Pelatnas, AirBadminton, & Jalan Lain Jonathan Sutanto Jadi Pebulu Tangkis Pro

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jonathan Sutanto, student-athlete Binus University, saat bertanding di Campus League Badminton The Nationals 2026. Foto: Campus League
zoom-in-whitePerbesar
Jonathan Sutanto, student-athlete Binus University, saat bertanding di Campus League Badminton The Nationals 2026. Foto: Campus League

Patah hati banget, frustrasi banget waktu enggak masuk pelatnas.”

Bergabung dengan tim pelatnas (pemusatan latihan nasional) adalah mimpi besar Jonathan Sutanto. Seperti banyak pebulu tangkis Indonesia lainnya, mengenakan seragam dengan nama besar Indonesia di punggung menawarkan sebuah kebanggaan yang tak terkira.

Berbagai macam cara ia tempuh, termasuk mengikuti berbagai macam turnamen di level taruna. Sayangnya, mimpi itu urung menghampiri Jonathan Sutanto.

Jojo, sapaan akrabnya, tak kunjung mendapat panggilan ke Cipayung. Bagi pebulu tangkis asal Jakarta itu, kegagalan tersebut bukan sesuatu yang mudah diterima. Apalagi mimpi terbesarnya adalah ingin menjadi pemain level dunia.

Kegagalan tersebut bahkan sempat membuat motivasinya untuk bermain badminton meredup. Padahal, olahraga tepok bulu sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak duduk di kelas 1 SD.

“Kalau ngomong pelatnas, ya, dulu waktu kecil pasti semua orang mau masuk pelatnas gitu. Cuma kayak sekarang apa ya, dulu tuh waktu junior memang patah hati banget, frustrasi banget waktu enggak masuk pelatnas itu,” cerita Jojo saat berbincang dengan Campus Sport Indonesia di GOR KONI Bandung, Rabu (23/9).

Tapi, bukan Jonathan jika menyerah pada keadaan. Jojo justru menemukan jalur lain di tengah kegundahannya tak bisa menembus skuad Cipayung. Jawabannya datang dari arah yang tak ia duga.

Jonathan Sutanto, student-athlete Binus University, saat bertanding di Campus League Badminton The Nationals 2026. Foto: Campus League

Tawaran dari China & Kanada

Setelah mimpinya menggapai pelatnas dilepas, kesempatan untuk berkarier lebih jauh di badminton justru mulai berdatangan. Jonathan mendapat tawaran untuk bermain sekaligus melatih di luar negeri, termasuk China dan Kanada.

Peluang tersebut tentu menarik. Di usia yang masih muda, Jonathan sebenarnya bisa saja memilih langsung berkarier di luar negeri dan menjadikan badminton sebagai pekerjaan utama.

Tawaran itu juga beriringan dengan gaji fantastis bagi Jonathan yang masih muda. Jojo tak menyebut nilainya secara rinci, tapi ia menggambarkan gajinya selevel dengan salary pimpinan perusahaan di Indonesia.

“Kalau misalkan banyak yang tahu ya, sekarang itu tawaran ke luar negeri itu banyak banget. Kayak ke China, melatih dengan gaji yang bisa dibilang setara manajer atau direktur di Indonesia gitu,” tutur pemain kelahiran 5 November 2005 itu.

Jonathan sempat melirik tawaran menarik luar negeri itu, tapi kedua orangnya punya sudut pandang lain. Mereka berpendapat bahwa karier atlet Jonathan harus beriringan dengan akademik.

“Orang tua mikirnya kayak, ‘Kuliah aja,’ disuruhnya kuliah aja,” kenang Jonathan.

Jonathan mengikuti petuah orang tuanya. Ia lalu memilih Binus University dan masuk ke jurusan Finance Accounting. Beruntungnya, Jonathan mendapat beasiswa Widia dari Binus University berkat prestasinya mengantar Indonesia menjadi juara AirBadminton Championship Asia 2025 dan membawa Merah-Putih ke perempat final AirBadminton World Cup di tahun yang sama.

“Di Binus ada beasiswa Widia, pas baru di Binus ada medali internasional di AirBadminton itu. Awal masuk saya mendapat beasiswa 75%. Tapi itu sudah sangat-sangat membantu ya, dari uang masuk juga free, gratis semua kayak yang masuk dan lain-lain. Mungkin setelah ini saya mau ngajuin 100%,” kata Jojo.

instagram embed

Kuliah, Bermain, dan Melatih

Tak cuma jadi student-athlete, Jonathan kini menemukan jalan lain dalam mempertahankan kariernya di badminton. Perannya kini bertambah, Jojo mulai jadi pelatih di Unity Badminton Club.

