Rizky Faidan: Juara Nasional PES Saat Masih 13 Tahun

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rizky Faidan, pemain PES muda asal Bandung yang pernah mewakili Indonesia di SEA Finals Vietnam pada 2016. (Foto: Karina Nur Shabrina/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rizky Faidan, pemain PES muda asal Bandung yang pernah mewakili Indonesia di SEA Finals Vietnam pada 2016. (Foto: Karina Nur Shabrina/kumparan)

Nama Rizky Faidan menyeruak di kalangan pemain profesional Pro Evolution Soccer (PES) pada 2016. Saat itu, ia menjadi wakil termuda pada PES League SEA Finals di Vietnam, sebuah kompetisi PES tertinggi level Asia Tenggara. Media lokal di sana memuji kiprah Rizky.

Media di Tanah Air beberapa juga terpukau dengan bocah asal Bandung itu. Di usai 13 tahun, saat itu Rizky telah membawa nama 'Merah-Putih' di turnamen internasional lewat kecerdikannya bermain sepak bola digital meski pada akhirnya tunduk di hadapan wakil Asia lain.

Namun, status Rizky sebagai juara nasional dan menjadi wakil terbaik Indonesia saat masih duduk di bangku SMP saja sudah menjadi rapor emas tersendiri di usia belia. Dan dua tahun berselang, tepatnya pada 2018, Rizky kembali menyentak publik.

Bocah kelahiran 2 Maret 2003 itu masih membuktikan ketajamannya dengan menjuarai turnamen PES2018 di Kuala Lumpur, Malaysia, 15 Juli lalu. Selain itu, ia menjadi juara Asian Games Qualifier, yang membuatnya nyaris menjadi pemain termuda cabang olahraga (cabor) ekshibisi olahraga elektronik (eSports) Asian Games 2018.

instagram embed

Ya, nyaris saja karena sayangnya publik tak akan melihat Rizky unjuk gigi di pertandingan PES Asian Games pada 1 September karena faktor usia. Tahun ini, ia masih berusia 15 tahun. Sementara syarat yang diberikan Asian Electronic Sports Federation (AeSF) minimal usia atlet adalah 16 tahun.

Jadi, tempatnya di tim bersama Setia Widianto akan digantikan oleh Elga Cahya Putra (Lampung) yang di turnamen untuk kualifikasi pada Mei lalu menjadi runner-up.

facebook embed

Rizky sempat kecewa. Ia melewatkan momen debut eSports sebagai cabor ekshibisi sekaligus batal menjadi atlet di tahun bersejarah Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games kedua kalinya setelah 1962.

Tapi, setidaknya torehan yang lalu sudah cukup membuat nama Rizky melambung dan tentunya membuat bangga sang ibu tercinta. Ditemui kumparanSPORT, Rizky begitu semringah kala menceritakan pengalamannya menjadi juara dan mendapat hadiah berupa uang tunai hanya dengan bermain game.

"Sejak 2015 itu banyak ikut turnamen regional. Waktu juara tahun 2016 akhirnya dikirim ke Vietnam. Paling baru saya juara di Malaysia," kata Rizky yang tergabung di Aliban Wani Adu, komunitas PES asal Bandung.

"Hadiah uang sudah lumayan banyak. Mungkin 10-20 juta (rupiah). Saya kasih ke orangtua, sisanya ditabung dan buat beli baju, handphone, dan console game," celotehnya.

instagram embed

Awalnya, Rizky yang sudah menyukai game sejak kecil pun hanya iseng-iseng mengikuti turnamen di kota asalnya. Saat bertemu teman baru di komunitas, akhirnya ia diajak berlatih lebih serius untuk mengikuti turnamen.

"Pertamanya sempat diomelin mama, apalagi kalau main dan latihan sama komunitas (Aliban) di Buah Batu (Bandung) pulangnya malam. Mama khawatir, sekali-kali dilarang. Sekarang mama lebih yakin setelah saya juara Indonesia pada 2016," imbuh penggemar Persib itu.

Hebat mencetak gol, bertahan, hingga melakukan tendangan bebas di depan layar, apa jadinya kalau kemampuannya itu diuji di lapangan hijau? Sambil tertawa renyah, Rizky mengaku tidak jago bermain sepak bola.

"Tidak bisa mainnya, saya suka menonton pertandingannya saja. Dulu waktu kecil main di Sekolah Sepak Bola (SSB) tapi berhenti karena sempat sakit, tidak boleh capek," ujar Rizky yang mengidolakan Ghozali Siregar dan Boaz Solossa itu.

instagram embed

Duduk di bangku kelas 2 SMA, Rizky sudah memiliki cita-cita untuk menjadi gamer profesional. Meski bermain game masih kerap dipandang sebelah mata, pendiriannya masih kuat untuk mengejar prestasi sebagai atlet PES sehingga hadiah tunai yang didapatnya bisa terkumpul untuk mengembangkan usaha di bidang lain.

"Saya ingin jadi gamer profesional, masuk tim eSports. Kalau udah dapat gaji 'kan nanti bisa wirausaha. Seperti FIFA sudah ada timnya. Saya juga tertarik jadi jurnalis sepak bola dan berharap bisa ke markas Konami di Jepang," ujar Rizky.

Bakal setia mengasah kemampuan di PES, anak bungsu dari lima bersaudara itu juga menyebut strategi, mental, dan kelincahan jarilah yang dibutuhkannya. Terpenting, ia pun harus konsisten dan fokus ketika bertanding.

"Lawannya (di Asian Games 2018) yang kita tahu itu Vietnam dan Jepang. Kalau dari negara lain jarang terdengar jadi masih belum bisa ditebak. Tapi untuk medali mungkin bisa, karena hoki juga berpengaruh saat main. Saat ini pemain Indonesia bagus, PES juga bisa jadi promosi bagi Indonesia," pungkasnya.

Meski kini Rizky batal bertanding di Asian Games 2018, asa siswa SMAN 16 Bandung itu tak hilang. Ia berjanji akan kembali dengan lebih skill yang lebih hebat di Asian Games 2022. Saat eSports diresmikan sebagai cabor itulah, ia tak akan bermain di stadion, tetapi berjuang menyumbang medali bagi Indonesia lewat joystick. Kita tunggu, Rizky!