Ribut-ribut Laver Cup: Protes Benneteau dan Kekuasaan Federer

Roger Federer berdiri kokoh di ranah tenis. Tak peduli berapa banyak gelar juara yang melayang dari tangannya di musim 2018, Federer tetap digdaya. Keberhasilannya sebagai petenis pertama (dan satu-satunya sampai sekarang) yang meraih 20 gelar juara Grand Slam di nomor tunggal putra menjadikan namanya sulit dienyahkan begitu saja dari keseluruhan narasi tenis.
Namun, tak semua petenis 'berpihak' pada kedigdayaan Federer. Salah satunya adalah mantan perebut gelar juara Prancis Terbuka di nomor ganda putra, Julien Benneteau. Sebelum menyinggung keberatan Benneteau, mari mengenal sosok asal Prancis ini dengan singkat.
Di sepanjang perjalanan kariernya, pencapaian Benneteau kalah telak dibandingkan dengan Federer. Di keempat seri kompetisi Grand Slam nomor tunggal putra, pencapaian tertingginya hanya sampai di perempat final Prancis Terbuka 2006.
Di Roland Garros tahun itu, ia kalah saat berhadapan dengan petenis Kroasia yang kini telah gantung raket, Ivan Ljubicic, dalam tiga set langsung: 2-6, 2-6, 3-6. Sementara di Grand Slam tunggal putra lainnya, prestasi tertingginya ada di babak keempat Wimbledon 2010.
Walau semenjana di nomor tunggal putra, bukan berarti lemarinya tanpa trofi juara sama sekali. Pada Prancis Terbuka 2014, bersama Edouard Roger-Vasselin, ia menjadi nomor satu di nomor ganda putra. Keberhasilannya didapat usai mengandaskan perlawanan duo Spanyol, Marcel Granollers/Marc Lopez, di partai puncak dengan skor 6–3, 7–6(7–1). Di Wimbledon 2016 pun, Benneteau dan Roger-Vasselin berhasil menjejak ke laga final.
Sayangnya, di babak pamungkas ini, ganda putra kompatriotnya, Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut keluar sebagai juara berkat kemenangan 6–4, 7–6(7–1), 6–3. Raihan trofi kemenangan Benneteau pun bertambah karena pada 2017, ia menjadi bagian dari skuat Prancis yang menjadi juara di Piala Davis.
Tadinya, Benneteau memutuskan untuk gantung raket pada 2018, usai gelaran AS Terbuka. Namun, atas permintaan kapten Prancis, Yannik Noah, untuk kembali membela negaranya di Piala Davis, Benneteau memutuskan untuk menunda pensiunnya. Alasan Noah meminta Benneteau untuk kembali bergabung adalah badai cedera yang melanda skuat tenis Prancis.
Benneteau turun lapangan, mengayun raket, membukukan winner, dan mengantarkan Prancis pada laga puncak yang kembali mempertemukan mereka dengan Spanyo. Tentang siapa yang bakal menjadi juara, maka kita harus menunggu hingga 25 November 2018. Itulah yang menjadi hari penentuan tentang negara mana yang bakal menjadi nomor satu.
Nah, bila kita kembali kepada keberatan Benneteau soal Federer, maka kita akan mendengar soal TEAM8 dan Laver Cup. Sebagai catatan, Laver Cup adalah kompetisi tenis pria beregu tahunan yang baru berlangsung sejak 2017. Format kompetisinya mirip Piala Davis, tapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Di Laver Cup, ada dua tim yang akan bertanding: Tim Eropa (Team Europe) dan Tim Dunia (Team World).

