Mencari Lawan bagi Sang Fenomenal, AJ Styles

Kalau kisah The Curious Case of Benjamin Button ada di dunia nyata, maka Allen Neal Jones adalah pemeran utamanya. Allen, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung AJ Styles, kini berusia 40 tahun. Namun di usia yang tak muda itulah, AJ makin menggila.
Tahun lalu, ia melewati tahun debut yang luar biasa. Di tahun perdananya di WWE, ia sudah bermain di acara paling besar yang diselenggarakan WWE, WrestleMania. Sementara tahun ini, pegulat yang dijuluki sebagai ‘Sang Fenomenal’ itu menikmati bulan demi bulan berkelahi dengan pegulat hebat di berbagai Pay-Per-View (PPV) yang ia lakoni pasca WrestleMania.
Di SmackDown Live! ia tak pernah absen dalam PPV bulanan yang diadakan oleh AJ. Ia telah mengisi main-event, melawan Kevin Owens dari Mei hingga Agustus. Baron Corbyn dari Agustus hingga Oktober. Terakhir, Jinder Mahal dari Oktober hingga PPV di SmackDown pada Desember ini, Clash of Champions.
Dalam ajang Survivor Series pada November lalu – satu-satunya PPV yang mempertemukan para kampiun dari SmackDown dan RAW – adalah AJ yang mewakili SmackDown untuk menghadapi ‘Si Buas’ Brock Lesnar yang jauh mentereng secara fisik. Meskipun pada akhirnya, AJ kalah, sebagaimana wakil-wakil SmackDown lainnya gagal membuat SmackDown menang atas RAW.
Bahkan, AJ juga pernah mengisi acara RAW. Meski tahun ini, ia merupakan bagian dari brand SmackDown, yang notabene merupakan B-Show milik WWE.
Ia mengisi acara Table Ladder Chairs (TLC) pada 22 Oktober kemarin. Lalu, mengisi Monday Night RAW sehari setelahnya. Dan sehari setelahnya lagi, ia mengisi acara SmackDown. Tentu saja, dalam tiga hari itu, ia melawan pegulat yang tak bisa dipandang remeh.
Ia menjadi lawan bagi Finn Balor, menggantikan Bray Wyatt yang absen sehari sebelum TLC. Sehari setelahnya, ia menggantikan Roman Reigns untuk melengkapi Seth Rollins dan Dean Ambrose sebagai trio The Shield yang berhadapan dengan The Miz, Sheamus dan Cesaro. Sementara esoknya, ia bermain dalam laga penting untuk menentukan gelar WWE Champions melawan Jinder Mahal.
Ya, kita takkan membahas soal siapa yang menang atau kalah, karena semua orang tahu, WWE ini merupakan kombinasi aneh antara sinetron dan gulat. Semua kemenangan dan kekalahan sudah ditahbiskan oleh Vince McMahon, bahkan sebelum bel tanda laga bermula berbunyi.
Hal menarik dari semua pencapaian AJ tahun ini adalah, kemampuannya untuk membuat laga gulat yang ia lakoni, siapa pun lawannya, menjadi wajib untuk ditunggu.
Kurt Angle, yang kini menjadi general manager RAW, sempat mengutarakan keinginannya untuk menculik AJ ke RAW dengan mengatakan bahwa sang pegulat tak semestinya berada di B-Show seperti SmackDown. Sementara Paul Heyman, yang merupakan juru bicara (atau Heyman lebih suka disebut, advocate) dari Brock Lesnar, menjuluki AJ sebagai pegulat yang underrated.
Sosok yang kini mempertahankan WWE Champions selama satu bulan 11 hari ini, tak hanya selalu berhasil menunjukkan bahwa ia memberikan segalanya dalam laga yang ia lakoni. Namun, juga membuat lawannya mengeluarkan upaya yang serupa dengannya. Heyman bahkan berani berpendapat bahwa AJ adalah kombinasi gila antara dua Hall-of-Famers WWE.
“Kamu bukan penggemar AJ, kamu tak perlu menonton WWE. Karena AJ tak hanya merupakan kombinasi antara Ric Flair dan Shawn Michaels di generasi ini. Namun ia telah mengaktualisasikan dan mengevolusikan gaya mereka untuk menjadi in-ring performer paling fenomenal,” ujar Heyman, setelah PPV Survivor Series pada November lalu.
Berbicara AJ, tentu saja, tak hanya berbicara tentang kemampuannya di atas ring. Ia juga, memiliki mic skill -kemampuan seorang pegulat menjual promonya melalui dialog– yang luar biasa. Setiap kalimat yang ia katakan, akan membuat penggemar WWE yang mendengarnya seperti ibu-ibu yang menangis, kesal, atau tertawa saat menyaksikan sinetron.
