Mengenang Silverstone Lewat 5 Momen Bersejarah

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sirkuit Silverstone (Foto: Clive Mason)
zoom-in-whitePerbesar
Sirkuit Silverstone (Foto: Clive Mason)

Para penggemar Formula One (F1) boleh saja merasa mulai cemas. Pasalnya, ajang balap mobil single-seater terakbar di dunia itu terancam kehilangan salah satu sirkuit ikoniknya, Silverstone. Sirkuit yang terletak di Northamptonshire dan Buckinghamshire, Inggris, ini telah menjadi tuan rumah gelaran F1 sejak pertama kali dihelat pada 1950. Meski pada kurun waktu 1955-1986 ia harus bergiliran dengan Aintree dan Brands Hatch untuk menjadi tuan rumah F1, sejak 1987 hingga kini, tak pernah sekali pun Grand Prix Britania berpindah lokasi. Sejarah panjang inilah yang membuat Silverstone tak hanya menjadi landmark balap mobil Britania Raya, tetapi juga dunia.

Baru-baru ini, British Racing Drivers' Club (BRDC) sebagai pemilik Silverstone melontarkan wacana untuk menghentikan kontrak kerjasama F1 dan Silverstone setelah GP Inggris 2019. Padahal, kontrak awal dua pihak ini menyebutkan bahwa Silverstone akan terus menjadi tuan rumah gelaran GP Britania hingga 2026 mendatang.

Munculnya wacana ini, menurut rilis resmi BRDC seperti dilansir Telegraph, disebabkan oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menggelar balapan tiap tahunnya. Biaya yang mencapai angka 2 juta poundsterling tiap balapan sulit ditutup bahkan dengan pemasukan tiket yang terjual hingga 139.000 lembar. Jika memang akhirnya BRDC memutuskan untuk benar-benar mengakhiri kerjasama tersebut, maka segala hal tentang kebesaran sirkuit ini hanya akan jadi kenangan.

Untuk itu, kumparan ingin mengajak Anda untuk sedikit bernostalgia dan melongok kembali 5 momen bersejarah yang pernah tercipta di sirkuit sepanjang 5.891 km ini.

Ketika Semua Berawal (1950)

Tanggal 13 Mei 1950 merupakan hari bersejarah bagi Silverstone. Pada hari itu, ajang balap F1 untuk pertama kalinya mampir ke sirkuit tersebut.

Grand Prix perdana tersebut menyedot animo khalayak ramai. Para anggota keluarga Kerajaan Inggris pun tak luput dari mereka yang penasaran. Raja George VI beserta dua putrinya, Elizabeth dan Margaret, tercatat turut hadir pada gelaran tersebut.

Balapan yang berlangsung selama 70 lap itu dimenangi oleh Giuseppe Farina dari tim Alfa Romeo yang mengawali balapan dari pole position. Pria kelahiran Turin itu membutuhkan waktu 2 jam 13 menit dan 23,6 detik dengan kecepatan rata-rata 146.378 km/jam.

Petaka Jody Sheckter (1973)

Pada 1973, sirkuit Silverstone menjadi saksi bisu salah satu kecelakaan paling dahsyat dalam sejarah F1. Insiden tersebut dipicu oleh kecelakaan tunggal yang dialami Jody Sheckter. Ketika akan melewati di tikungan terakhir (Woodcote) di lap pertama, pebalap tim McLaren asal Afrika Selatan itu menabrak pagar pembatas lalu memantul kembali ke dalam trek. Meski terlihat seperti kecelakaan tunggal biasa, tetapi posisi mobil Sheckter ketika kembali ke trek kemudian menyebabkan kecelakaan beruntun yang melibatkan 11 mobil.

Meski tidak ada korban tewas, Andrea de Adamich harus mengakhiri kariernya akibat kecelakaan tersebut. Sementara itu, Scheckter dikenai sanksi larangan tampil di empat balapan.

Amuk McLaren atas Schumacher (1998)

Michael Schumacher boleh jadi pebalap F1 dengan koleksi gelar juara dunia terbanyak, tetapi kemenangan Schumi -- sapaan akrab Schumacher -- di Silverstone pada tahun 1998 jadi titik hitam kecil di kariernya yang gemilang. Bagaimana tidak? Ketika itu, Schumi memang berhasil mengakhiri balapan di urutan pertama, tetapi kemenangan itu tidak dia dapatkan di trek, melainkan di pit lane!

Schumacher dan Coulthard di Silverstone 1998. (Foto: Steve Gregory/Wikimedia)
zoom-in-whitePerbesar
Schumacher dan Coulthard di Silverstone 1998. (Foto: Steve Gregory/Wikimedia)

Hal itu terjadi karena pada lap terakhir balapan, dia baru menyadari bahwa hukuman stop-and-go (masuk ke tempat pit-stop dan menunggu 3 lap) telah dijatuhkan kepadanya sejak lap ke-43 lantaran menyalip Alexander Wurz yang tengah dikawal safety car. Pada lap terakhir (60), Schumi memasuki pit lane untuk menjalani hukuman tersebut. Akan tetapi, sebelum mencapai tempat pit box, dia terlebih dahulu melewati garis finis dan dinyatakan sebagai pemenang balapan.

Tentu hal tersebut memicu protes keras dari McLaren yang finis di posisi kedua. Sementara itu, Ferrari membela diri dengan penalti yang dijatuhkan sudah terlambat untuk disahkan. Kemenangan pun tetap diberikan kepada Schumacher dan dengan ini, dia menjadi satu-satunya pembalap yang menang di pit lane.

Karma Schumacher? (1999)

Semusim usai kemenangan yang memicu polemik, Schumacher kembali menjadi perbincangan. Namun, kali ini dia tidak diperbincangkan karena kemenangannya, melainkan karena insiden yang dia alami.

Pada musim balap 1999, kerusakan rem yang dialami Schumacher membuat mobilnya melaju lurus menabrak pembatas dengan kecepatan tinggi. Ia mengalami patah kaki dan harus absen selama tiga bulan. Enam balapan kemudian, dia baru bisa kembali berlaga, tepatnya di GP Sepang. Gelar juara pun harus rela dia lepas ke rival beratnya, Mika Hakkinen.

Aksi Nekat Seorang Pastur (2003)

Kejadian menarik terakhir terjadi di GP Inggris 2003. Seorang pria dengan kilt yang merupakan pakaian tradisional Skotlandia memasuki trek dengan membawa spanduk bertuliskan kata-kata religius. Pria yang diketahui berprofesi sebagai pastur itu bernama Cornelius "Neil" Horan.

Horan berlari di Hangar Straight, salah satu bagian trek yang memungkinkan para pebalap untuk menggenjot mobilnya dengan rata-rata kecepatan 280 km/jam. Aksinya kemudiian berakhir ketika Stephen Green, salah satu marshal, menjatuhkan dan menyeretnya keluar dari arena balap. Akibat kejadian tersebut, dia dijatuhi hukuman dua bulan penjara.