PB Teuku Umar: Pencetak Mutiara Bulu Tangkis dari Negeri Serambi Mekah

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bulu Tangkis (Ilustrasi) (Foto: Reuters/Russell Cheyne)
zoom-in-whitePerbesar
Bulu Tangkis (Ilustrasi) (Foto: Reuters/Russell Cheyne)

Tahun 2004 tsunami menerjang Aceh, Meulaboh luluh lantak. Salah satu gedung olahraga di Ibu Kota Aceh Barat itu turut hancur. Kehancuran itu juga berarti satu hal: denyut nadi bulu tangkis meulaboh turut setop. Mati.

Namun, Muhammad Yanis tak mau menyerah. Cintanya kepada bulu tangkis sudah menjadi-jadi. Dia tak bisa menghentikan saja klub bulu tangkis yang sudah didirikannya sejak 10 tahun sebelum tsunami datang ke tanah kelahirannya.

Apalagi, bulu tangkis sudah jadi mata pencahariannya. Sejak memutuskan berhenti menjadi pelatih sepak bola salah satu klub amatir di Aceh, Yanis memutuskan mendirikan klub bulu tangkis. Berangkat dari keinginannya memunculkan gema bulu tangkis Aceh yang tak pernah terdengar, Yanis berani mendirikan klub itu dan incarannya adalah anak-anak Meulaboh.

Tak disangkanya, respons yang datang positif. Anak-anak ramai mendaftar. Dengan bermodal uang iuran Rp 5.000 per anak, klub bulu tangkis itu hidup dan terus tumbuh. Anak-anak Meulaboh punya olahraga lain selain sepak bola.

Namun, saat tsunami tiba, kesulitan datang menghampiri. Lapangan tak punya, klub bulu tangkis itu hampir mati. Yanis kemudian coba mencari jalan. Dia kemudian meminjam lapangan bulu tangkis milik PLN setempat dan berhasil. Latihan klub pindah ke sana dan anak-anak perlahan mulai bergembira lagi.

PB Teuku Umar (Foto: Dok. M. Yanis)
zoom-in-whitePerbesar
PB Teuku Umar (Foto: Dok. M. Yanis)

Namun, masalah datang. Izin sewa lapangan semakin sulit dan mereka harus angkat kaki dari sana. Mereka kemudian pindah ke gedung olahraga milik Pemerintah setempat dan sempat berhasil. Namun, ya, tak lama juga. Izin kembali jadi problem utama dan perkembangan klub tak maksimal.

Dua tahu luntang-lantung, Yanis akhirnya mengeluarkan keberanian lain. Kecintaannya terhadap bulu tangkis membuatnya mengambil keputusan besar: dia mendirikan lapangan bulu tangkis di dekat rumahnya, sembari meyakinkan sang istri bahwa klub mereka akan berhasil.

Lapangan dibangun, diberi nama Lapangan Bulu Tangkis Teuku Umar. Sama seperti nama klub bulu tangkis miliknya: PB Teuku Umar. Di situlah kemudian, klub bulu tangkisnya kembali bangkit. Anak-anak sekitar kembali bersemangat.

"Saya sempat bingung karena tak punya lapangan lagi, izin sulit, mas. Sampai saya akhirnya bilang istri untuk bangun lapangan di tanah saya dekat rumah. Akhirnya jadi lapangan dan saya kasih dengan nama pahlawan, pahlawan dari Meulaboh," cerita Yanis kepada kumparan.

Klub itu mulai ramai peminat. Anak-anak Meulaboh datang dan orang tua mereka pun percaya bahwa PB Teuku Umar bisa mengembangkan bakat, menggali potensi anak-anak mereka. Setiap tahunnya, selalu saja ada yang mendaftar, mengais mimpi menjadi pebulu tangkis hebat.

Ananda, atlet PB Teuku Umar. (Foto: PB Djarum)
zoom-in-whitePerbesar
Ananda, atlet PB Teuku Umar. (Foto: PB Djarum)

Sepuluh tahun setelah tsunami hampir membuat klub mati, PB Teuku Umar mencatat sejarah lain. Mereka berhasil mengirimkan anak didik ke Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis.

Satu anak mereka, Ananda Kusuma Atmadja Pohan, berhasil mendapat beasiswa untuk berlatih di PB Djarum yang ada di Kudus, Jawa Tengah. Bakat besar Ananda diakui PB Djarum tak kalah dengan bakat-bakat lain yang datang dari klub-klub besar, terutama dari Pulau Jawa.

Satu tahun berikutnya, Mutia Dita Ainul Baroroh mengikuti jejak Ananda. Dia menjadi atlet PB Teuku Umar yang berhasil menembus ketatnya Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis untuk berkesempatan berlatih dan menimba ilmu di PB Djarum.