Itu semua, tak terlepas dari etos kerjanya. Ia tak ingin mengakui dirinya sebagai yang terbaik di dunia, tapi ia bangga dengan jalan hidupnya sebagai pegulat.
“Aku hanya ingin memberikan para penggemar apa yang ingin mereka saksikan. Pada akhirnya, mereka yang membayar untuk melihat itu (aksi gulat). Jadi, berikanlah apa yang mereka mau,” ujar AJ, sebagaimana dilansir Vulture Hound, Oktober lalu.
AJ, dengan cara seperti itu, berhasil mengubah dunia bohong di WWE itu menjadi nyata bagi penggemarnya.
***
Jelas WWE bukan satu-satunya label yang beruntung karena telah berhasil mengamankan jasanya. Dalam 15 tahun kariernya di dunia gulat, AJ telah lalang melintang di berbagai label dunia gulat. Mulai dari indie-wrestling Total Nonstop Action (TNA), Ring of Honor (ROH). Hingga gelaran besar di Jepang, New Japan Pro Wrestling (NJPW).
Semua brand itu ditinggalkan AJ dengan kesan yang sama: Di setiap tempat yang ia hingapi, AJ selalu mengakhiri kariernya dengan manis.
Pegulat yang lahir di Jacksonville, Carolina Utara, itu memulai debutnya pada 1998, di sebuah label lokal di Carolina. Dalam dokumenter AJ yang dirilis pada 2009, Phenomenal: The Best of AJ, AJ bercerita bahwa teman-temannya yang kemudian menuntunnya ke dunia gulat.
Hidup dengan kemiskinan dan ayah pemabuk, membuat AJ mencari pelarian. Gulat, pada akhirnya, tak hanya menjadi pelariannya. Uang yang ia dapatkan dari gulat dan sorak penonton, membuatnya memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya di Anderson University.
Dari gulat lokal di Jacksonville, bakatnya kemudian sampai ke pantauan WCW. Pada saat itu, WCW adalah pemain besar. WCW disandingkan dengan ECW dan WWF (yang kemudian berganti nama menjadi WWE). Tentu saja, bakatnya tak hanya sampai pada pantauan saja. WCW kemudian menawarkan kontrak kecil dari tahun 2000 hingga 2001.
AJ, tentu saja, menerima kontrak itu.
Di laga debutnya, AJ kalah. Namun, ia segera bangkit dari kekalahan itu. Beberapa minggu kemudian, kerja kerasnya terbayar. Ia telah hadir menjadi WCW Tag Team Champions untuk kelas bulu dan berhasil mempertahankan gelar ini untuk beberapa minggu. Namun, tak butuh waktu lama untuk memutar nasib AJ menjadi seperti yang tak ia inginkan.
AJ kemudian menyadari bahwa, masa-masa AJ di WCW, adalah masa yang sama kala brand ini mengalami pailit. Brand ini kemudian diselamatkan oleh Vince McMahon sehingga WCW kini menjadi bagian dari WWE. Sementara kontrak AJ sendiri diperpanjang hingga 2002. Namun, tak seperti di WCW, ia tak lagi mendapatkan peran besar. Ia harus terima bahwa ia menjadi jobber yang nasibnya kalah dengan pegulat sekelas The Hurricane atau Rico.
Ia dipaksa untuk ikut dalam pelatihan yang diberikan WWE, namun ia menolak. Ia keluar dan memutuskan untuk bertarung di jalur indi. Keputusan AJ ini kemudian disambut oleh ROH.
Ia ditawari kontrak oleh ROH dan diberi keleluasaan untuk mengatur gimmick tanpa halangan berarti. Dalam dua tahun, ia telah beradu dengan pegulat terbaik milik ROH seperti, Brian Danielson, Samoa Joe, dan tentu saja, CM Punk. Bertarung di satu ring dengan nama-nama seperti itu membuat kemampuannya terlatih. Begitu juga mic skill-nya yang terlatih karena CM Punk.
Di saat bersamaan, kala kariernya menanjak di ROH, kemampuan AJ kemudian membuat TNA kepincut dengan AJ. Uniknya, kedua brand ini tak mempermasalahkan jika AJ tak bekerja sebagai pegulat penuh waktu di brand mereka. Pada akhirnya, AJ bekerja di dua perusahaan ini.
Ia mendominasi di dua brand. Ia memenangkan ROH #1 Contenders Trophy dan memenangkan TNA X-Division Championship dan tiga gelar NWA di TNA. Selain itu, ia memenangkan gelar tag team di keduanya. Ia menikmati kariernya di indie-wrestling selama satu dekade. Selain itu, ada sejumlah brand gulat kecil yang ia manfaatkan untuk membuatnya menjadi pegulat yang lebih baik lagi.

