak terkalahkan bersama dua tim berbeda. Tak ada pemain lain, termasuk Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo, yang pernah mengalami apa yang dialami Toure.

X post embed

Meski "hanya" diraih di Scottish Premiership, keberhasilan Celtic dan Toure itu sebenarnya lebih sulit daripada yang orang bayangkan. Pasalnya, dengan status sebagai tim terkuat, lawan yang harus dihadapi Celtic adalah diri mereka sendiri, khususnya ketika mereka sudah memastikan gelar juara liga.

Musim depan, Toure sepertinya masih bakal bertahan di Celtic. Meski usianya terus bertambah, pria yang dikenal baik hati dan tidak sombong ini tentunya masih akan dipercaya oleh Rodgers untuk mengawal pertahanan anak-anak Parkhead. Apakah prestasi musim ini bakal mampu diulangnya kembali? Mari kita tunggu tahun depan!