kumparan
16 Desember 2018 19:43

Pesan Orang Tua untuk Samantha Edithso: Perjalanan Masih Panjang

Samantha Edithso, Juara catur dunia
Si juara catur dunia, Samantha Edithso (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Dengan kecerdasan intelektual (IQ) mencapai 146, Samantha Edithso dipastikan bukan anak biasa. Bocah perempuan asal Kota Bandung ini luar biasa, pintar, cerdas, superior, di atas rata-rata, atau mudahnya: genius.
ADVERTISEMENT
Secara resmi, status anak genius alias gifted children itu didapatnya ketika melakukan tes psikologi saat berusia 7 tahun 1 bulan dan 9 hari, tepatnya pada 26 Maret 2015, bersama salah satu biro konsultasi psikologi. Kini, di usia 10 tahun pada 2018, prestasi paling bergengsi Samantha adalah menjadi juara dunia catur.
Ya, fokus siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD) ke olahraga asah otak itu dengan cepat berbuah rapor emas. Pada Juni 2018, Samantha membukukan sejarah sebagai juara catur cepat (rapid chess) dari Indonesia di 2nd World Cadets Rapid and Blitz Chess Championships kategori U-10 yang berlangsung di Belarusia.
Lalu, Samantha juara dunia lagi, masih di kategori umur yang sama, sebelum tahun berganti. Kali ini, Samantha melengkapi prestasinya dengan menyegel gelar juara dunia catur klasik (cadet chess) di World Cadets Chess Championships 2018 U-10. 'Indonesia Raya' pun berkumandang dalam seremoni pada Kamis, 15 November, di Palacio de Congresos y Exposiciones de Galicia, Kota Santiago de Compostela, Spanyol.
ADVERTISEMENT
Baru mengenal catur mulai kelas 1 SD, semua orang lantas bertanya-tanya, bagaimana cara Samantha menguasai catur hingga menjadi juara dunia hanya dalam waktu kurang lebih lima tahun? Jawabannya kembali bermuara kepada status Samantha yang genius.
Video
Sang ayah, Larry Edith, mengatakan bahwa Samantha tidak memaksakan diri untuk getol berlatih atau belajar catur. Sehari-hari, Samantha yang kini mengenyam pendidikan homeschooling ini hanya menonton pertandingan catur kurang dari satu jam. "Dia justru malas berlatih," kata Larry kepada kumparanSPORT.
"Banyak kelemahannya meski sudah juara dunia. Kebetulan didukung otak yang cerdas, satu kali mengamati pertandingan catur langsung mengerti. Itu pun saat (ada waktu) iseng, baru lihat pertandingan orang lain," imbuhnya.
Mengutip dari buku 'A parent's Guide to Gifted Children' (2007) yang dilansir National Association for Gifted Children asal Amerika Serikat, beberapa karakter anak genius yang paling dominan memang cepat belajar atau memahami sesuatu. Selain itu, anak genius sangat tanggap, punya memori kuat, andal berbahasa, suka menyelesaikan masalah, berpikir abstrak, kritis, dan sangat idealis.
ADVERTISEMENT
Semua itu tergambar dalam kebiasaan Samantha sehari-hari. Di luar catur, sang anak jago menggambar, tata busana, kerajinan tangan, hingga memasak. Saat masih bersekolah di SD Katolik Santa Ursula, Samantha langganan menjadi siswa terbaik. Penghargaan nilai tertinggi di mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris pun pernah diraihnya.
Kami yang secara khusus bertemu, berbincang, dan bermain dengan sang juara dunia di rumahnya di kawasan Dago, Kota Bandung, juga mendapat kesempatan untuk mengulik lebih jauh sosok Samantha dari kacamata orang tuanya, Larry Edith dan So Siau Sian.
Samantha Edithso, Juara catur dunia
Si juara catur dunia, Samantha Edithso (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
"Awal (kenal catur) dari ekskul, saat itu dia kelas 1 SD. Kira-kira ikut ekskul catur sekitar dua bulan, lalu ikut Kejuaraan Daerah dan langsung juara. Dari situ diteruskan ikut turnamen di Indonesia lanjut internasional. Dengan begitu IQ dia terasah, karena memang dia tergolong genius jadi perlu banyak tantangan dan asahan, salah satunya melalui catur," ujar So.
ADVERTISEMENT
Menurut Larry, Samantha punya daya juang yang begitu tinggi sejak kecil hingga menajamnkan sifat kompetitifnya.
"Dalam arti tidak mudah putus asa. Kalau jatuh, Samantha cepat bangkit, di samping tentunya (kelebihan) kecerdasan dia," ucapnya.
"Dari awal, ikut Kejuaraan Daerah, Kejuaraan Nasional, ada jenjangnya. Sampai ke Open dan Kejuaraan Dunia. Pada prinsipnya, saat mendaftarkan Samantha ke Open, pilih yang levelnya memang level dia. Pilih yang dia tidak mudah menang, tapi juga bukan kejuaraan yang terlalu berat hingga langsung kalah. Jadi dia di-push untuk mencapai pada puncak kemampuan dia saat itu," tutur Larry.
