Sanksi Seumur Hidup dari IBL untuk Pemain yang Terlibat Match Fixing

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pertandingan basket. (Foto: MOHD FYROL / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertandingan basket. (Foto: MOHD FYROL / AFP)

Publik Tanah Air, khususnya penggemar bola basket, dibuat geger dengan mencuatnya kasus match fixing atau pengaturan skor yang dilakukan sembilan anggota klub Siliwangi Bandung.

Fakta tersebut terungkap saat surat keputusan sanksi diturunkan oleh Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) --selaku induk organisasi basket Indonesia-- dengan nomor 508/XI/PP/2017 tanggal 21 November lalu.

Dalam surat tersebut, Perbasi memberikan sanksi bervariasi terhadap delapan pemain yakni Ferdinand Damanik, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa Herlusdityo, Untung Gendro Maryono, Fredy, Vinton Nolan Sarawi, Robertus Riza Raharjo, dan satu ofisial tim yakni Zulhilmi Faturrohman.

Tak hanya penggemar yang dibuat terkejut, para petinggi organisasi olahraga di Indonesia pun ikut geram, termasuk Direktur Indonesia Basketball League (IBL), Hasan Gozali, dan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Erick Thohir. Keduanya mengecam tindakan indisipliner yang dilakukan sembilan nama itu.

Luka yang begitu dalam sudah ditunjukkan IBL melalui keputusan tegasnya. Merujuk pada aturan IBL Bab 4 Pasal 7 Ayat 2, penyelenggara turnamen basket bergengsi itu menjatuhkan sanksi seumur hidup dan denda Rp 100 juta kepada sembilan pelaku pengaturan skor.

Ditemui dalam konferensi pers IBL musim 2017-2018 di Gedung iNews, Kamis (23/11/2017), Hasan mengatakan pihaknya tidak memberi ampun kepada siapa saja yang melukai sportivitas dalam pertandingan. Sanksi seumur hidup pun dirasa tepat untuk memberikan efek jera kepada pelaku.

Sesi konferensi pers IBL 2017/18. (Foto: kumparan/Karina Nur)
zoom-in-whitePerbesar
Sesi konferensi pers IBL 2017/18. (Foto: kumparan/Karina Nur)

"Kasus ini sangat disayangkan, prinsip kami menjunjung sportivitas. IBL berharap terkuaknya kasus ini bisa menghindari kejadian match fixing lain. Betul, hukuman seumur hidup sangat berat, tapi kami tidak berikan toleransi. Mereka (pelaku) sudah dilarang, tidak bisa jadi pemain, pelatih, atau bahkan pemilik klub," tegas Hasan.

"Untuk klub Siliwangi Bandung yang baru berpindah kepemilikan, akan kami sosialisasikan untuk memilih pemain baru. Ke depannya, mungkin (nominal) rupiahnya kita besarkan, untuk pemain asing akan kita laporkan ke FIBA," paparnya.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Erick Thohir pun satu suara dengan Hasan Gozali. Erick menegaskan KOI yang dipimpinnya juga menolak dengan tegas kegiatan match fixing di dunia olahraga.

"KOI mendukung liga bisa berjalan profesional, kami minta ke Perbasi hukuman ini berlaku untuk semua pemain, wasit, club owner, dan pemain asing. Kita tidak bisa menghentikan bandarnya, tapi saat masuk lapangan ini sudah ranah hukum," ucap Erick.

Menutup perjumpaan sore itu, Erick berharap pemain lain dapat belajar dari kasus ini agar tidak menyia-nyiakan kariernya di dunia basket.

"Karena itu, KOI mendukung Perbasi yang telah melakukan suatu terobosan. Ini juga harus dilaporkan ke pemerintah agar bisa diantisipasi. Saya pesan ke pemain, sayang sekali kalau karier mereka cacat karena match fixing. Main basket bisa sampai umur 30 tahun, dan setelah itu bisa kembali sebagai pelatih atau pemilik klub. Banyak yang bisa dikembangkan ketika punya nama baik," ujarnya.