Mario Wuysang Puji Kemajuan IBL, tapi Ungkap Masih Ada PR Krusial

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Laga Satria Muda melawan Indonesia Patriots di IBL 2023. Foto: IBL
zoom-in-whitePerbesar
Laga Satria Muda melawan Indonesia Patriots di IBL 2023. Foto: IBL

Legenda basket Indonesia, Mario Wuysang, telah pensiun sejak 2018. Meski begitu, ia tetap masih mengikuti perkembangan basket Indonesia termasuk Indonesia Basketball League (IBL) yang kini sudah memasuki dekade kedua.

IBL terus berbenah dan sekarang sudah berbeda dari IBL era Mario masih bermain. Pria yang kerap disapa Uncle Roe ini memuji peningkatan kualitas kompetisi, tetapi ia percaya masih ada pekerjaann rumah (PR) krusial yang harus dibereskan, yakni terkait pemerataan kualitas tim.

"Dari 16 tim, hanya 3-4 tim teratas yang bisa berkompetisi [ketat] setiap tahun. Kita harus mencari cara agar 16 tim ini kompetitif semua. Itu mulai dari mana? Soalnya saya melihat tingkat kemampuan pemain tidak semua sama," ujarnya kepada kumparan belum lama ini.

Reo juga menyarankan agar setiap tim tidak asal merekrut pemain hanya dari posturnya semata. Sebuah tim harus bisa melihat potensi dari para bibit-bibit muda yang akan direkrut.

Mario Wuysang saat masih membela CLS Knight Foto: Twitter/ @M_Wuysang2

"Tim gede mendapat pemain terbaik. Harusnya program usia muda agar pemain bisa terus berkembang dan sengaja disiapkan untuk menjadi profeional. Namun, jangan asal memasukkan pemian karena mereka berpostur tinggi, tetapi enggak siap [skill dasarnya], kalau gitu enggak berkembang," kata Mario Wuysang.

Bermain sejak IBL pertama kali digulirkan pada 2003, Mario melihat ada banyak perubahan dari penyelenggaraan kompetisi itu. Dari segi penggemar, misalnya, Mario melihat jumlahnya sudah semakin banyak karena pengaruh media sosial.

Sosok yang menjuarai edisi pertama IBL bersama Aspac Texmaco ini yakin basis penggemar kompetisi itu dan olahraga basket akan semakin besar. Pemain-pemain bagus yang muncul pun semakin banyak.

"IBL itu berkembangnya very good, kalau saya lihat, entertainment-nya, penonton dan popularitasnya sangat tinggi dengan era sosial media sekarang. Pemain-pemainnya juga very skilled sekarang, mereka terus berkembang," ungkapnya

"Tapi selalu ada ruang untuk terus melakukan perbaikan. Masih banyak hal penting yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas para pemain. Tapi kalau kita lihat bisnis industri IBL, pasti itu grow dibanding 2003 pas saya datang. Good job, IBL," imbuhnya.

Aksi Bima Perkasa Jogja di IBL 2023. Foto: IBL

Indonesian Basketball League (IBL) merupakan kompetisi bola basket tertinggi di Tanah Air. IBL pertama kali bergulir pada 2003 dengan 12 klub peserta. Saat itu, liga dikelola Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) secara independen.

Adapun klub peserta saat itu mencakup enam kota yakni Bandung, Bogor, Jakarta, Yogyakarta, Salatiga, dan Surabaya. Mayoritas pemain yang berkompetisi di IBL merupakan atlet-atlet yang menjadi bagian Timnas Basket Indonesia.

Pengelolaan liga sempat dialihkan ke PT Deteksi Basket Lintas (DBL) pada 2010 sehingga berubah nama menjadi National Basketball League (NBL) dan bergulir hingga 2015.