Menguak Obsesi Pique terhadap Real Madrid

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Gerard Pique, terobsesi? (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)
zoom-in-whitePerbesar
Gerard Pique, terobsesi? (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)

Gerard Pique Bernabeu. Itulah nama lengkap bek tengah andalan Barcelona, Gerard Pique. Bahwa dia punya nama keluarga yang sama dengan Santiago Bernabeu, salah satu sosok terpenting dalam sejarah Real Madrid, rasanya cukup aneh.

Masalahnya, Gerard Pique bukan hanya pemain andalan Barcelona. Lebih dari itu, dia adalah satu dari sedikit pemuda setempat yang beruntung bisa memperkuat Barcelona dan menjadi besar di sana.

Sebagai seorang pendukung Barcelona sejak masih kanak-kanak, Pique kemudian menimba ilmu sepak bola di La Masia. Namun, sebelum akhirnya kembali ke rumah pada 2008, Pique sempat beberapa tahun "tersesat" di Manchester United.

Sejak kembali ke Barcelona itu pula, karier Pique melejit. Seiring dengan ditunjuknya Pep Guardiola sebagai pelatih tim utama, Barcelona pun menjelma menjadi kekuatan sepak bola terbesar di pengujung dekade 2000-an hingga awal dekade 2010-an. Semua kompetisi yang mereka ikuti pernah mereka juarai dan Pique adalah bagian integral dari tim hebat itu.

Performa apik Barcelona itu kemudian menular juga ke Tim Nasional Spanyol. Setelah sekian lama terus mengecewakan para pendukungnya, Tim Matador berhasil menjadi penguasa Eropa dan Dunia sejak 2008 hingga 2012. Tak hanya meraih dua Piala Eropa dan satu Piala Dunia, mereka juga menjadi acuan bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan. Pique pun merupakan bagian tak terpisahkan dari tim ini dan kini, ketika berbicara soal bek tengah terbaik dunia, namanya sudah pasti bakal disebut.

Namun, meski ada banyak sekali hal yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan seorang Gerard Pique, hanya ada satu hal yang tak pernah berubah. Dia adalah suporter sejati Barcelona.

Laiknya suporter sejati Barcelona lainnya, Pique pun tak segan-segan untuk ikut menghina klub rival, Real Madrid, secara terbuka. Hal ini tak hanya dia lakukan sekali-dua kali, tetapi setidaknya enam kali. Statusnya sebagai figur publik juga tak membuatnya berpikir ulang untuk melakukannya. Bagi Pique, suporter Barcelona sejati ya harus membenci Real Madrid dan mengutarakannya secara terang-terangan.

Dua hari yang lalu, ketika Real Madrid sukses melakukan comeback dan menang atas Villarreal, Pique kembali beraksi. Gol penalti Cristiano Ronaldo-lah yang ketika itu dia jadikan sasaran.

Ketika itu, wasit Jesus Gil menunjuk titik putih setelah Bruno Soriano dianggap melakukan handball. Ronaldo yang menjadi eksekutor pun mampu mencetak gol penyama kedudukan sebelum gol kemenangan dicetak Alvaro Morata.

Pique tidak terima. Baginya, keputusan Gil memberikan tendangan penalti untuk Real Madrid itu sama artinya dengan merugikan Barcelona delapan poin. Soalnya, ketika Barcelona ditahan imbang Villarreal bulan Januari lalu, Soriano juga melakukan handball tetapi wasit tidak menganggapnya sebagai sebuah pelanggaran.

X post embed

Sebelumnya, Pique juga pernah menggunakan akun Twitter-nya untuk menertawakan Real Madrid yang didiskualifikasi dari Copa del Rey 2015/16 akibat memainkan pemain ilegal, Denys Cheryshev. Pique, pada cuitan legendaris tersebut, tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggunakan rentetan emoji "tertawa sampai menangis" yang populer itu untuk mengungkapkan kegembiraannya.

