Pelatih UPH Prihatin Pembinaan Pebasket Muda RI: Modal Kurang, Kesadaran Minim
ยทwaktu baca 4 menit

Stephen Metcalfe sudah 18 tahun menjabat sebagai pelatih kepala tim basket Universitas Pelita Harapan (UPH), yakni UPH Eagles. Sebagai pelatih asing yang telah lama tinggal di Indonesia, ia mengaku cukup prihatin dengan pengembangan pebasket muda di Tanah Air.
Metcalfe tidak berbicara tentang kegagalan Timnas Basket Indonesia masuk ke Piala Dunia FIBA 2023. Pelatih asal Amerika Serikat itu juga tidak sedang membahas peta kekuatan tim-tim IBL jika dibandingkan dengan sesama klub Asia.
Namun, Metcalfe menyoroti hal paling mendasar dari basket yang bisa memengaruhi dua hal tersebut yaitu pembinaan pemain usia muda.
Metcalfe adalah pelatih yang berfokus pada kompetisi tingkat universitas. Selama 25 tahun di Indonesia, ia menyoroti tantangan pengembangan bakat pebasket Indonesia.
"Salah satu tantangan di Indonesia adalah membuat program jangka panjang yang memberikan manfaat, yang benar-benar menciptakan sesuatu bagi pelatih yang akan datang dan bagi para pemain untuk berperan," ujar Metcalfe saat berbincang langsung dengan kumparan di Tokyo, Jepang, Kamis (11/8).
Kebanyakan, tim-tim basket universitas tidak memiliki perencanaan yang matang. Para pelatih bisa datang dan pergi, tanpa didukung keseriusan dari pihak kampus untuk menciptakan program jangka panjang guna membuat tim yang kuat.
Sejauh ini, Metcalfe melihat bahwa hanya ada dua kampus yang serius mengembangkan basket dengan program jangka panjang. Mereka adalah UPH dan Universitas Surabaya (Ubaya).
"Mereka [UPH dan Ubaya] telah menjadi tim universitas paling sukses di Indonesia. Mereka memiliki pelatih yang sudah lama bekerja," tuturnya.
Bagi Metcalfe, seharusnya Indonesia menciptakan jenis standar, konsep, dan program pembinaan jangka panjang untuk para pebasket muda, terutama yang di tingkat universitas. Dalam jangka panjang, itu akan membuat tim-tim lokal bisa bersaing di kancah internasional.
Harus mulai dari mana? Saya pikir, Indonesia harus membuat akademi untuk anak-anak bisa mengembangkan diri, tetapi itu hal lain belum terjadi di Indonesia. Tak seorang pun ingin menghabiskan waktu dengan bocah 8-9 tahun. Dampaknya, mereka tidak berkembang menjadi pemain yang luar biasa," terangnya.
Stephen Metcalfe menggarisbawahi dua hal yang menyebabkan Indonesia tidak bisa membuat akademi basket yang layak dalam jumlah banyak atau program jangka panjang untuk pebasket muda secara nasional. Segalanya butuh modal dan kemauan.
"Pertama, soal uang, tidak ada uang untuk pelatih. Maksud saya, bagi kami yang benar-benar bekerja di universitas [UPH--Red], universitas membayar kami untuk melatih," bebernya.
"Dan jika kami tidak menghasilkan cukup uang di universitas, kami juga tidak akan menjadi pelatih di negara ini," tambah Metcalfe.
Jadi kalau dalam ranah kampus, sebuah universitas bisa menciptakan tim basket yang kuat dan program jangka panjang yang baik jika mereka sanggup membayar pelatih dengan upah yang layak. Jika tidak, jadinya akan sulit.
Yang lebih ironis, Metcalfe membandingkan pemasukan sebagai pelatih anak-anak pada era 1980-an dibandingkan dengan di zaman sekarang. Jadi tepatnya pada 1981, ia yang masih 16 tahun melatih tim bisbol di kota tempat ia tinggal di Amerika Serikat.
Kala itu, Metcalfe dibayar USD 2.000 untuk melatih anak-anak berusia 8-12 tahun selama 2 bulan. Pada masa sekarang di Indonesia, ia tak merasa para pelatih mendapat bayaran layak jika melatih anak-anak.
"Saya mulai melatih ketika saya berusia 16 tahun. Saya yang nol pengalaman kala itu bisa menghasilkan banyak uang. Kota tempat saya tinggal mempekerjakan saya untuk melatih anak-anak berusia 8-12 tahun. Saya menghasilkan lebih banyak uang pada 1981, melatih selama dua bulan," kenangnya.
"Saya menghasilkan lebih banyak uang [kala itu di 1981] daripada pelatih zaman sekarang pada 2022. Ada yang salah dengan Indonesia," lanjut Metcalfe.
Uang baru satu masalah. Masalah lain adalah mentalitas para pelatih di Indonesia.
"Hal kedua adalah banyak pelatih tidak berpikir pemain muda sepadan dengan waktu mereka. Mereka hanya ingin melatih di level tertinggi. Mereka tidak ingin melatih anak usia 10, 12, 16 tahun. Mereka hanya ingin pemain yang sudah jadi. Itulah masalahnya. Mereka harus mengubah pola pikir mereka," tegasnya.
Stephen Metcalfe kini sedang memimpin UPH Eagles dalam Turnamen Basket Universitas Dunia (WUBS) 2022 yang berlangsung di Tokyo pada 9-11 Agustus 2022.