Profesi itu Jojo jalani setelah memilih untuk lanjut kuliah dan menolak tawaran dari luar negeri. Jojo merasa beruntung karena masih ada klub yang bersedia untuk menemani mimpinya terus bertanding di level internasional.

“Itu saya ditawari main tapi ngelatih juga. Jadi sekarang saya main, latihan, plus melatih. Yang penting gaji tetap ada, pertandingan disponsorin semua. Jadi bersyukur sih masih ada klub yang mau nampung untuk pertandingan-pertandingan ke luar negeri,” kata pemain kelahiran Jakarta itu.

“Kalau enggak ada klub pasti motivasi juga enggak ada sih. Pasti motivasi terbesar itu karena ada klub jadi motivasi untuk mainnya ada lagi,” tambahnya.

Kini, Jonathan tetap bisa menjaga mimpinya untuk terus bertanding di level internasional. Berbagai turnamen sudah ia cicipi, mulai dari Indonesia Master Super100 di Medan, Jogja International Challenge, hingga Pontianak International Challenge 2026.

Tidak semua pertandingan berakhir dengan kemenangan. Namun, baginya, pengalaman bertanding tetap menjadi bagian penting dari proses yang terus dijaga.

Jonathan Sutanto, student-athlete badminton Binus University, usai berbincang dengan Campus Sport Indonesia di GOR KONI Bandung, Rabu (23/9/2026). Foto: Aji Nugrahanto/kumparan

Kembali ke Kampus Bela Binus

Setelah merasakan berbagai kompetisi internasional, Jonathan kembali menjalani kehidupannya sebagai student-athlete Binus. Terbaru, ia bermain di Campus League Badminton untuk kategori beregu.

Didapuk sebagai kapten, Jojo sukses memimpin rekan-rekannya dengan ciamik. Semangatnya yang selalu membara di lapangan membuat Binus membawa pulang gelar juara kategori beregu di Regional Bandung. Prestasi itu juga sekaligus membawa Jonathan cs melangkah ke The Nationals.

Pengalaman internasional yang dimilikinya membuat Jonathan memiliki perspektif tersendiri terhadap kompetisi antar-mahasiswa. Menurutnya, Campus League memiliki level yang cukup tinggi. Bahkan, ia menyebut atmosfer dan fasilitasnya sudah mendekati kompetisi internasional.

Lampu LED, streaming pertandingan, Court TV, ID card, hingga perlengkapan pertandingan membuat kompetisi tersebut punya vibes yang sangat serius.

“Kalau mau jujur ya, Campus League ini setara internasional sih. Setara Super 100-lah. Dari segi lampu ini pakai LED semua kan, Sirnas aja enggak pakai lampu begini gitu. Jadi pengalaman baru juga buat mahasiswa-mahasiswa yang lain. Ini udah skala internasional sih, bukan nasional lagi,” puji Jonathan.

instagram embed

Mimpi Profesional Belum Padam

Sebagai atlet, Jonathan kini sudah jauh lebih dewasa. Hasrat masuk pelatnas tetap ada, tapi bukan fokus utama. “Kalau rezekinya bisa masuk, masuk. Tapi kalau target pribadi sih ke sana udah… bukannya berkecil hati, tapi kayak udah sadar diri aja,” tuturnya.

Kini, target Jonathan lebih jelas. Ia ingin mendapatkan sponsor sebanyak mungkin dan membangun karier sebagai pemain profesional. Ia juga masih ingin tampil di kompetisi internasional dan melangkah lebih jauh dalam perjalanan sebagai pebulu tangkis.

Mimpinya tetap besar, tak bisa dinego. “Jadi pemain dunia pasti,” kata Jonathan.

Untuk saat ini, ia memilih menyelesaikan pendidikan di Binus sambil terus bermain, berlatih, melatih, dan mencari peluang. Mungkin jika dulu Jonathan berhasil masuk pelatnas, perjalanan kariernya akan terlihat berbeda.

Namun, kegagalan tersebut justru membawanya ke pilihan-pilihan lain: kuliah, bergabung dengan klub, menjadi pemain sekaligus pelatih, sampai merasakan panggung dunia melalui AirBadminton.

Pelatnas memang belum pernah menjadi bagian dari perjalanan Jonathan. Namun, mimpi untuk bermain di level internasional belum ia tinggalkan. Satu hal yang pasti, kegagalan yang satu ternyata membuka banyak pintu kesempatan yang lain. Menjadi atlet kelas dunia tetap jadi tujuan, Jonathan hanya meniti jalan yang berbeda.

instagram embed