Mutia, bagi Yanis, adalah salah satu bukti bahwa meski secara infrastruktur PB Teuku Umar kalah dibanding klub-klub lain di Indonesia yang sudah punya nama besar, tapi mereka tetap bisa menghasilkan atlet yang bagus.

Mutia, mantan atlet PB Teuku Umar. (Foto: PB Djarum)
zoom-in-whitePerbesar
Mutia, mantan atlet PB Teuku Umar. (Foto: PB Djarum)

Yanis bercerita bahwa sebelum mengikuti Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis pun, Mutia sudah berhasil menjuarai beberapa turnamen di Aceh. Ketika sudah masuk PB Djarum pun, atlet kelahiran 1 Mei 2003 itu menunjukkan perkembangan pesat dan tampil di beragam turnamen.

"Mutia itu, baru delapan bulan saya latih sudah kelihatan (bagusnya). Dia selalu menunjukkan semangat nggak mau kalah. Itu yang membuat dia nggak kalah dari atlet-atlet lain, meski tempat latihan kami kurang bagus," cerita Yanis.

Dua tahun berikutnya, atau 2017, satu anak didik Yanis kembali lolos ke Kudus. Kali ini juga atlet putri bernama Nazura. Nama PB Teuku Umar pun mulai diperhitungkan sebagai salah satu klub yang berhasil memunculkan atlet-atlet muda bertalenta, terutama dari sektor putri.

Kini, ketiga pemain itu masih belajar di PB Djarum. Kata Yanis, dia begitu bangga bahwa baik Ananda, Mutia, dan Nazura tak didegradasi (dilepas PB Djarum), sehingga punya kesempatan besar untuk bisa menjadi pebulu tangkis level nasional.

Lantas, menarik mencari tahu rahasia mengapa klub yang 10 tahun lalu hampir mati, dan kemudian berjalan dengan kesederhanaan, keterbatasan, bisa menghasilkan atlet-atlet berpotensi besar? Yanis pun membeberkannya kepada kumparan.

"Kami itu menekankan kepada anak-anak yang penting bukan bagus dulu, tapi benar dulu. Benar bergeraknya ke mana, benar pukul bolanya ke mana, benar servisnya. Kalau sudah benar, lama-lama mereka nanti akan bagus," buka Yanis.

"Sama, yang mutlak bagi saya itu adalah anak-anaknya senang. Mereka senang latihan, senang main bulu tangkis. Begitu juga orang tuanya. Saya ingin orang tua mereka turut senang dan mendukung anak-anak berlatih," tambah dia.

Karena itulah, saat ini, PB Teuku Umar memiliki 30-40 anak didik dan selalu ada yang baru setiap tahunnya. Orang tua sudah mulai percaya dan mulai menaruh mimpi bahwa anaknya bisa menjadi pebulu tangkis hebat dan perjalanan itu dimulai dari klub bulu tangkis di daerah sendiri.

video youtube embed

Selain itu, sistem latihan yang dilaksanakan PB Teuku Umar juga cukup ketat. Mereka berlatih 11 kali dalam seminggu, pagi dan sore, meski hanya dipimpin oleh dua pelatih--yang salah satunya adalah Yanis sendiri.

Yang tak kalah penting bagi Yanis dalam membangun Teuku Umar adalah mimpi. Bahwa saat ini, para anak didiknya serta orang tua mereka memendam mimpi bahwa kelak mereka punya kesempatan untuk lolos Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis, seperti Ananda, Mutia, dan Nazura.

Kini, PB Teuku Umar sudah menjadi salah satu klub bulu tangkis terbaik di Aceh, dan bahkan boleh di Sumatera. Karenanya, mimpi Yanis sendiri kemudian menjadi lebih besar: dia tak ingin mutiara-mutiara yang sudah ditempanya di lapangan kecil di Meulaboh, bisa menjadi tulang punggung bulu tangkis Indonesia.

"Mimpi saya, selalu saja, saya ingin melihat anak-anak didik saya di televisi. Saya ingin melihat mereka jadi pemain Indonesia. Karena dengan menjadi pemain Indonesia, mereka punya kesempatan jadi juara dunia," kata dia.

"Saya tahu perjuangan untuk menjadi pemain Indonesia itu ketat, tapi saya rasa anak-anak bisa," tutup dia dalam perbincangan kami.

Suatu saat nanti, mungkin beberapa tahun lagi, ketika benar-benar ada anak didiknya yang tampil di televisi dengan Bendera Indonesia di dada, Yanis tahu bahwa perjuangan, keberanian, dan usaha-usaha yang sudah dilakukannya benar-benar berbuah manis.