Laver Cup sendiri digagas oleh TEAM8, Jorge Paul Lemann yang merupakan pebisnis Brasil dan mantan petenis di Piala Davis, dan Asosiasi Tenis Australia. Mengapa ada Asosiasi Tenis Australia di sini? Kemungkinan besar, karena kompetisi ini dibentuk sebagai bentuk penghargaan kepada legenda tenis dunia yang berasal dari Australia, Rod Laver. Lantas pertanyaan kedua. Mengapa ada kaitannya dengan Federer? Jawabannya, tentu karena TEAM8 merupakan perusahaan manajemen tenis bentukan Federer.
Menyoal Laver Cup, kedua tim akan dipimpin oleh dua kapten yang sama selama tiga tahun pertama. Bila legenda Swedia yang begitu berjaya di Prancis Terbuka dan Wimbledon, Bjorn Borg, yang menjadi kapten Tim Eropa, maka legenda Amerika Serikat, John McEnroe, yang menjadi kapten Tim Dunia. Uniknya, pemilihan ini seperti membangkitkan kembali legenda rivalitas dan persahabatan antara Borg dan McEnroe. Untuk menilik kembali rivalitas keduanya, maka kita hanya harus menonton film Borg vs McEnroe yang rilis pada 2017.
Yang dikeluhkan Benneteau, kekuatan finansial yang dimiliki oleh Federer seperti berusaha menyingkirkan Piala Davis sebagai turnamen beregu antarnegara tertua di ranah tenis. Apalagi, menurut Benneteau, Laver Cup bukan turnamen yang penting karena tak memengaruhi raihan poin ATP para pesertanya.
"Roger (Federer) adalah legenda tenis, ia adalah simbol bagi olahraga ini. Untuk hal itu, saya setuju, tidak ada masalah. Namun, soal promosi TEAM8 bentukannya lewat Laver Cup, nah, itulah yang saya anggap menjadi masalah. Gara-gara Laver Cup ini, muncul konflik baru yang mengganggu."
"Laver Cup tidak memiliki legitimasi olahraga. Tidak ada kriteria khusus tentang siapa-siapa saja yang terpilih untuk membela negaranya di kompetisi itu. Tidak ada pengaruh ke poin ATP. Ini cuma soal uang. Yang mereka lakukan hanya menelepon Nick Kygios dan bilang kepadanya bahwa ia baka dibayar sebesar 750.000 dolar AS untuk bermain di turnamen yang tidak ada pengaruhnya di kompetisi tenis. OK, itulah harga bagi para pemain di Laver Cup," jelas Benneteau, dilansir The Guardian.
Konflik yang dimaksud oleh Benneteau berkaitan dengan rencana gelaran Piala Davis tahun 2019. Waktu kompetisi Laver Cup yang bertabrakan dengan Piala Davis pada September 2019, dikabarkan membuat Federasi Tenis Internasional (ITF) berencana untuk memundurkan waktu gelaran Piala Davis menjadi November.

Yang menjadi masalah, bila merujuk pada kalender kompetisi 2019, di November tersebut juga sudah dijadwalkan ATP World Tour Finals. Sementara, ATP World Tour Finals dan Piala Davis adalah dua kompetisi yang begitu penting di ranah tenis.
Hal ini lantas melahirkan kebingungan sendiri bagi para petenis, tentang kompetisi mana yang bakal diikuti. Piala Davis sama dengan kewajiban membela negara (anggaplah ini sebaga Piala Dunia-nya tenis) sementara ATP World Tour Finals begitu berpengaruh pada raihan poin para petenis.
"Waktu rencana perubahan jadwal Piala Davis (geser ke November) disebutkan, ia (Federer) tidak berkata apa pun. Namun, dulu, waktu Piala Davis diumumkan akan dihelat pada September (yang notabene bertabrakan dengan Laver Cup), ia langsung menentang Gerard Pique (Pique, pemain Barcelona itu, memang sudah menjadi sosok yang mengurusi penyelenggaraan Piala Davis format baru). Hal ini meyakinkan saya bahwa otoritas tenis itu begitu lemah," jelas Beneteau, dilansir The Telegraph.
Petenis Jerman, Alexander Zverev, juga angkat suara menyatakan keberatan dan kebingungannya soal Piala Davis format baru di 2019. Katanya, waktu kompetisi pada November itu membuatnya tak yakin apakah akan ikut bertanding di putaran final Piala Davis
"Saya tidak akan bermain di Piala Davis di (putaran final) November 2019. Saya akan bermain di Februari (kualifikasi Piala Davis) di Frankfurt. Ya, Piala Davis memiliki hal-hal serius yang harus dipikirkan kembali. Satu di antaranya adalah tanggal kompetisi. Tanggal adalah perkara penting dan saya pikir, tidak ada pemain top yang akan bermain di tanggal tersebut, kecuali Rafa (Nadal) karena putaran final diadakan di Spanyol. Saya sangat yakin, pemain-pemain top tidak akan bermain," jelas Zverev, dilansir The Guardian.
