Mendengarkan Jordi Alba yang Sedang Mengeluh Soal Barcelona

Menjadi seorang Jordi Alba itu menyenangkan. Sudah parasnya menyerupai aktor Hollywood, jago bermain bola, main di Barcelona pula. Tetapi, itu semua tak menghalangi sang bek kiri untuk berkeluh kesah.
Kepada jaringan televisi Movistar+, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-28 kemarin (21/3), Alba mengatakan bahwa dia merasa bahwa di tim nasional, pelatih Julen Lopetegui menaruh kepercayaan besar kepadanya. Hal itu, lanjut Alba, tidak dia rasakan di Barcelona.
"Datang ke sini dan mendapat kepercayaan penuh dari Julen [Lopetegui] memberiku kekuatan. Dia menanyakan apa yang biasanya kulakukan di tim nasional dan di Barcelona dalam beberapa tahun terakhir. Kupikir, si bos dan tim teknisnya memberiku kepercayaan 100%," ungkap Alba.
Posisi Jordi Alba di Barcelona memang sedang terancam. Sudah enam pertandingan dia tidak diturunkan Luis Enrique. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan formasi dasar yang digunakan sang pelatih.
Sudah sejak zaman baheula Barcelona menggunakan formasi 4-3-3. Bagi tim asal Catalunya itu, formasi 4-3-3 bukan sekadar cara bermain sepak bola. Lebih dari itu, ia adalah identitas.
Formasi itu, dengan segitiga-segitiga imajiner yang memudahkan penerapan permainan posisi, selama ini sudah menjadi segala sumber kejayaan Barcelona. Puncaknya, tentu saja, adalah ketika Pep Guardiola mengomando mereka.
Namun, Luis Enrique pada dasarnya memang lebih pragmatis dibanding Guardiola. Sejak awal pun dia sudah menancapkan ciri khas yang berbeda dari pendahulunya itu. Jika Guardiola memilih untuk menyerang lewat tengah, area sayap jadi favorit Enrique.

Dengan begini, seharusnya Jordi Alba yang berposisi sebagai full-back kiri pun mendapat porsi yang besar di skema permainan Enrique. Bahkan, menurut data dari WhoScored, sisi kiri adalah sisi dominan penyerangan Barcelona musim ini dengan persentase 37%.
Semuanya tampak baik-baik saja sampai 11 Februari 2017 lalu ketika Barcelona menghajar calon lawan mereka di final Copa del Rey, Deportivo Alaves, dengan skor telak 6-0. Namun, tiga hari berselang, semuanya berubah.
Entah apa yang terjadi malam itu di Parc des Princes sampai Barcelona luluh lantak dihajar Paris Ssaint-Germain 0-4. Mereka seperti tiba-tiba saja berubah menjadi Levante, Bologna, atau kembaran mereka dari Ekuador. Padahal, pada awalnya semua terlihat baik-baik saja. Bahkan, mereka sudah memaksa jangkar tim tuan rumah, Adrien Rabiot, untuk menerima kartu kuning pada menit ketiga.
Baru ketika Angel di Maria mencetak gol tendangan bebas pada menit ke-18, Barcelona ambles. Malam itu, tidak ada ampun bagi mereka.
Kekalahan itu boleh jadi merupakan penampilan terburuk Barcelona sejak dihajar Bayern Muenchen lewat agregat 1-7 pada semifinal Liga Champions 2012/13. Faktanya adalah semua pemain Barcelona, termasuk Lionel Messi yang sempat dikolongi Rabiot, tampil buruk. Namun, entah mengapa Luis Enrique kemudian justru mengorbankan Jordi Alba ketika di laga berikut dia tak lagi memainkan mantan pemain Valencia itu.
Di laga berikut melawan Leganes, Barcelona memang menang. Namun, mereka tampil luar biasa buruk dan butuh tendangan penalti Lionel Messi di pengujung laga untuk meraup tiga poin. Pada laga itu, posisi Jordi Alba digantikan oleh Lucas Digne.
Perubahan besar-besaran baru dilakukan Enrique ketika menghadapi Atletico Madrid pada 26 Februari 2017 silam. Jika ketika melawan Leganes formasi 4-3-3 masih digunakan, sejak melawan Atletico hingga 19 Maret 2017 lalu ketika menang melawan Valencia, Enrique punya formasi andalan baru: 3-4-3. Sejak itu pun, Barcelona kembali tampil meyakinkan, termasuk ketika menang (secara kontroversial) 6-1 atas PSG untuk membalikkan keadaan.
Di formasi baru ini, Jordi Alba tak masuk rencana. Di sini, Enrique memainkan tiga bek sentral di mana pos bek sentral-kiri selalu dihuni pemain kidal, Jeremy Mathieu dan Samuel Umtiti. Kemudian, di tengah ada Sergio Busquets, Andres Iniesta, Sergi Roberto, dan Lionel Messi. Terakhir, di lini depan Rafael Alcantara (Rafinha), Neymar Junior, dan Luis Suarez menjadi tumpuan.
Formasi ini sendiri sangatlah fleksibel. Ketika menyerang, Barcelona bisa menggunakan enam pemain sekaligus: Roberto, Iniesta, Rafinha, Messi, Neymar, dan Suarez. Dengan keberadaan mereka, area half-space yang sering menjadi blind area bagi tim lawan menjadi mudah dieksploitasi. Biasanya, Iniesta menyerang sisi kiri, Roberto dan Rafinha menghajar sisi kanan, sementara Messi diberi keleluasaan lebih.

