Masyarakat Papua Punya Budaya Berburu tapi Sulit Lahirkan Atlet Panahan

Masyarakat Papua identik dengan budaya berburu. Namun, ironi muncul seiring sulitnya mencari atlet panahan di bumi Cenderawasih. Persoalan sarana dan prasarana (sarpras) sebagai tempat berlatih juga jarang ditemui di pulau yang berada di Indonesia timur ini.
Pelatih Kepala Kontingen Papua Barat di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026, Unggul Broto Warastro, mengatakan sulit menemukan bibit atlet panahan di 'Bumi Cenderawasih. Padahal, masyarakat Papua banyak menghabiskan waktu untuk berburu meski menggunakan panah tradisional.
"Papua ini kan identik dengan berburu dan berburu ini budaya mereka. Tetapi untuk mencari atlet panahan itu sulit. Mereka banyak yang belum mengenal panahan modern seperti divisi nasional, recurve, dan compound," katanya kepada kumparan, Kamis (23/7).
"Olahraga sepak bola, voli, dan futsal lebih populer di Papua. Saya sejak 2015 sudah beberapa kali melatih tim Papua dan memang masalah yang kami hadapi adalah sulit mencari bibit atlet," terangnya.
Selain sarpras panahan yang belum masif, untuk sekadar mencari toko yang menjual perlengkapan panahan juga tidak tersedia. Tak jarang, Unggul membeli peralatan panahan ketika sedang mengikuti event panahan di Pulau Jawa.
"Toko panahan juga tidak ada. Kami kesulitan mencari alat. Termasuk alat yang kami bawa di Kejurnas ini juga susah nyarinya. Kadang kami minta tolong, nitip coach dari daerah lain kalau butuh perlengkapan panahan," ujarnya.
Sebagai pelatih, dia ingin melahirkan anak Papua asli yang bisa menjadi atlet panahan terbaik untuk Indonesia. Ia ingin bakat asli Papua bisa wakili 'Merah Putih' di ajang internasional.
"Saya ingin tim Papua yang ada warnanya. Dalam hal ini rambut keriting kulit hitam. Makanya di tim saya Papua Barat ini diisi anak-anak asli Papua," ucapnya.
Tantangan menemukan bibit atlet panahan asal Papua selalu datang silih berganti. Mayoritas belum pernah memegang panahan modern seperti divisi nasional, recurve, dan compound.
Peralatan panahan pun mereka tak memiliki. Sebagai contoh, peralatan yang dibawa oleh skuad Papua Barat di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ini berasal dari bantuan berbagai pihak. Menurutnya, orang tua atlet juga belum bisa membelikan peralatan panahan.
"Orang tua atlet yang ada di skuad Papua Barat ini mayoritas kalangan menengah ke bawah," jelasnya.
Unggul menyampaikan, pada Kejurnas Junior ini, ia membawa enam atlet. Demi berlaga di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 ini ia juga menghadapi tantangan. Seperti kendala dana dan transportasi.
"Kami bersyukur ada pihak-pihak yang mau membantu. Baik itu dari sponsor maupun dari Pemprov," ungkapnya.
Mengingat atlet yang ikut membela kontingen Papua Barat merupakan atlet baru, ia tak memasang target muluk-muluk. Menambah jam terbang menjadi satu-satunya target realistis di Kejurnas ini.
"Semoga dari sini suatu saat nanti ada atlet putra daerah yang bisa ke kancah nasional," imbuhnya.
Reporter: Vega M. Ula
