Panas-Dingin Rossi dan Lorenzo

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Rossi & Lorenzo di GP Amerika 2014. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Rossi & Lorenzo di GP Amerika 2014. (Foto: Wikimedia Commons)

Berada di bayang-bayang legenda seperti Valentino Rossi bukanlah perkara sepele bagi pebalap sekelas Jorge Lorenzo. Tetapi, sulit juga untuk tidak menyebut bahwa setidaknya ada sedikit kontribusi Rossi dalam karier cemerlang Lorenzo di kelas MotoGP.

Ketika pertama kali menjejak kelas MotoGP pada tahun 2008 silam, Lorenzo langsung menjadi deputi Rossi di tim Yamaha. Di situ, Lorenzo harus menyaksikan bagaimana koleganya itu diperlakukan bak dewa.

Valentino Rossi memang merupakan alasan mengapa Yamaha bisa berbicara banyak di MotoGP. Ketika dia bergabung pada tahun 2004 dulu, Yamaha adalah tim dengan kualitas sepeda motor yang sangat buruk. Di trek lurus, Yamaha selalu tertinggal jauh dari rival-rivalnya.

Perlahan, Rossi membentuk Yamaha menjadi sebuah tim juara. Dibekali pengetahuan yang apik akan seluk beluk sepeda motor, Rossi banyak berkontribusi atas dibenahinya banyak hal di motor Yamaha. Jorge Lorenzo pun akhirnya merasakan kenikmatan itu dengan koleksi tiga gelar juara dunianya.

Akan tetapi, Lorenzo memang tidak pernah sepenuhnya bergantung kepada Rossi. Dia membangun karier dan menjadi besar dengan kemampuannya sendiri. Di Yamaha, sudah tak terhitung berapa kali Lorenzo merongrong eksistensi Rossi. Bukannya kurang ajar, tetapi dia memang tak punya utang budi apa-apa.

Pada 2011 dan 2012 lalu, Rossi sempat hengkang ke Ducati dan kini, giliran Lorenzo yang menyeberang ke tim pabrikan Italia tersebut. Dalam konferensi pers jelang GP Qatar, Minggu (26/3) mendatang, Lorenzo mengatakan bahwa di Ducati, dia merasa dihargai, sementara di Yamaha, dia tak ubahnya pegawai biasa.

Apakah dengan pernyataan itu, Lorenzo secara tidak langsung menyindir Rossi? Entahlah. Daripada terus-terusan berspekulasi, lebih baik kita tilik secara objektif segala hal yang bersangkutan dengan Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi.

Pembawaan dan Kepribadian

Valentino Rossi

Sesi konferensi pers bersama Rossi di Laguna Seca. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Sesi konferensi pers bersama Rossi di Laguna Seca. (Foto: Wikimedia Commons)

The Doctor, begitu Valentino Rossi kerap disebut, adalah orang Italia yang sangat Italia. Salah satu hal paling menonjol dari dirinya adalah kepercayaannya pada takhayul. Alasannya menggunakan nomor 46 saja tidak bisa dilepaskan dari takhayul. Nomor itu adalah nomor yang digunakan sang ayah pada balapan tahun 1979 dulu.

Kemudian, dia juga punya beberapa ritual yang tak pernah dia tinggalkan menjelang balapan, mulai dari menonton balap Moto3 sampai naik-turun sepeda motor dengan cara yang sama. Nah, meski percaya takhayul, Rossi adalah penganut Katolik yang taat.

Tak hanya itu, ke-Italia-an pria kelahiran Urbino ini makin lengkap dengan keterlibatannya dengan kasus kriminal dan kecintaannya pada sepak bola. Pada 2007, dia pernah didakwa bersalah atas kasus pengemplangan pajak. Kasus itu sendiri akhirnya selesai pada 2008 setelah dia membayar 35 juta euro kepada pemerintah. Untuk urusan sepak bola, Rossi dikenal sebagai suporter Internazionale dan berkawan dekat dengan Marco Materazzi.

Meski sangat Italia dan sering ceplas-ceplos ketika berbicara, Rossi adalah sosok yang dingin dan penuh perhitungan ketika membalap. Dia selalu tahu bagaimana caranya "mencuri angin" dari lawan dan kapan saat yang tepat untuk menyalip. Ketika segala perhitungan itu tidak kunjung berhasil, barulah Rossi menggunakan ke-Italia-annya yang lain, kemampuan memanipulasi lawan, untuk meraih hasil optimal.

Jorge Lorenzo

Senyum Lorenzo di sebuah konferensi pers. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Senyum Lorenzo di sebuah konferensi pers. (Foto: Wikimedia Commons)

Sama-sama punya darah Latin, Jorge Lorenzo jauh lebih agresif dibandingkan Rossi. Setidaknya begitulah kalau dilihat dari gaya balap.

Jika Rossi doyan memanipulasi, Lorenzo tidak pernah pakai tedeng aling-aling. Gaya membalap Lorenzo ini pernah sampai membuat Rossi murka pada tahun 2010 lalu.

Selain itu, Lorenzo juga tidak kalah blak-blakan ketimbang Rossi. Awal mula konflik Rossi vs Lorenzo pun berawal dari ketidakmampuan pebalap 29 tahun itu mengontrol apa yang ingin dia sampaikan ke publik. Dia menyalahkan pihak Yamaha yang menurutnya selalu mengistimewakan Rossi.

Walau begitu, ada indikasi bahwa sejatinya Lorenzo ingin menjadi seperti Rossi. Salah satunya adalah soal selebrasi kemenangan.

