Mengapa Cristiano Ronaldo Belakangan Ini Mandul?

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ada apa, sih, dengan Ronaldo? (Foto: Josep Lago/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Ada apa, sih, dengan Ronaldo? (Foto: Josep Lago/AFP)

Selasa (24/10/2017) lalu, Cristiano Ronaldo menyabet penghargaan Pemain Terbaik Pria pada The Best FIFA Football Awards 2017. Melihat apa yang dilakukan Ronaldo sepanjang 2017, tak salah jika ia mendapatkan penghargaan tersebut.

Seperti yang dicatat oleh Opta, pada musim lalu, Ronaldo membukukan 42 gol di semua ajang yang ia ikuti. Selain gol, pemain berpaspor Portugal tersebut juga berkontribusi atas 11 assist yang ia bukukan untuk gol-gol rekan setimnya.

Gelar tersebut tidak hanya dilimpahkan kepada Ronaldo lewat gol-gol yang ia cetak. Bagi sebagian pemilih, alasan lain mereka menyoblos pemain Real Madrid tersebut dikarenakan kontribusinya yang berujung dua gelar bergengsi: Liga Champions dan La Liga.

Apa yang didapatkan oleh Ronaldo dianggap jauh lebih besar ketimbang dua seterunya pada ajang tersebut: Lionel Messi dan Neymar. Kendati Messi mencetak gol lebih banyak dan Neymar menciptakan assist lebih sering, gelar juara Liga Champions dan La Liga yang didapatkan oleh Ronaldo dianggap membuatnya lebih pantas menerima penghargaan tersebut.

Belum ada seminggu sejak menerima penghargaan Pemain Terbaik Pria The Best FIFA Football Awards 2017, Ronaldo dihujani kritik. Alasannya, ketajaman Ronaldo di depan gawang lawan —terutama bagi Madrid—mulai terlihat menukik.

Pernyataan orang-orang tersebut sebenarnya tidak salah sama sekali. Melihat lima pertandingan terakhir yang dilakoni oleh Ronaldo untuk Madrid di semua ajang, ia hanya mampu berkontribusi lewat dua gol atau 0,4 gol per pertandingan.

Catatan buruk Ronaldo tak hanya berhenti pada angka tersebut, dalam enam pertandingan La Liga yang ia mainkan sejauh ini, ia hanya mampu mencetak satu gol. Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa masa Ronaldo tengah menurun.

Catatan tersebut jelas rasio yang buruk bagi pemain seperti Ronaldo. Pasalnya, seperti yang kita tahu, sebelum periode tersebut, Ronaldo terbilang cukup tajam. Total 31 gol ia torehkan hanya dalam 33 kali pertandingan atau 0,9 gol per pertandingan.

Pelatih Madrid, Zinedine Zidane, telah membaca situasi ini sebelumnya. Pada awal Oktober 2017 lalu, Zidane membela anak asuhnya dengan berkata bahwa, “Dia hanya sekedar melewatkan banyak pertandingan (pada awal musim).”

embed from external kumparan

Melihat beberapa pertandingan terakhir yang dilakoni oleh Ronaldo untuk Madrid, tampak beberapa alasan yang membuat keran golnya tersumbat. Pertama, akurasi sepakannya yang begitu buruk; kedua, pergerakan tanpa bolanya yang sudah jauh menurun; ketiga, minimnya pasokan umpan kepadanya.

Untuk permasalahan pertama, ini memang menjadi persoalan laten yang begitu tampak musim ini. Betapa tidak, hingga enam pertandingan yang dimainkan, ia sudah melepaskan 39 percobaan ke gawang lawan.

Masalahnya, dari 39 percobaan tersebut, hanya ada satu gol yang mampu Ronaldo ciptakan dan membuatnya hanya memiliki akurasi tembakan sebesar 39%. Meski demikian, catatan tersebut tidak bergerak sendiri.

Alasan utama akurasi Ronaldo begitu buruk adalah maksimalnya penjagaan lawan kepadanya. Tiga pertandingan di mana akurasi percobaan Ronaldo begitu buruk—ketika menghadapi Real Betis, Espanyol, dan Alaves—terjadi akibat penjagaan rapat lawan kepadanya dan membuatnya kesulitan menemukan ruang untuk melakukan percobaan.

Untuk alasan pergerakan tanpa bola, Ronaldo memang mengalami penurunan yang tajam. Pergerakan-pergerakan diagonalnya di kotak penalti hingga tipuan-tipuan untuk mencari celah kepada lawan cukup minim ia lakukan musim ini.

Seperti alasan yang pertama, untuk kasus ini, fisik Ronaldo yang tak sekuat dulu mungkin jadi penyebabnya. Meski demikian, melihat pertandingan melawan Girona,akhir pekan lalu, bisa jadi asumsi tersebut benar adanya.

Dalam beberapa momen pada pertandingan tersebut, Ronaldo lebih sering menahan pergerakannya. Misalnya, pada menit 2:26 di video di bawah ini bisa jadi contoh bagaimana Ronaldo memilih untuk menahan pergerakannya:

video youtube embed

Agak aneh melihat Ronaldo memilih diam dalam posisi tersebut. Pasalnya, pada beberapa momen serupa, ia kerap memilih untuk masuk ke kotak penalti lawan atau jika tidak, memberi umpan terobosan agar diselesaikan rekan setimnya.

Persoalan ketiga tak kalah membuat ketajaman Ronaldo menurun. Dalam tiga laga terakhir yang dilakoni di semua ajang, Ronaldo tercatat hanya menerima 37 bola dari rekan setimnya. Angka tersebut jauh lebih rendah dari catatannya musim lalu, di mana ia menerima rata-rata 45 umpan.

Banyak alasan mengapa hal tersebut. Salah satu di antaranya adalah gaya bermain rekan setimnya, seperti Isco Alarcon dan Marco Asensio yang kerap memilih untuk menyelesaikan peluang ketimbang memberi umpan.

Kondisi-kondisi tersebut bisa jadi adalah alasan mengapa keran gol Ronaldo sejauh ini macet. Ada beberapa momen di mana ia tidak bisa benar-benar disalahkan, seperti faktor lawan, tapi ada juga momen yang menuntutnya untuk berkembang, seperti kondisi fisik yang membuatnya harus lebih pintar bergerak.

Masalah ini bisa jadi hanya sementara, tapi di sisi lain, ini seakan menunjukkan bahwa momen senjakala Ronaldo telah dimulai.