X post embed

Atas cuitan yang menggugat kinerja wasit tadi, Pique sudah menerima serangan balik dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, sudah menyatakan bahwa dia akan melindungi pemain-pemainnya sampai mampus. Kemudian, kapten Sergio Ramos pun sudah melabeli Pique sebagai seorang penggemar teori konspirasi. Terakhir, Komisi Wasit Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol juga sudah mengajukan protes resmi terhadap si pemain.

Ini juga sebenarnya bukan kali pertama Gerard Pique kena batunya setelah menghina Real Madrid. Menjelang Euro 2016 lalu, dia bahkan sempat dimusuhi oleh para pendukung Timnas Spanyol lantaran dianggap terlalu sering membuat panas situasi. Tak seperti Carles Puyol, Xavi Hernandez, dan Andres Iniesta yang selalu bisa menahan catalanismo mereka, Pique lebih memilih untuk terus menghajar Real Madrid kapan pun dia bisa.

Selain dengan tandemnya di Timnas Spanyol, Sergio Ramos, Pique pun sebelumnya sudah pernah berseteru dengan beberapa mantan pemain Real Madrid lain: Alvaro Arbeloa, Esteban Granero, dan Guti Hernandez. Granero dan Guti sendiri ketika itu, pada tahun 2016, ikut campur karena ingin membela Arbeloa yang disebut Pique sebagai "camat" alias "cadangan mati" di Real Madrid. Bagi dua mantan gelandang itu, Pique seharusnya membuat sensasi di lapangan saja, bukan di Twitter.

Bagi mereka yang sudah lama mengikuti rivalitas Barcelona dan Real Madrid, apa yang dilakukan Pique ini mengingatkan pada apa yang dulu dilakukan oleh Guti. Dengan segala komentar-komentar pedasnya mengenai Barcelona, jebolan La Fabrica itu menjadi salah satu sosok yang paling dibenci suporter Barcelona. Seperti Pique yang merupakan pemuda setempat, Guti pun berasal dari kota kecil yang hanya berjarak 20 km dari Madrid.

Lantas, apa yang membuat kebencian di dada Pique (dan Guti) begitu menggebu? Toh, dia bukan satu-satunya pemuda setempat yang menimba ilmu di akademi.

Menerka-nerka memang mudah, tetapi apa yang sebenarnya membuat Pique menjadi seperti itu, siapa yang tahu, selain dia dan orang-orang terdekatnya (baca: Shakira)? Meski begitu, tak ada salahnya untuk mencoba menjelaskan fenomena ini lewat beberapa kemungkinan.

Pertama, ada semacam keinginan dalam diri Gerard Pique untuk membuktikan bahwa dia adalah bandiera klub berikutnya. Setelah kepergian Carles Puyol dan Xavi Hernandez serta makin menuanya Andres Iniesta, tongkat estafet bandiera Barcelona ada di tangan Pique. Mungkin, sekali lagi mungkin, Pique ingin menunjukkan bagaimana dia mencintai Barcelona dan layak untuk menjadi bandiera klub.

Kedua, karena Pique sendiri sebenarnya memang orang yang senang membuat keonaran. Di luar lapangan, kelakuannya sering tak masuk di akal. Ingatkah Anda ketika dia parkir sembarangan dan menghardik polisi yang menilangnya? Atau ketika Pique meludah ke arah salah satu staf kepelatihan Timnas Spanyol, Pedro Cortes, saat merayakan gelar Piala Dunia 2010? Ketika dulu masih ada Puyol dan Xavi, Pique mungkin masih bisa diredam. Namun, ceritanya kini lain.

Ketiga, obsesi. Ya, obsesi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "obsesi" berarti "ide atau perasaan yang sangat merasuki pikiran". Bagi Pique, (kebenciannya terhadap) Real Madrid adalah obsesinya. Itulah mengapa Pique kemudian selalu berusaha untuk menyerang Real Madrid -- bersama mereka yang berafiliasi dengan klub tersebut -- kapan pun ada kesempatan. Sulit sekali bagi Pique untuk tidak melakukan hal ini.

Nah, jadi kira-kira kemungkinan mana yang membuat Pique terus-terusan menabuh genderang perang terhadap Real Madrid?