Rossi adalah pakarnya selebrasi. Entah sudah berapa kali dia melakukan selebrasi dengan cara yang brilian dan unik, termasuk ketika dia membonceng "ayam raksasa" di motornya dulu. Lorenzo pun tampaknya ingin menjadi se-ikonik Rossi karena selama ini dia sudah berusaha untuk melakukan selebrasi dengan berbagai cara yang sebenarnya tak kalah menarik.

Kontroversi-Kontroversi

Valentino Rossi

Rossi siap untuk musim 2017. (Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Rossi siap untuk musim 2017. (Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images)

Sebagai seorang veteran, Rossi tak asing lagi dengan kontroversi. Sebelum Lorenzo, sudah ada tiga pebalap yang berkonflik dengan Rossi. Mereka adalah Max Biaggi, Sete Gibernau, dan Casey Stoner. Semua merupakan rival Rossi dalam upaya meraih gelar juara dunia. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Rossi adalah jagonya manipulasi dan semua pebalap itu, kecuali Lorenzo, sudah mampu dikalahkan dalam perang psikologis.

Dengan Biaggi, tentu yang paling diingat publik adalah teracungnya jari tengah Rossi kepada Biaggi sesaat setelah dia menyalip seniornya tersebut. Peristiwa itu terjadi di Suzuka pada tahun 2001 lalu. Hal itu dilakukan Rossi setelah Biaggi menyikutnya dalam upaya untuk menyalip. Namun, Rossi kemudian mampu gantian menyalip Biaggi dan jari tengah pun teracung untuk Mad Max.

Kemudian, dengan Sete Gibernau ceritanya lebih parah lagi. Oleh Rossi, peluang juara Gibernau ditumpas dengan semena-mena pada GP Qatar 2004. Dalam sebuah manuver untuk menyalip, Rossi mengirim Gibernau sampai ke luar trek dan sejak saat itu, prestasi pebalap Suzuki tersebut terus menurun.

Lalu, ada Casey Stoner. Pebalap Australia ini secara terang-terangan menyebut bahwa dia kehilangan respek terhadap Rossi. Hal itu diutarakan Stoner menyusul insiden di GP Laguna Seca 2008. Ketika itu, Rossi juga menyalip Stoner dengan agresif dan menyebabkan sang lawan gagal finis terdepan.

Jorge Lorenzo

Lorenzo menikung bersama motor Yamaha-nya. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Lorenzo menikung bersama motor Yamaha-nya. (Foto: Wikimedia Commons)

Selain dengan Rossi, pertengkaran Jorge Lorenzo pernah pula terjadi dengan almarhum Marco Simoncelli, seorang pebalap yang juga dikenal dengan gaya agresifnya.

Pada 2011 lalu, Lorenzo dan Simoncelli sempat terlibat dalam sebuah perdebatan sengit setelah Lorenzo menuduh pebalap Italia tersebut membahayakan dirinya. Simoncelli kemudian mengungkit kejadian tahun 2005 saat Lorenzo dihukum larangan membalap di GP Malaysia. Hukuman itu dijatuhkan kepada Lorenzo saat dia masih berlaga di kelas 250cc.

Jika aksi-aksi tak terpuji Rossi selalu dilakukan dalam rangka meraih kemenangan, tidak demikian halnya dengan Lorenzo. Pebalap asal Palma de Mallorca itu akan selalu mengungkapkan apa yang tidak disukai terlepas dari itu berkaitan dengan kans meraih gelar atau tidak.

Prestasi dan Pencapaian

Valentino Rossi

Rossi bersama Ducati di Silverstone. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Rossi bersama Ducati di Silverstone. (Foto: Wikimedia Commons)

Valentino Rossi adalah legenda dan merupakan salah satu pebalap motor terhebat sepanjang masa. Tujuh gelar juara dunia di kelas tertinggi plus satu gelar 250cc dan satu gelar 125cc adalah bukti bahwa Rossi memang bukan pebalap main-main. Selain itu, dia jugalah satu-satunya pebalap yang mampu menjuarai kelas 500cc dan MotoGP.

Rossi meraih gelar juara dunia 500cc pertama pada 2001 bersama Honda setelah melakukan debut setahun sebelumnya. Ketika itu, usianya baru menginjak 22 tahun. Sebelumnya, dia menjuarai kelas 125cc pada usia 18 tahun dan 250cc pada usia 20 tahun.

Adapun, terakhir kali Rossi menjadi juara dunia adalah pada tahun 2009 lalu, saat usianya tepat berkepala tiga. Setelah itu, era Lorenzo dan Marc Marquez pun dimulai.

Jorge Lorenzo

Lorenzo dalam sebuah latihan di Jerez tahun 2008. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Lorenzo dalam sebuah latihan di Jerez tahun 2008. (Foto: Wikimedia Commons)

Jika Rossi hanya menghabiskan masing-masing setahun di kelas 125cc dan 250cc, Lorenzo butuh masing-masing dua tahun di dua kelas tersebut. Meski gagal menjuarai kelas 125cc, Lorenzo berhasil menjadi juara dunia dua kali di kelas 250cc.

Lorenzo promosi ke kelas MotoGP pada tahun 2008 dan butuh dua tahun baginya untuk bisa merebut gelar juara. Ketika menjadi juara, usianya 23 tahun. Sejak itu, sudah dua gelar tambahan berhasil dikumpulkan oleh pengguna nomor 99 itu.

Meski tampak tidak sedominan Rossi, Lorenzo punya alasan yang cukup kuat. Pasalnya, ketika muda dulu, Rossi tidak punya rival sekelas Marc Marquez yang juga telah punya koleksi tiga gelar juara dunia.