kumparan
23 November 2018 16:55

Samantha Edithso, Cukup Sekali Amati Permainan Catur Langsung Mengerti

Perjalanan Samantha Edithso, World Cadets Chess Championships U10
Perjalanan Samantha Edithso menjuarai World Cadets Chess Championships U10 di Spanyol, 3-16 November 2018. (Foto: Dok. Istimewa)
Raja, menteri, benteng, gajah, kuda, dan pion. Sejak dulu, catur dikenal sebagai olahraga asah otak. Tak sekadar memindahkan buah catur tersebut, butuh strategi jitu di setiap langkah untuk mengamankan sang raja hingga akhir.
ADVERTISEMENT
Salah satu ahlinya main catur, adalah Samantha Edithso. Umurnya baru 10 tahun, tapi sudah dua kali menjadi juara dunia di kategori umur tersebut. Satu juara catur cepat (rapid chess) dan satu juara catur klasik (cadet chess).
Bocah asal Bandung ini merengkuh semua gelar tersebut pada 2018, gelar terakhir baru diamankannya awal November di World Cadets Chess Championships 2018. Sementara, Samantha mendapat gelar pertamanya di 2nd World Cadets Rapid and Blitz Chess Championships Juni lalu.
Bocah ajaib, bocah pintar, dan bocah juara dunia. Di balik puja-puji yang diterima bocah perempuan itu, sang ayah Larry Edith, mengatakan bakat catur sang anak terasah secara alami. "Dia justru malas berlatih," katanya mengawali cerita kepada kumparanSPORT saat dihubungi Jumat (23/11/2018).
ADVERTISEMENT
"Banyak kelemahannya meski sudah juara dunia. Kebetulan didukung otak yang cerdas, satu kali mengamati pertandingan catur langsung mengerti. Itu pun saat iseng baru lihat pertandingan orang lain. Bisa dibilang volumenya satu jam kurang setiap nonton video pertandingan. Keuntungan dia, kalau sudah bertanding fokus sekali," imbuh Larry.
Perjalanan Samantha Edithso, World Cadets Chess Championships U10
Samntha Edithso saat bertanding catur melawan perwakilan dari Rusia. (Foto: Dok. Istimewa)
Perburuan gelar jawara pada World Cadets Chess Championships, yang berlangsung di Kota Santiago de Compostela, Galicia, Spanyol mulai 3 November itu pun tak mudah. Menurut Larry, perjalanan sang buah hati di Spanyol lebih menegangkan ketimbang 2nd World Cadets Rapid and Blitz Chess Championships di Belarusia.
"Karena di pertengahan, Samantha kalah dua kali. Di babak terakhir ketemu pimpinan klasemen sementara, Alexandra Shvedova, yang saat itu belum pernah kalah. Tapi, Samantha bisa menang curi poin. Di sana pertemuan pertama mereka berdua," tutur Larry.
ADVERTISEMENT
Larry sendiri tak hadir di Palacio de Congresos y Exposiciones de Galicia, tempat pertandingan. Namun, diceritakan So Siau Sian, sang istri, Samantha begitu yakin menang di babak 11 lawan Alexandra. Sementara, sebut Larry, mungkin saja rival asal Rusia itu merasa draw saja cukup dan justru kehilangan momentum.
"Samantha juga unggul waktu, akhirnya lawan kepepet dan kalah," ucapnya.
Adapun, perkenalan Samantha dengan catur dimulai saat mengikuti ekstrakurikuler di Sekolah Dasar Santa Ursula di kota asalnya. Sang anak pun sempat dicap tidak akan sukses sebagai pemain catur oleh seorang pelatih. Namun, Samantha bisa membuktikan diri, bahkan sekaligus menorehkan sejarah bagi Indonesia lewat otak encer dan kelihaian jarinya di atas papan catur.
ADVERTISEMENT
"Ini sejarah, baru kali ini Indonesia punya juara dunia wanita. Pria pernah sekali di U-10 juga pada 1989. Di kelompok umur saat ini, Samantha adalah nomor satu dunia. Semoga dengan bertambah umur, dia semakin rajin berlatih," harap Larry.
Perjalanan Samantha Edithso, World Cadets Chess Championships U10
Perjalanan Samantha Edithso menjuarai World Cadets Chess Championships U10 di Spanyol, 3-16 November 2018. (Foto: Dok. Istimewa)
"Setelah ini mulai 2 Desember ikut turnamen di Selangor dan Penang, Malaysia. Itu Open (terbuka), turnamen umum justru lawannya berat karena banyak Grand Master dewasa yang ikut. Sebelumnya pencapaian tertinggi di Open jadi Best Female (peserta terbaik wanita) di Selangor pada 2016. Target di Penang juga coba cari Best Female dan tambah rating," katanya.
Saat ini, dikutip dari laman Federasi Catur Dunia (FIDE), Samantha punya rating 1879. Dia berada di peringkat 19 pecatur wanita Indonesia dan 366 di Asia. Di level pecatur wanita dunia, Samantha 'hanya' berada di rangking 2392, tapi di umurnya yang baru sepersepuluh abad, cita-cita sang bocah menjadi Grand Master masih terbuka lebar.
ADVERTISEMENT
"Secepat mungkin, soalnya sekarang itu rekor dunia umur 13-15 tahun. Saya mau pecahin rekor peraih Grand Master termuda," ucap Samantha kepada awak media Juli lalu.
So Siau Sian yang ikut menemani di Spanyol sekaligus menjadi saksi perayaan gelar juara dunia kedua Samantha pun mendukung penuh ambisi sang anak. Bagi sang ibu, Samantha yang kini mengenyam pendidikan lewat homeschooling ini memiliki mental baja, bahkan melebihi bocah laki-laki seusianya.
"Di Spanyol saya deg-degan. Proses sebelum juara itu panjang, di babak sembilan Samantha kalah. Sepanjang turnamen yang diikuti anak saya dan saya temani, ini yang paling bikin saya sedih," ujar So.
"Di babak sembilan itu saya menangis, sudah bayangkan gelar lepas. Samantha juga menangis lima menit, dia lalu bilang ke saya, 'Masih ada dua babak Mom, besok yang China pasti kalah dari Rusia. Babak 11 saya ketemu yang Rusia dan saya pasti menang'. Dan, itu betul terjadi. Anaknya optimis sekali," katanya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan