Quaresma dan Kemampuannya yang Membuat Besiktas Berbeda

Skor 1-1 yang didapatkan oleh Besiktas ketika menghadapi FC Porto pada pekan kelima Liga Champions, Rabu (22/11/2017) dini hari WIB, memang tak menggembirakan. Meski demikian, hasil tersebut memastikan mereka mendapatkan satu tiket ke fase gugur.
Pesta pun dilakukan pendukung Besiktas. Pasalnya, dengan hasil ini, Besiktas melaju ke fase gugur untuk pertama kalinya. Selain itu, keberhasilan ini juga membuat mereka kini setara dengan dua kesebelasan Turki, Galatasaray dan Fenerbahce, yang lebih dulu pernah lolos ke fase gugur.
Membicarakan keberhasilan ini tak elok jika melupakan jasa Senol Gunes. Sebagai pelatih legendaris, ia tak hanya mengedepankan keberhasilan taktik, tetapi juga pendekatan ruang ganti. Alhasil, skuat Besiktas yang—lumayan—mengilap, nyaris tak memiliki intrik.
Untuk soal pemain, keberhasilan ini tak bisa dilepaskan dari strategi transfer Besiktas yang lumayan jitu. Kedatangan Kepler Pepe dan Alvaro Negredo seakan melengkapi skuat Besiktas yang diisi nama-nama berpengalaman, seperti Ryan Babel, Adriano, dan… Ricardo Quaresma.
Keberadaan Quaresma menjadi satu hal paling menarik di skuat Besiktas saat ini. Dikenal sebagai salah satu pemain muda yang kerap dibuang, ia justru menunjukkan bahwa kemampuannya benar-benar istimewa ketika usianya menginjak kepala tiga.
Karier Quaresma ketika muda memang tak cukup menggembirakan. Kendati ia sempat disebut sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dihasilkan oleh Sporting CP dan Portugal, nasibnya justru terkatung-katung.
Gaya bermain Quaresma yang menekankan aksi individu dan trik-trik khusus kerap mengundang kritik. Egonya yang cukup tinggi juga membuatnya kerap jadi sasaran kemarahan rekan setim.
“Quaresma harus banyak belajar, kendati ia tak banyak bermain. Saya yakin, dengan hal itu, dia akan berubah menjadi sosok yang lebih disiplin, baik secara taktik maupun teknik. Jika dia melakukan itu dalam beberapa bulan, kita mungkin akan membicarakan Quaresma yang berbeda,” kata eks-pelatih Quaresma di Inter, Jose Mourinho.
Barcelona, Porto, Internazionale, Chelsea, Besiktas, dan Al-Ahli jadi sederet kesebelasan yang merasakan nasib sial karena memiliki Quaresma. Dari masa itu, Quaresma belajar untuk menjadi sosok yang berbeda.
Kegagalan Quaresma pada periode awal, tak membuat Besiktas ragu untuk kembali mendatangkannya musim panas 2015. Gunes, yang saat itu dipilih sebagai pelatih kepala yang baru, merasa bahwa Quaresma memiliki potensi untuk mengangkat tim ini.
“Apa saya melakukan kesalahan karena mendatangkan Quaresma? Saya pikir tidak juga. Setiap transfer memiliki positif dan negatif. Kedatangannya akan membuat Besiktas menjadi kesebelasan yang berbeda,” kata Gunes mengomentari kedatangan Qaresma, seperti dilansir Hurriyet.
Pilihan tersebut tak salah. Dari delapan pemain yang didatangkan Gunes saat itu, hanya Quaresma yang hingga kini menjadi tulang punggung Besiktas. Tak hanya itu, ia juga berkembang dengan caranya sendiri.
Gunes berperan besar di sini. Betapa tidak, tangan dingin pelatih 65 tahun tersebut adalah alasan terbesar mengapa Quaresma berkembang.
“Gunes membuat saya memegang tanggung jawab yang berbeda. Kepercayaan yang ia berikan membuat saya tahu apa yang harus saya lakukan setiap berada di lapangan: memberi Besiktas kemenangan.”
Pada akhirnya, kepercayaan itu dibalas oleh Quaresma dengan penampilan apik. Baik dalam pola 4-3-3—yang digunakan oleh Gunes pada musim pertamanya di Besiktas—atau dalam pola 4-2-3-1—yang ia gunakan mulai musim lalu, Quaresma nyaris selalu menjadi pilihan pertama di sayap kanan.
Alasan memilih Quaresma sebagai pilihan pertama memang tidak salah. Kemampuannya menahan bola, mengirim umpan silang, hingga mengeksekusi bola mati menjadi nilai tambah yang membuat Gunes nyaris selalu memilihnya setiap pekannya.
Pemilihan Quaresma tidak hanya didasari oleh kelebihan tekniknya. Menurut penulis Socrates Dergi, Erman Yasar, ia dipilih karena kinerja apiknya ketika dipercaya berada di lapangan dan tentu saja, hasratnya untuk memenangkan pertandingan.
Hal-hal di atas membuat keberadaan Quaresma menjadi penting. Tanpanya, Besiktas seperti kehilangan sentuhan khas di sisi kanan lapangan. Tanpanya juga, serangan Besiktas tampak monoton dan mengecewakan.
Penampilan Quaresma semakin berkembang dengan perubahan gaya bermain Besiktas. Bersama Anderson Talisca, Cenk Tosun, dan Ryan Babel, keempatnya membentuk kuartet mengerikan di lini depan.
Dari 12 pertandingan di Super Lig, keempatnya berkontribusi atas 68% dari 19 gol yang dicetak oleh Besiktas. Di Liga Champions, keempatnya berkontribusi atas semua gol Besiktas, di mana Quaresma berperan lewat tiga assist.
Permainan keempatnya tak hanya cair, tapi juga memudahkan satu sama lain untuk memecahkan kebuntuan. Tak pelak, penampilan apik keempatnya membuat Besiktas kini duduk di posisi ketiga Super Lig dan posisi puncak Liga Champions Grup G.
Tanpa Quaresma, Besiktas masih bisa memenangkan pertandingan. Meski demikian, tanpa Quaresma, Besiktas adalah kesebelasan yang berbeda.