Sebelum pada akhirnya hijrah ke Jepang pada 2014, ia menandatangani kontrak untuk bekerja dengan NJPW. NJPW sendiri, sempat menjadi tempat di mana pegulat seperti Brock Lesnar dan Kurt Angle, mengasah dirinya untuk menjadi yang terbaik. Alasan AJ ke mari: Jepang adalah negara dengan kultur gulat terbaik.
Faktanya, sangat sulit untuk menjadi gaijin – orang non Jepang – yang dicintai oleh penggemar gulat di Jepang. Yang membantunya mempelajari kultur Jepang adalah performanya yang gemilang. Di Jepang, ia kembali melawan pegulat terbaik. Ia berhadapan dengan Hiroshi Tanahashi dan Shinsuke Nakamura. Salah dua pegulat terbaik yang dimiliki Jepang.
Di Jepang, ia kemudian menjuarai IWGP Heavyweight Champions di laga debutnya. Yang membikin gelar ini spesial: AJ menjadi gaijin keenam yang berhasil memenangkan gelar prestisius ini. Berapa banyak yang mencoba? Ada 27 gaijin yang telah mencoba meraih titel ini. AJ menjadi pegulat asal Amerika kedua yang memenangkan gelar ini, setelah Brock Lesnar pada 2005 lalu.
Ia mendominasi Jepang dalam dua tahunnya itu. Ia tak hanya menjadi sang jawara, namun juga turut serta dalam stable – istilah untuk sebuah klub gulat yang didasari oleh kesamaan rasa – yang dinamai dengan Bullet Club. Ia meneruskan peran Prince Devitt (yang hijrah pada 2014 ke WWE, dan kini memiliki nama panggung Finn Balor) sebagai pemimpin Bullet Club dalam menunjukkan kebengisan yang selama ini sudah menjadi ciri khas Bullet Club.
Jerih payah yang ia bikin, pada akhirnya, menuntunnya kembali pada WWE.
Bagi AJ sendiri, tak ada yang lebih baik daripada bakatmu diakui. Makanya, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ini yang membuat AJ pada akhirnya mendapatkan puja-puji oleh figur besar di WWE seperti Paul Heyman dan Kurt Angle. Hingga dicintai oleh penggemar WWE saat ini.
“Saya, bekerja keras (dalam wawancaranya ia menggunakan istilah busted my tail) untuk waktu yang lama. Saya senang karena pada akhirnya saya makin dikenal dan bisa menjadi bagian dari WWE. Karena, akuilah, WWE adalah brand terbesar ketika kita berbicara tentang gulat. Saya gembira karena saya dikenal sebagai seorang yang bekerja keras,” pungkas AJ, sebagaimana dilansir ESPN pada 2016 lalu.
***
Tentu saja, masih ada sebuah tanda tanya besar bagi karier AJ.
Namun, pertanyaan ini lebih baik dijawab oleh WWE daripada AJ sendiri. AJ telah menjadi dua kali merebut gelar United States Champions dan dua WWE Champions. 2018 mendatang, ia akan memainkan perannya di perhelatan terbesar WWE, WrestleMania. Dengan segala pencapaian itu, kita tak perlu menyuruh AJ tetap bekerja keras. Ia akan melakukan itu tanpa kita suruh.
Pertanyaannya kini ada dua. Pertama, siapa lagi yang hendak disandingkan menjadi lawan AJ di PPV SmackDown berikutnya? Pasalnya, pasca kemenangan AJ atas Jinder Mahal, nama-nama musuh yang bisa dilawan oleh AJ sendiri kian menipis.
Mencari lawan untuk AJ menjadi kian sulit, karena kita tak hanya harus mencari sosok yang mampu memainkan gulat yang seru. Namun juga memiliki gimmick dan mic-skill yang meyakinkan, serta harus berada di brand SmackDown. Seorang yang mampu mengimbanginya sehingga laga tak berakhir satu arah.
Dengan pertimbangan itu, hanya ada tiga nama yang bisa dimasukkan dalam daftar ini. Pertama, Shinsuke Nakamura – yang sejak debutnya pada April lalu berhasil memenangkan penggemar WWE. Kedua, Randy Orton, yang telah dikenal kemampuan ring dan cakap-cakapnya. Ketiga, John Cena – sosok yang kini menjadi idola anak-anak itu. Keempat, Chris Jericho.
Nah, setelah memilih siapa lawannya, kita boleh memikirkan pertanyaan kedua. Bagaimana membangun alur cerita yang tak terkesan memaksa? Karena sejauh ini, AJ selalu memiliki alur cerita yang epik – yang membuat orang ngotot menyaksikan pertandingannya. Kedua pertanyaan ini, patut dijawab WWE bilamana mereka ingin AJ Styles tetap menjadi ladang uang bagi WWE dan SmackDown.