Kemudian, ketika bertahan pun formasi ini juga lebih fleksibel. Sergi Roberto yang piawai bermain sebagai full-back kanan akan turun ke bawah. Sementara itu, Gerard Pique dan Javier Mascherano menjadi duo bek tengah. Terakhir, entah itu Umtiti atau Mathieu menjadi full-back kiri. Ketika bertahan, formasi berubah menjadi 4-4-2, atau 4-1-3-2 jika Busquets mau dipisahkan dari para gelandang lainnya.
Dengan logika demikian, Jordi Alba memang tak mendapat tempat. Di sisi lain, Samuel Umtiti mencuat. Ketika bertahan, Umtiti harus diakui memang lebih tangguh ketimbang Alba. Sementara itu, siapalah Jordi Alba kalau dibandingkan dengan Andres Iniesta dan Neymar Junior?
Formasi 3-4-3- a la Enrique ini membuat transisi tim menjadi lebih halus. Jalur umpan menjadi lebih banyak dan keterhubungan antarpemain juga menjadi lebih lancar. Di sini, stereotip klasik untuk full-back menimpa Alba.
Stereotip klasik yang dimaksud adalah bahwa seorang full-back adalah pemain yang serba tanggung. Tidak cukup berteknik bermain di tengah atau depan serta tidak cukup tangguh untuk bermain sebagai bek tengah.
Walau stereotip itu sudah mampu digerus, faktanya tetap: Jordi Alba bukan Andres Iniesta, bukan pula Samuel Umtiti. Bukan berarti Jordi Alba bukan pemain yang buruk. Hanya saja, cara bermain 3-4-3 milik Enrique memang tidak mengakomodasi pemain sepertinya.
Namun, Alba sendiri dalam wawancara tersebut juga berbicara bahwa dia merasa mampu bermain di formasi tiga bek. "Kelebihan utamaku adalah soal naik-turun di area sayap. Selama ini, itulah yang membuatku bisa bermain di Barcelona dan tim nasional," ujarnya.
Jika, katakanlah, Alba sampai hengkang, kerugian besar tentu akan ada di pihak Barcelona. Pasalnya, di musim depan nanti Enrique takkan lagi menangani mereka dan belum tentu suksesornya juga akan menggunakan formasi 3-4-3. Alba pun rasanya tidak mau pindah dari klub tempatnya menuntut ilmu ini. Kalau sudah begini, barangkali satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menunggu sampai Enrique angkat kaki dari Camp Nou.
