Perjuangan Suryo Nugroho Kejar Gelar Juara dengan Satu Tangan

Saat itu usianya baru 14 tahun. Dia melangkah ke sebuah tempat baru yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dengan sebuah tangan palsu sebelah kiri, matanya terbelalak memandang suatu pemandangan yang menyentak hati.
“Kok enggak ada yang pakai tangan palsu?” celetuknya dalam benak.
Para atlet disabilitas itu berlatih dengan semangat yang meletup-letup. Sekilas tak terasa kekurangan atau sakit yang mendera.
“Kenapa mereka bisa percaya diri?” tanya dia lagi.
Dia pun semakin berjalan dalam bayang rasa penasaran. Lantas, siapa si anak remaja dengan tangan palsu itu?
Dia adalah Suryo Nugroho. Atlet bulu tangkis disabilitas Indonesia kelahiran Surabaya, 17 April 1995 silam.

Dalam sebuah siang yang terik di Kota Solo, kumparan bersua dengan sang atlet. Keringatnya masih mengucur deras dari ujung rambut hingga kaki. Tapi, sebuah senyuman menyambut kumparan untuk memulai perbincangan.
Mengenakan jersey putih bergaris merah, atlet yang akrab disapa Suryo ini mulai berkisah. Mulanya Suryo adalah atlet normal biasa. Namun, kemalangan menghampiri penggemar Taufik Hidayat ini saat masih duduk di kelas 5 SD.
“Saya mulai bulu tangkis sejak 7 tahun. Kelas 5 SD saya mengalami kecelakaan motor. Dan salah satu cara lengan kiri saya harus diamputasi,” kenang Suryo, Senin (10/9).

Mendapati kenyataan pahit itu, Suryo jatuh sejatuh-jatuhnya. Dia malu bukan main. Dia tak lagi mau bermain bulu tangkis seperti sedia kala.
Apalah arti bermain bulu tangkis hanya dengan satu tangan, pikirnya saat itu.
Hari-hari dilalui Suryo dengan mengurung diri di rumah. Dia pun enggan berangkat ke sekolah karena masih terbalut rasa malu.
“Nge-down banget ya. Saya sampai vakum 3 tahun itu sampai enggak pernah olahraga lagi, sampai saya juga manggil guru di rumah. Jadi adaptasinya juga sangat-sangat lama,” urai Suryo.
Ribuan hari hanya berdiam di rumah, nyatanya tak menghasilkan apa-apa bagi Suryo. Bisikan-bisikan yang menyerunya bangkit pun terus bergema di telinganya.
Dia kemudian mencoba bangkit perlahan dan menata niat untuk kembali bermain bulu tangkis. Tepatnya pada 2009 dia mulai bergabung dengan National Paralympic Committee (NPC).
Melangkah pertama di tempat latihan, Suryo masih menggunakan tangan palsu di sebelah kiri. Tangan palsu itu bak benteng penutup rasa malu yang telah membukit di diri Suryo.
Dia bertutur, tangan palsu itu memang tak digunakan saat bermain bulu tangkis, tapi selepas keluar dari arena tangan itu selalu menancap di bahu kirinya ke mana pun dia pergi.

Namun, rasa tanya terus bergema dalam benak Suryo. Kenapa hanya dirinya seorang yang menggunakan tangan palsu?
“Di sini lihat teman-teman oh gitu mereka itu apa adanya. Jadi lebih bebas di publik kan. Juga di Solo ini banyak teman-teman disabilitas juga aksesnya bagus, warga Solo juga sudah paham. jadi saya juga kenapa kok harus saya tutupin,” cerita dia.
Hanya sekitar tiga hari tangan palsu itu lalu dilepas dan tak pernah dikenakan lagi oleh Suryo. Dia mulai melangkah sebagai atlet disabilitas yang percaya diri walau hanya dengan satu tangan.
Bakatnya pun kembali terasah di arena latihan. Suryo berhasil mendapat gelar juara di dua ajang perdananya sebagai atlet difabel.
“Mulai ikut di Peparpenas (Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional), Kejurnas (Kejuaraan Nasional) NPC. Dan alhamdulillah di 2 kejuaraan itu saya juara 1. Dan di tahun 2010 saya masuk ke Timnas untuk Asian Paragames di Guangzhuo, China,” sebut Suryo seraya bangga.
Sulitnya menjaga keseimbangan dengan satu tangan
Butuh adaptasi yang tak sebentar bagi Suryo untuk bermain bulu tangkis hanya dengan satu tangan. Bila satu tangannya dulu digunakan untuk memukul shuttle cock dan satunya lagi digunakan untuk menumpu, saat ini dia sudah tak punya lagi tumpuan itu.
“Apalagi waktu saya mulai latihan lagi kan yang paling susah di keseimbangan. Yang awalnya saya juga punya dua tangan sampai sekarang punya satu. Itu kan yang pasti yang paling susah keseimbangan,” urai Suryo.

Masalah keseimbangan adalah hal yang terus dia hadapi hingga saat ini. Namun, seiring dengan latihan intensif yang dilakukan, lama-lama dia jadi terbiasa dengan hal itu.
Selain keseimbangan, masalah lain nyatanya juga dihadapi oleh Suryo. Ada rasa yang berbeda saat dirinya harus berlatih dengan rekan-rekan disabilitas.
“Yang saya rasain saya punya kekurangan di sini, teman lawan saya juga punya kekurangan. Jadi saya rasa juga imbang sih. Kalau di normal dulu kan sama-sama istilahnya perfect ya. Lebih berat persaingannya,” jelas Suryo.
Meski begitu Suryo tak ingin jemawa. Rekan-rekan sesama disabilitas menurutnya juga mempunyai kekuatan yang mumpuni. Oleh karena itu, dia harus tetap berlatih untuk meningkatkan kualitas.

Selama berlatih di Pelatnas Solo, setiap pagi dan sore Suryo harus melahap porsi latihan yang diberikan pelatih.
Berkat semangat juangnya itu Suryo kini bertengger di peringkat ketiga tunggal putra dunia kategori upper (kekurangan di bagian atas dalam hal ini adalah tangan) Badminton World Federation (BWF).
Sederet prestasi gemilang juga sudah diraih pebulu tangkis 23 tahun ini. Di antaranya, juara 1 Indonesia Open Parabadminton 2015 tunggal putra, juara 1 Indonesia Open Parabadminton 2016 kategori ganda putra, juara 1 Asian Parabadminton Championship 2016 kategori tunggal putra, Juara 1 World Championship Parabadminton 2017 kategori ganda putra, dan masih banyak prestasi lainnya.

Walau gelar yang diraih sudah terbilang lengkap, Suryo tak mau berpuas diri. Dia mengincar target bisa tampil dan berprestasi di Olimpiade Tokyo. Dalam ajang tersebut, bulu tangkis untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam sejarah paralimpiade.
“Dari (kategori) pelajar, Peparnas, ASEAN Para Games, Asian Para Games, Asian Championship, World Championship, alhamdulillah sudah. Jadi mungkin target saya di 2020 di Tokyo,” Suryo berujar.
kumparan akan menyajikan story soal atlet-atlet penyandang disabilitas kebanggaan Indonesia dan hal-hal terkait Asian Para Games 2018 selama 10 hari penuh, dari Kamis (27/9) hingga Sabtu (6/10). Saksikan selengkapnya konten spesial dalam topik ‘Para Penembus Batas’.
