Mendedah Belanda yang Sedang dalam Masalah

Belum ada perubahan sama sekali di kubu Tim Nasional Belanda sejak kegagalan mereka lolos ke Euro 2016 lalu. Apa-apa yang salah ketika itu belum dapat dibenahi sampai sekarang.
Ketika Belanda menjadi kekuatan dominan sepak bola pada dekade 1970-an dulu, orang menyebut timnas mereka dengan sebutan Clockwork Orange. Julukan itu tentu merujuk pada warna seragam mereka dan pergerakan para pemain yang seakan tak pernah berhenti. Ide totaal voetbal memang sudah semestinya begitu dijalankan.
Kini, Belanda masih menjadi Clockwork Orange. Hanya saja, maknanya berubah. Timnas Belanda saat ini bagaikan sekumpulan orang berbaju oranye yang mudah ditebak, seperti arah jarum jam.
Bulgaria menjadi tim terakhir yang mampu dengan mudah mengeksploitasi kelemahan itu. Pada laga kelima Kualifikasi Piala Dunia 2018 Grup A, mereka sukses memberi Belanda kekalahan kedua dan dengan kekalahan itu, peluang Belanda lolos ke Piala Dunia makin tipis saja.
Memang masih ada lima pertandingan lagi yang harus dijalani. Akan tetapi, situasinya saat ini adalah Belanda tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen, Prancis, dan tiga poin dari Swedia yang ada di posisi kedua. Selain itu, persis di atas mereka juga masih ada Bulgaria yang unggul dua poin.
Karl Marx suatu kali pernah menulis bahwa "history repeats itself, once as a tragedy, then as farce". Kegagalan Belanda kali ini, jika sampai terjadi lagi, bakal menjadi kesempatan terakhir agar narasi sejarah persepakbolaan mereka tak berubah jadi lelucon. Pasalnya, dulu mereka sudah pernah mengalami hal serupa.
Setelah menguasai sepak bola pada dekade 1970-an dengan totaal voetbal-nya, Belanda mendadak ambruk pada awal hingga pertengahan dekade 1980-an. Mereka memang sempat masuk ke putaran final Euro 1980, tetapi gagal lolos ke Piala Dunia 1982, Euro 1984, dan Piala Dunia 1986, sebelum kembali ke Euro tahun 1988 untuk menjadi juara.
Setelah itu, Belanda memang secara konsisten tampil di ajang antarnegara sampai tahun 2014 lalu. Pengecualian terjadi pada tahun 2002 lalu saat mereka gagal lolos ke Piala Dunia. Selebihnya, mereka baik-baik saja.
Namun, sejak mengejutkan dunia pada 2014 lalu, Belanda seperti kehilangan pegangan. Sejak ditinggal Louis van Gaal yang kemudian menjadi pesakitan di Manchester United, mereka justru kian terpuruk saja.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat mereka jadi seperti ini? Jawaban sederhananya, karena mereka adalah Belanda.
Sebagai entitas sepak bola yang memopulerkan sepak bola indah, mereka menganggap bahwa bermain defensif (atau pragmatis) itu adalah sebuah penistaan. Itulah mengapa, meski mampu menjadi runner-up dan juara ketiga di dua Piala Dunia berturut-turut dengan cara itu, Belanda tetap tidak terima.
Sepeninggal Van Gaal, mereka menunjuk kembali Guus Hiddink yang sebenarnya sudah tidak sehebat dulu lagi. Di tangah Hiddink, mereka mencoba untuk kembali ke identitas yang dulu membuat mereka besar. 3-5-2 milik Van Gaal dienyahkan dan 4-3-3 ala Johan Cruyff kembali digunakan.

Hasilnya? Nol besar. Mengapa? Karena Belanda melupakan dua hal yang saling berkaitan.
Pertama, Belanda lupa bahwa mereka bukan lagi satu-satunya negara yang mampu secara fasih memainkan sepak bola ala Belanda. Negara-negara seperti Spanyol dan Jerman justru mampu memainkan sepak bola ala Belanda lebih baik dibanding orang-orang Belanda sekalipun.
Kesulitan Belanda untuk memainkan sepak bola gaya mereka itu disebabkan oleh alasan kedua, yakni ketiadaan pemain-pemain yang mampu mengeksekusi cara bermain demikian seperti halnya di masa lampau. Sisa-sisanya memang masih ada. Arjen Robben dan Wesley Sneijder masih ada di antara 25 nama yang dipanggil Danny Blind untuk menghadapi Bulgaria. Namun, masa keemasan mereka sudah lewat.
Puncak performa Robben, Sneijder, dan juga Robin van Persie ada di Piala Dunia 2010 dan 2014 silam. Robben memang masih menakutkan bersama Bayern Muenchen, tetapi seiring dengan menurunnya Sneijder dan lenyapnya Van Persie, Robben pun harus memanggul tim sendirian di pundaknya. Di usia yang sudah 33 tahun, tentu hal itu bukan perkara mudah bagi sang winger.
Sialnya, hingga kini Robben dan Sneijder masih menjadi tumpuan karena mereka masih yang terbaik di Belanda. Adanya jurang antargenerasi ini juga yang menyebabkan keterpurukan Belanda di dekade 1980-an lalu.
Selepas era Johan Cruyff, Johnny Rep, Johan Neeskens, dan Rob Rensenbrink, butuh kira-kira sepuluh tahun bagi Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Ronald Koeman, dan Marco van Basten untuk benar-benar mencuat. Hal seperti ini kembali tampak di Timnas Belanda yang sekarang di mana tidak ada suksesor yang bisa langsung menerima tongkat estafet dari generasi Arjen Robben dan kawan-kawan.
Pada laga melawan Bulgaria, Danny Blind bahkan menurunkan bek berusia 17 tahun dari Ajax, Matthijs de Ligt. Padahal, mereka punya nama-nama yang sudah bertahun-tahun malang melintang di jagat persepakbolaan Eropa. Di skuat, masih ada nama Stefan de Vrij dan Joel Veltman. Celakalah Blind setelah De Ligt membuat kesalahan yang berujung satu gol ke gawang Jeroen Zoet.
Entah apa yang dipikirkan Blind. Entah apa yang membuat ayah Daley Blind itu tidak memilih De Vrij atau Veltman. Apakah menurutnya De Vrij dan Veltman tidak berkembang dengan cukup apik dan akhirnya jadi pemain yang biasa-biasa saja? Entah, tetapi hal demikian sangat sering terjadi di Belanda.
Memunculkan pemain-pemain berbakat adalah hal yang barangkali dilakukan jagat persepakbolaan Belanda setiap harinya. Belum mati satu, sudah tumbuh seribu. Namun, mereka-mereka yang tumbuh itu juga kerap sekali layu sebelum berkembang. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak contoh pemain Belanda yang mekar di usia muda, lalu menghilang di usia matang. Bahkan, pemain-pemain seperti Arjen Robben, Wesley Sneijder, Robin van Persie, Rafael van der Vaart, Dirk Kuyt, dan Nigel de Jong boleh dibilang merupakan pengecualian.
Menurut Henk Spaan, editor majalah Hardgras, permasalahan ini disebabkan oleh seringnya anak-anak muda Belanda hijrah ke negara lain di usia yang sangat muda. Padahal, pemain-pemain Belanda yang sukses besar biasanya pindah ke negara lain saat usia mereka sudah memasuki pertengahan 20-an. Spaan merujuk pada pemain-pemain seperti Dennis Bergkamp dan Ruud Gullit.
Para pemain muda Belanda sekarang kebanyakan meniru jejak Robben, Van Persie, Sneijder, De Jong, dan Van der Vaart yang hijrah di usia awal 20-an. Padahal, tidak semua dari mereka punya kemampuan dan kematangan yang dimiliki pemain-pemain tersebut. Ryan Babel, Ibrahim Afellay, dan Eljero Elia tentu bisa menjadi contoh. Karena itulah, banyak talenta Belanda yang terbuang sia-sia.
Godaan sepak bola modern memang sulit untuk ditolak bakat-bakat muda tersebut. Ketika rumput di pekarangan tetangga lebih hijau, susah untuk tidak tergiur. Klub-klub Belanda memang tidak mampu bersaing secara sumberdaya, bahkan dengan klub-klub Italia yang di atas kertas juga tidak terlalu kaya.
Nah, soal sumberdaya ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh minimnya pelatih berkualitas di Belanda sana. Jika Italia punya Antonio Conte, bintang 90-an yang sukses di negeri sendiri dan negeri orang, misalnya, Belanda tidak. Barangkali, pelatih Belanda tersukses saat ini hanyalah Ronald Koeman. Kelasnya pun hanya Everton, tim medioker Premier League.
Ketika kita bicara soal sepak bola, semuanya adalah fenomena gunung es. Kalau yang terbaik saja hanya sekelas Koeman, bagaimana dengan mereka yang mengurusi bocah-bocah di dalam negeri sana? Dalam hal memproduksi pelatih pun ternyata ada jurang antargenerasi yang lebar di Belanda. Setelah era Van Gaal, Hiddink, dan Leo Beenhakker, memang ada nama Bert van Marwijk. Akan tetapi, setelah Van Marwijk, pelatih terbaik Belanda langsung melompat ke tangan Koeman. Padahal, jarak usia Van Marwijk dan Koeman adalah 11 tahun. Lagi-lagi, jaraknya satu dekade.

Dengan situasi yang seperti ini, Belanda sebenarnya masih bisa mengakali keadaan. Kalau Islandia dan Wales saja bisa tampil apik di Euro 2016 lalu, mengapa mereka tidak?
Kuncinya sebetulnya hanya satu. Jangan terlalu saklek.
Tetapi, entahlah. Masalahnya, seperti yang juga ditulis penulis buku Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football, David Winner, di FourFourTwo, sifat orang Belanda saat ini sudah tidak seperti dulu lagi.
Jika totaal voetbal muncul karena dipengaruhi pemikiran-pemikiran kiri, di mana kesetaraan dan kolektivitas jadi acuan, tidak dengan zaman sekarang. Belanda mungkin bukan satu-satunya, tetapi mereka adalah salah satu negara yang paling menonjol gerakan sayap kanannya, walau akhirnya kalah juga di Pemilihan Umum. Dengan masyarakat yang kembali kaku seperti sebelum gerakan Provo 1965*, Belanda terancam kehilangan ke-Belanda-an yang selama ini mereka bangga-banggakan.
Patut dicatat bahwa ketika Belanda masih menjadi negara yang membosankan, seperti kata Albert Camus dalam La Chute, mereka tidak pernah lolos turnamen sepak bola apapun. Sejak 1950 sampai 1974, mereka tidak pernah sekali pun turut serta di Piala Dunia dan Piala Eropa. Itulah wujud Belanda yang membosankan. Belanda yang kaku. Belanda yang sudah lama hilang tetapi perlahan muncul kembali.
Memainkan totaal voetbal dengan pemain-pemain Belanda yang sekarang memang tidak masuk akal. Namun, tidak halnya dengan permainan sepak bola kolektif yang ditunjukkan Van Gaal pada Piala Dunia 2014 lalu. Kalau memang Belanda mau, mereka bisa saja berkompromi dan tidak terjebak dengan memori kejayaan masa lalu seperti, ehm, Adolf Hitler.
*) Provo adalah sebuah gerakan berbasis non-kekerasan dari kaum anarkis Belanda. Tujuan utamanya adalah untuk menggugat represi negara yang dianggap normal.
