Rui Hachimura dan Tantangan NBA Melebarkan Sayap di Pasar Asia

kumparanSPORTverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rui Hachimura saat membela Washington Wizards di NBA. Foto: STREETER LECKA/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Rui Hachimura saat membela Washington Wizards di NBA. Foto: STREETER LECKA/Getty Images

Rui Hachimura bikin mimpi bermain di NBA bagi orang-orang Asia menjadi hal yang lebih realistis. Begitu yang dikatakan oleh Managing Director of NBA Asia, Scott Levy.

Sejak Yao Ming pensiun pada pada 2011 silam, memang cukup lama untuk melihat pemain asal Asia bisa bersinar di NBA. Kemudian Rui hadir sebagai rookie asal Jepang yang dipilih Washington Wizards pada NBA Draft 2019 urutan kesembilan.

Bagi Levy, pemain berusia 22 tahun tersebut memang meningkatkan ketertarikan terhadap bola basket dan NBA di Asia, terutama di Jepang.

"Sudah cukup lama sejak kemunculan Yao Ming. Cukup mengejutkan juga bahwa sekarang kita belum punya banyak pemain asal China (atau Asia) di NBA," kata Levy saat ditemui kumparanSPORT di Hyatt Regency, Chicago, Amerika Serikat, Sabtu (15/2/2020).

"Saya pikir hal ini membuat NBA lebih realistis, saat seorang pemain bisa bermain di sana dan ketika Anda melihat itu, dia akan menjadi role model. Jadi, pola pikirnya adalah: Jika dia bisa melakukan itu, saya pun bisa seperti itu," jelas Levy.

Rui Hachimura menembak bola disaksikan Joel Embiid. Foto: USA Today/Reuters/Geoff Burke

Rui tentu saja diharapkan bisa memberi impak seperti pendahulunya, Yao Ming. Tak cuma eksis di NBA sebagai pemain asal Asia, tapi juga diakui dari segi kemampuannya dan menjadi semacam inspirasi bagi pemain-pemain muda.

Sejauh musim reguler NBA 2019/20 berjalan, Rui tampil cukup apik. Dari 38 partai, ia rata-rata bermain 29,4 menit dengan torehan 14 poin, 6 rebound, dan 1,7 assist.

Pada rangkaian NBA All-Star 2020 Februari lalu, Rui pun mendapat kesempatan mentas di Rising Star Game. Ia tergabung di Tim Dunia untuk menghadapi Tim USA yang diperkuat rookie macam Zion Williamson hingga Ja Morant.

"Tak bisa dimungkiri ada peningkatan minat di Jepang dengan munculnya Rui. Dia berkeinginan untuk sukses, atlet yang berdedikasi, terus berusaha mengembangkan skill untuk sampai di level tertinggi. Jadi, ya, dia meningkatkan minat (terhadap NBA dan basket) di Jepang," ungkap Levy.

Rui Hachimura saat membela Timnas Basket Jepang di Piala Dunia FIBA 2019. Foto: HECTOR RETAMAL/AFP

Saat ini Asia tak hanya memiliki Rui, masih ada Yuta Watanabe yang punya kontrak dengan Memphis Hustle di NBA G League dan Memphis Grizzlies di NBA.

"Kami juga sekarang punya Yuta Watanabe yang dikontrak dua tahun oleh Memphis Hustle dan Memphis Grizzlies. Jadi, kita bisa melihat lebih banyak pemain dari semua penjuru dunia ada di NBA," tuturnya menambahkan.

"Semoga, kondisi tersebut akan menginspirasi dan mendorong anak-anak untuk berpikir seperti ini: Alright, mungkin sekarang saya pun bisa melakukan hal itu," ujarnya.

Managing Director NBA Asia, Scott Levy. Foto: Aditia Rizki Nugraha/kumparan

Di lain sisi, fakta belum banyak pemain Asia di NBA saat ini tak bisa dimungkiri. Namun, Levy menegaskan bahwa kondisi itu bukan halangan bagi NBA membuat basket dan liganya semakin mendunia.

Toh, NBA memiliki sejumlah program untuk membina pemain-pemain muda di seluruh penjuru dunia termasuk Asia. Mulai dari akademi hingga program kerja sama seperti Basketball Without Borders (BWB).

Rui adalah salah satu contoh sukses dari program BWB. Ia menjadi wakil Jepang di BWB Global 2016. Contoh lain adalah penggawa Chicago Bulls, Lauri Markkanen, yang tergabung pada BWB Eropa 2014 dan BWB Global 2015.

NBA saat ini memiliki akademi (NBA Academy) di lima negara (Australia, Cina, India, Senegal, dan Meksiko) yang menjadi sarana pelatihan bagi para pemain muda.

Sementara itu, jumlah pemain internasional yang berkompetisi di level universitas di Amerika Serikat juga semakin bertambah. Dengan demikian, Levy percaya bahwa akan ada lebih banyak lagi pemain NBA yang berasal dari Asia di beberapa tahun mendatang.