Profil Kejuaraan Dunia BWF: Seberapa Bergengsi & Berapa Kali Wakil RI Juara?
ยทwaktu baca 3 menit

Tim bulu tangkis Indonesia resmi mundur dari Kejuaraan Dunia BWF (Badminton World Federation) 2021 karena pertimbangan munculnya varian corona Omicron. Sebenarnya, seberapa bergengsi turnamen yang edisi 2021-nya akan dihelat di Huelva, Spanyol, itu?
Kejuaraan Dunia BWF boleh dibilang sebagai 'Piala Dunia'-nya nomor perorangan. Turnamen ini sendiri pertama kali dihelat pada 1977 dengan nama IBF (International Badminton Federation) World Championships.
Tadinya, dari 1977 hingga 1983, turnamen ini diadakan setiap tiga tahun sekali. Kemudian, sejak 1985, perhelatan turnamen ini diubah menjadi dua tahunan.
Kendati demikian, mulai 2006, turnamen ini diubah menjadi turnamen tahunan di kalender BWF. Tujuannya untuk memberikan lebih banyak peluang bagi para pebulu tangkis untuk dinobatkan sebagai "Juara Dunia" resmi.
Kejuaraan Dunia BWF biasanya akan absen jika pada suatu tahun ada Olimpiade Musim Panas. Namun, turnamen tersebut akan tetap diadakan pada 2021, meski Olimpiade Tokyo 2020 juga dihelat pada tahun ini.
Lantas, seberapa eksis para atlet bulu tangkis Indonesia di Kejuaraan Dunia ini sejak edisi pertama pada 1977?
Faktanya, beberapa pemain telah memenangi medali emas di lebih dari satu nomor di Kejuaraan Dunia, termasuk ada legenda bulu tangkis Indonesia salah satunya. Dia adalah Christian Hadinata yang menjuarai ganda putra (bersama Ade Chandra) dan ganda campuran (bersama Imelda Wiguna) berbarengan pada 1980.
Setelah Christian/Imelda, wakil Indonesia sempat absen lama meraih emas di sektor ganda campuran Kejuaraan Dunia BWF. Hingga akhirnya, Nova Widianto/Liliyana Natsir memutusnya pada 2005.
Liliyana Natsir memiliki kesamaan dengan Hendra Setiawan. Mereka adalah dua atlet bulu tangkis Indonesia yang memiliki raihan emas Kejuaraan Dunia BWF terbanyak, yakni empat buah.
Menariknya, keduanya meraih emas bersama dua pasangan berbeda. Hendra meraihnya di ganda putra, sekali bersama Markis Kido (2007) dan tiga kali dengan Mohammad Ahsan (2013, 2015, 2019). Sementara, Liliyana meraihnya di ganda campuran, dua kali bersama Nova (2005 dan 2007) dan dua kali bersama Tontowi Ahmad (2013 dan 2017).
Wakil Indonesia yang unik adalah Tony Gunawan. Ia meraih medali emas ganda Putra mewakili dua negara, pada 2001 bermitra dengan Halim Haryanto untuk Indonesia dan pada 2005 bermitra dengan Howard Bach untuk Amerika Serikat.
Bicara soal jadi tuan rumah, Indonesia sudah 3 kali menggelar Kejuaraan Dunia, yakni pada 1980, 1989, dan 2015. Semuanya diJakarta.
Perolehan medali Kejuaraan Dunia BWF sepanjang masa hingga edisi 2019 (5 besar):
China: 66 emas, 46 perak, 75 perunggu, total 187 medali.
Indonesia: 23 emas, 18 perak, 36 perunggu, total 77 medali.
Denmark: 10,5 emas, 14 perak, 38 perunggu, total 62,5 medali. (Maksud "0,5" di sini karena pernah ada atlet Denmark, Thomas Lund, yang menjuarai ganda campuran edisi 1993 bersama atlet Swedia, Catrine Bengtsson).
Korea Selatan: 10 emas, 13 perak, 30 perunggu, total 53 medali.
Jepang: 6 emas, 6 perak, 16 perunggu, total 28 medali.
Distribusi perolehan medali Indonesia di setiap sektor Kejuaraan Dunia BWF hingga edisi 2019:
Tunggal putra: 6 emas, 7 perak, 13 perunggu
Tunggal putri: 2 emas, 2 perak, 5 perunggu
Ganda putra: 10 emas, 5 perak, 9 perunggu (terbanyak dibanding negara lain)
Ganda putri: 2 perak dan 4 perunggu
Ganda campuran: 5 emas, 2 perak, 5 perunggu
