Mengenal Lebih Jauh Bocah Ajaib dari Hasselt, Max Verstappen

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Oh, ya? Masa, sih?
Max Emilian Verstappen. Jika dilihat dari sisi pekerjaan, Verstappen memang tidak jauh-jauh dari ayahnya, Jos. Keduanya sama-sama memiliki profesi sebagai driver jet darat alias pebalap Formula 1.
Tapi, untuk konteks yang lain, dalam hal ini prestasi, Max dan Jos berbeda jauh. Sang ayah, yang membalap di dunia F1 dari 1994 hingga 2003, lebih sering membalap untuk tim-tim papan tengah dan semenjana seperti Arrows dan Minardi. Cerita berbeda justru dituliskan oleh keturunannya.
Max Verstappen, lahir pada 30 September 1997, ketika Jos menjadi bagian dari tim Tyrell. Tahun itu, tak satu poin pun diberikan Jos untuk Tyrell. Tapi, sang anak mampu melampaui pencapaian sang ayah.
Dalam dua musim membalap di F1, ia sudah 7 kali naik podium dan 1 kali menjadi juara. Pencapaian itu jauh lebih baik dari sang ayah yang, dalam sembilan tahun kariernya di F1, hanya 2 kali naik podium.
Tentu, catatan yang mencengangkan darinya adalah ketika dia menjadi juara di GP Spanyol, 15 Mei 2016. Dengan pencapain itu, ia tercatat sebagai juara seri F1 termuda dengan 18 tahun 228 hari.
***
Minggu itu tak ada yang menyangka seri balapan Formula 1 di Sirkuit de Catalunya, Spanyol, pencinta balapan F1 akan dibuat terkagum. Bukan karena pertarungan dari duo Mercedes, Lewis Hamilton dan Nico Rosberg —terlebih karena Hamilton sukses menempati pole dan Rosberg berada di urutan kedua— melainkan karena Verstappen.
Pencinta F1 tahu bahwa Rosberg ingin terus melanjutkan dominasinya setelah meraih empat kemenangan di empat seri sebelumnya. Sementara itu, Hamilton yang meraih pole di seri kali ini diprediksi akan memaksimalkan balapan dan berusaha mengakhiri rentetan kemenangan sang rekan setim.
Persaingan sengit antara duo Mercedes itu berbuah petaka. Ketika Hamilton berusaha menyalip Rosberg, ia melintir keluar lintasan dan pada akhirnya mengenai Rosberg. Akhirnya, kedua pebalap Mercedes itu tidak ada yang menyelesaikan balapan. Crash di tengah jalan. Insiden tabrakan sesama Mercedes itu memberi berkah bagi Daniel Ricciardo dan Verstappen. Keduanya melaju kencang di posisi terdepan. Setelah pada putaran ke-43, posisi Ricciardo melorot secara drastis. Giliran Verstappen menguasai arena. Verstappen sukses mempertahankan urutan terdepan dari kejaran Kimi Raikonen hingga garis akhir. Verstappen unggul 0,616 detik atas pebalap asal Finlandia tersebut.
Sejarah pun tercipta.
Dan sejarah itu tidak tercipta dalam semalam. Tidak pula dalam satu pembalikan telapak tangan.

Verstappen, yang memang memiliki darah pebalap di urat nadinya, mengawali karier membalapnya sejak dini. Selain Jos yang dulu adalah pebalap F1, ibunya yang orang Belgia, Sophie Kumpen, dulunya adalah mantan pebalap KART.
Lahir di Hasselt, bagian timur Belgia, di mana komunitas Flemish (orang-orang Flanders, orang-orang Belgia yang berbicara bahasa Belanda) bernaung, Verstappen sudah bersinggungan dengan dunia karting sejak usia 4 tahun.
Sebagai sebuah kota kecil, Hasselt tidak berisik dengan deru mesin mobil dan klakson yang memekakkan telinga —walau bukan berarti bebas dari mobil sama sekali. Tapi, dari kota yang tenang dan penuh dengan gedung-gedung tua itulah Verstappen memulai ceritanya sebelum terjun ke dunia yang penuh bising mesin.
Usai menjejaki dunia karting di usia yang masih amat belia, ia terus melatih kemampuannya untuk menjadi pebalap. Terbukti, di usia 9 tahun ia berhasil memenangi kejuaraan nasional Rotax Max Minimax di Belgia tahun 2006.
Gelar demi gelar berhasil ia capai. Sampai kemudian mendapatkan kursi di FIA European Formula 3 Championship tahun 2014. Di musim pertamanya balapan di open wheeler, Max menduduki peringkat 3 klasemen di belakang juara Esteban Ocon dan runner up Tom Blomqvist.
Sisanya adalah sejarah. Kemampuannya membuat Red Bull tertarik dan menariknya dari Toro Rosso ketika musim 2016 belum separuh jalan berlangsung.
Seluruh kerja kerasnya sejak masih kecil, hingga akhirnya bisa menjadi pebalap profesional telah membuat Verstappen menjadi pebalap yang kompetitif. Oleh karenanya, jangan heran jika Anda pernah mendengarnya protes kepada para staf Red Bull lewat radio tim.
“Aku menyetir seperti nenek-nenek.”
Ucapan bernada setengah kesal itu keluar di GP Hongaria 2016 ketika ia merasa terpaksa melambatkan mobilnya karena tertahan di belakang rekan setimnya sendiri, Ricciardo. Secara tersirat, Verstappen juga seakan mengatakan bahwa ia lebih cepat daripada Ricciardo.
Rasa percaya diri Verstappen, di usianya masih terbilang belia untuk ukuran pebalap profesional, adalah bensin sekaligus nyawanya di atas lintasan. Tidak mengherankan kemudian jika ia berani mengeluarkan manuver-manuver berisiko.
Jangan heran juga jika baru-baru ini mengatakan bahwa tahun 2017 tidak akan lagi jadi tahun pembelajaran untuknya.
“Setelah dua tahun membalap di Formula 1, saya tidak bisa bilang bahwa saya masih belajar,” kata Verstappen seperti dilansir Planet F1.
Artinya, sudah siap untuk bersaing di perebutan gelar juara? Hmmm…
