Menggoyahkan Bill Belichick dan Pragmatismenya

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelatih Patriots, Bill Belichick. (Foto: USA Today via Reuters/David Butler II)
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Patriots, Bill Belichick. (Foto: USA Today via Reuters/David Butler II)

Orang-orang menyebutnya Philly Special. Secara sederhana, Philly Special berarti sesuatu yang khas Philadelphia dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Philadelphia.

Doug Pederson jelas bukan orang Philadelphia. Jangankan Philadelphia, orang Pantai Timur saja dia bukan. Sebaliknya, Pederson lahir dan besar di ujung barat Amerika Serikat (AS), tepatnya di negara bagian Washington. Namun, dengan keberhasilan timnya, Philadelphia Eagles, mengeksekusi Philly Special pada pengujung babak pertama Super Bowl LII, rasanya tak ada orang yang lebih berhak jadi orang Philadelphia ketimbang Pederson.

Pederson dipercaya menjadi pelatih kepala Eagles pada 2016 lalu dan ini adalah pengalaman pertamanya sebagai pelatih kepala. Sejak pensiun sebagai pemain pada 2004 bersama Green Bay Packers, Pederson lebih banyak berkecimpung sebagai anggota staf kepelatihan, termasuk di Eagles pada 2009 s/d 2012. Walau begitu, dia bukannya sama sekali tak pernah menjadi pelatih kepala. Antara 2005-2008, Pederson sempat dipercaya menjadi pelatih kepala Calvary Baptist Academy.

Bahwa Pederson pada akhirnya bakal menjadi pahlawan di Philadelphia, tak banyak orang yang mengira. Dia sebelumnya memang sempat memperkuat Eagles, tetapi hal itu hanya dilakukannya selama semusim, yakni pada 1999. Pada musim itu, Pederson menjadi quarterback andalan Andy Reid, sosok yang membimbingnya kala bermain untuk Packers pada 1997 s/d 1998.

Namun, secara umum karier Pederson sebagai pemain lebih banyak dia habiskan bersama Packers. Bersama tim asal Florida inilah dia merengkuh cincin Super Bowl semata wayangnya sebagai pemain. Yang menarik, trofi Super Bowl itu diraih Pederson dengan mengalahkan New England Patriots asuhan Bill Belichick.

Pada Senin (5/2/2018) pagi WIB, keberhasilan sebagai pemain itu diulangi Pederson sebagai pelatih. Lawannya masih sama: Patriots-nya Belichick. Kemenangan ini pun mengantarkan cincin juara perdana sebagai pelatih ke jemari Pederson, juga ke jemari seluruh rakyat Philadelphia.

Dalam pertandingan tersebut, Pederson memang membuktikan diri sebagai antitesis Belichick. Salah satu buktinya adalah trick play Philly Special itu tadi.

Ketika itu, babak pertama tinggal menyisakan 38 detik dan Eagles sedang unggul tiga angka atas Patriots. Namun, mereka punya kans untuk memperlebar keunggulan menjadi sepuluh angka.

Dengan tenang, Pederson memerintahkan anak-anak asuhnya untuk mengeksekusi Philly Special. Di situ, quarterback Eagles, Nick Foles, justru tidak difungsikan sebagai quarterback, melainkan receiver di end zone Patriots. Ketika bola di-snap, Foles langsung berlari mengitari kerumunan lewat sisi kanan. Sementara itu, bola justru berada di tangan Trey Burton.

Oleh Burton, bola pun dilempar ke tempat Foles berada dan menariknya, di sisi kanan end zone itu, Foles berdiri sendirian. Tak ada satu pemain Patriots pun yang menjaganya, semata-mata karena Foles adalah Foles dan bukan Carson Wentz. Bola pun berhasil ditangkap dengan mudah oleh Foles dan terciptalah touchdown yang membuat babak pertama mutlak jadi milik Eagles.

Apa yang dilakukan Pederson itu sebenarnya sudah dilakukan oleh Belichick. Bedanya, Belichick tidak mengeksekusinya di area end zone, tetapi di tengah-tengah lapangan. Dan bedanya lagi, Tom Brady yang didapuk menjadi receiver gagal menangkap bola.

Foles mencetak touchdown. (Foto: USA Today via Reuters/Mark J. Rebilas)
zoom-in-whitePerbesar
Foles mencetak touchdown. (Foto: USA Today via Reuters/Mark J. Rebilas)

Entahlah. Mungkin, latar belakang Foles sebagai pebasket punya andil dalam keberhasilannya menangkap umpan Burton. Namun, terlepas dari itu, keputusan Foles itu jelas lebih pas. Pasalnya, untuk apa pula Belichick memerintahkan pria kepala empat macam Brady untuk mencari yard ketika permainan masih jauh dari end zone?

Namun, begitulah Belichick. Pada dasarnya, pendekatan yang dia lakukan memang pendekatan pragmatis. Hal itu bisa terlihat dari rekam jejaknya di dunia kepelatihan, terutama ketika belum dipercaya menjadi pelatih kepala.

Belichick sendiri merupakan atlet gagal. Awalnya, olahraga favoritnya adalah lacrosse. Akan tetapi, sebagai putra dari seorang pelatih football, menjadi pelatih football pun pada akhirnya lebih natural bagi Belichick. Maka dari itu, setelah dipastikan gagal menjadi atlet, dia pun langsung menerima ketika ditawari Baltimore (sekarang Indianapolis) Colts menjadi analis.

Dari sana, karier Belichick terus menanjak sampai akhirnya mendapat pekerjaan besar sebagai koordinator pertahanan New York Giants di bawah pimpinan Bill Parcells. Di Giants inilah Belichick mencicipi rasanya menjadi kampiun Super Bowl. Tak cuma sekali, tetapi dua kali.

Bagi mereka yang mengenalnya dengan baik, ada dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari seorang Belichick. Selain, pragmatisme, ada kepekaan terhadap detail. Phil Savage, mantan general manager Cleveland Browns, bersaksi bahwa suatu kali, dia pernah menyaksikan Belichick mengamati rekaman video untuk satu play selama dua puluh menit.

Kepekaan terhadap detail yang dipadukan dengan pragmatisme itulah yang membuat Belichick dikenal sebagai sosok yang mau menghalalkan segala cara untuk menang, entah itu masih sesuai aturan maupun tidak. Pada 2007 silam, dia pernah kedapatan merekam instruksi pelatih lawan kala berhadapan dengan New York Jets. NFL pun mendenda Belichick sebesar 500 ribu dolar AS dan Patriots sebesar 250 ribu dolar AS.

video youtube embed

Tak cuma skandal Spygate itu saja noda di karier Belichick. Pada musim 2014/15, dalam laga final American Football Conference (AFC) menghadapi Indianapolis Colts, ada skandal lain bernama Deflategate yang merusak reputasi Patriots.

Pada skandal itu, Brady kedapatan menggunakan bola yang telah dikempiskan sedemikian rupa sehingga pas dengan lemparannya. Akhirnya, Brady pun didenda sebesar 1 juta dolar AS dan dihukum larangan bermain di empat laga. Walau begitu, Belichick mengaku tak tahu menahu ihwal perkara tersebut.

Bersama Patriots, Belichick sudah menghabiskan 19 tahun kariernya sebagai pelatih. Pragmatisme itu dibayar lunas Belichick dengan lima cincin Super Bowl yang diraih pada 2002, 2004, 2005, 2015, dan 2017. Total, sampai 2018 ini Patriots sudah dibawanya ke delapan Super Bowl.

Namun, sebelum kesuksesan legendaris bersama Patriots, Belichick harus menjalani masa sulit terlebih dahulu bersama Browns. Pada 1991, dia untuk pertama kalinya ditunjuk menjadi pelatih kepala tim NFL. Meski bertahan selama lima tahun di Cleveland, Belichick tak pernah benar-benar berhasil. Malah, kariernya di sana berakhir pahit.

Selama menangani Cleveland Browns, Belichick hanya mampu meraih play-off satu kali. Selebihnya, tim ini lebih sering menelan kekalahan dengan rekor total 36-44. Akhirnya, pada 1996, ketika pemilik Browns memindahkan tim ke Baltimore untuk menjadi Baltimore Ravens, Belichick pun dipecat.

Lepas dari Browns, Belichick menerima tawaran Patriots. Namun, kekalahan Super Bowl dari Packers membuatnya angkat kaki ke New York Jets. Setelah dua tahun bersama Jets, barulah dia kembali ke Patriots pada tahun 2000 sampai sekarang.

video youtube embed

Dalam masa kepelatihan keduanya bersama Patriots, pemilik tim Robert Kraft memberinya keleluasaan. Tak hanya sebagai pelatih, pada praktiknya Belichick juga berfungsi sebagai general manager. Maka dari itu, segala rekrutmen pemain harus mendapat persetujuan dari Belichick. Di tahun itulah Belichick dan Brady berkolaborasi untuk kali pertama.

Patriots, di bawah Belichick, memang tidak selamanya berhasil. Akan tetapi, tidak ada kegagalan yang lebih puitis dari kekalahan mereka dari Eagles.

Pasalnya, di situlah segala kebetulan bertumbukan. Kebetulan, Pederson adalah sosok yang gaya melatihnya bertolak belakang dengan Belichick. Sebagai mantan quarterback andal, pendekatan ofensif nan atraktif pun menjadi identitas Pederson sebagai pelatih.

Kemudian, ada pula kebetulan soal bagaimana Eagles dan Patriots menjadi wakil dari dua kutub berbeda. Jika Eagles adalah simbol resistensi, maka Patriots adalah anak emas konservatisme. Sebagai pelatih, Pederson pun membiarkan anak-anak asuhnya jadi individu-individu yang tanggap terhadap isu-isu sosial. Sementara, Belichick adalah orang lama yang masih beranggapan bahwa seorang atlet harusnya, ya, berolahraga saja.

Terakhir, ada kebetulan yang sifatnya historis. Kebetulan, Pederson adalah pemain yang menggagalkan Belichick meraih Super Bowl perdana dan akhirnya, sebagai pelatih, Pederson pun meraih trofi Super Bowl pertamanya usai menang atas tim asuhan Belichick.

Belichick dan dinasti Patriots-nya memang belum habis. Brady, seusai laga, mengisyaratkan bahwa dia masih akan bermain musim depan. Artinya, masih ada kans bagi mereka untuk melakukan comeback dan kembali merebut gelar juara. Akan tetapi, di satu sisi keberhasilan Eagles ini menyadarkan seluruh jagat football bahwa ternyata, pragmatisme ala Belichick bukan satu-satunya cara untuk menang.