Baik Larry dan So sendiri sejatinya tidak pernah memaksa Samantha untuk bergelut di bidang catur. "Saya tidak ada masalah. Dia berhenti catur besok pun saya tidak ada masalah," tegas sang ayah.
ADVERTISEMENT
Hanya saja, hingga umur 17 tahun atau memasuki kuliah, fokus Samantha memang di catur. Termasuk alasan berganti menjadi siswa homeschooling supaya tidak menganggu jadwal sekolah ketika bertanding ke luar negeri setiap bulannya.
Samantha Editsho
Deretan prestasi Samantha Editsho di dunia catur. (Foto: Basith Subastian/kumparan)
"Kebanyakan orang tua di sini terlalu bergantung kepada pelatih kalau belajar catur. Pesan saya, harusnya tidak bergantung kepada pelatih, tapi meningkatkan kemampuan anak untuk belajar sendiri. Samantha juga banyak berkembang karena belajar sendiri. Memang tidak terlepas buku-buku yang banyaknya bahasa Inggris, jadi bahasa Inggris harus diasah juga," ucapnya.
"Dan, orang tua harus bisa mengevaluasi efektivitas pelatih. Kadang ada pelatih, kita tidak tahu bagus apa tidak. Kalau bagus teruskan, kalau tidak ganti. Jadi ada progres. Sekarang zaman terbuka. Internet, buku, semua informasi ada di sana, bisa dimanfaatkan dengan baik. Jika orang tua bisa mengevaluasi dengan akurat, maka lebih gampang mengarahkan anaknya dan cepat maju," ujar Larry.
ADVERTISEMENT
Di balik statusnya sebagai juara dunia, Samantha nyatanya dikenal usil dan bandel. Layaknya bocah seusianya, dia juga selalu merengek minta dibelikaan boneka dan mainan.
Bedanya, Samantha memberikan 'bonus' dengan menunjukkan keahliannya berbicara. Debat sengit dengan ayah dan ibu pun kerap terjadi. Larry kerap mengalah, tetapi akan berubah tegas tergantung situasinya.
"(Saat bertanding) kalau ingin sesuatu, misal makan siang ingin ini, padahal kita beli yang lain, dia tetap ngotot yang itu. Kalau enggak dibelikan mending enggak makan, katanya. Atau dia sendiri secara eksplisit bilang kalau enggak beli mainan ini, bisa kalah nanti mainnya. Bikin pusing 'kan," kata Larry.
Menpora Imam Nahrawi, Fauzan Noor, Samantha Edithso, Tim Wushu Junior
Menpora Imam Nahrawi berikan bonus total Rp 280 juta kepada Fauzan Noor (karate tradisional), Samantha Edithso (catur U-10), dan Tim Wushu Junior, Senin (23/7). (Foto: Karina Nur Shabrina/kumparan)
"Saya mesti lihat untung ruginya. Kalau dekat pertandingan turutin saja, jangan hanya gara-gara ayam goreng sepotong pertandingan jadi kalah. Saya juga dulu bandel sama seperti dia, sekarang agak kalem. It's okay, suatu saat Samantha akan kalem," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Dengan bakat istimewa yang telah ditunjukan oleh Samantha, Larry dan So berpesan agar anak perempuan pertamanya ini tidak sombong dan selalu menunjukkan kemampuan terbaik dalam bidang yang dipilih.
"Dia harus rajin berlatih, mau belajar, tidak boleh sombong sehingga ilmu apa pun bisa masuk terutama yang dia tekuni sekarang yaitu catur. Kalau remaja, tidak hanya bisa di catur juga di bidang pendidikan lain. Kalau sukses di bisnis, untuk mendukung orang-orang yang kurang beruntung di catur. Atau mensponsori anak-anak yang berprestasi, biasanya banyak yang kurang beruntung," pesan So.
Samantha Edithso, Juara catur dunia
Si juara catur dunia, Samantha Edithso (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
"Sederhana saja. Kita harus mencintai apa yang kita lakukan sehingga punya passion dalam melakukan sesuatu. Sekolah, pekerjaan, olahraga, atau apa saja. Dengan demikian kita menghasilkan yang terbaik," timpal Larry.
ADVERTISEMENT
"Jadi tanggung jawab kepada apa yang Samantha lakukan itu yang paling penting. Dan saya yakin dengan kemampuan dia, dia bisa melakukan apa saja yang dia suka dengan baik. Kami bebaskan (pilihan), dalam arti bebas tapi saya mencoba evaluasi keputusan dia. Yang pasti selalu ajarkan untuk percaya diri tapi tidak sombong. Untuk puas, tapi tidak terlalu berpuas diri dan selalu melihat bahwa perjalanan masih panjang. Banyak yang masih bisa dilakukan," ujar Larry mengakhiri.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan