kumparan
4 Agu 2018 9:35 WIB

Sejarah eSports Indonesia: Dari Warnet Menuju Panggung Dunia

geliat eSports di Indonesia. (Foto: M. Faisal/kumparan)
"Saya takjub ketika melihat orang-orang di sini (Indonesia) bisa bermain game online melalui ponsel, di pinggir jalan, atau ketika sedang nongkrong. Di Inggris, kami (para gamer) tidak bisa seperti itu," seperti itu Gustav Wood, Production Manager Ultimo Hombre, menggambarkan perbedaan mencolok kehidupan gamer di Inggris dan Indonesia kepada kumparanSPORT.
ADVERTISEMENT
Bersama timnya, Gustav sedang mempromosikan kompetisi game bertajuk Ultimo Hombre Axis Pyramid League, yang akan berlangsung pada 10-11 Agustus 2018 di The Hall, Senayan City, Jakarta.
Banyaknya orang bermain game di tempat umum, dianggap Gustav sebagai bentuk perkembangan pasar game online di Indonesia. Suatu 'kebebasan' yang belum pernah ia dan gamer lain dapatkan di negara asalnya, Inggris.
Padahal, Indonesia masih dalam tahap merangkak di awal penemuan teknologi, khususnya komputer dan perangkat pendukungnya. Ketika komputer pertama khusus bermain game ditemukan pada 1951, Indonesia masih meraba dunia luas.
Ketika konsol game pertama dikenalkan pada dunia di era 1960-67, Indonesia tengah berada dalam masa transisi kepemimpinan dari Ir. Soekarno ke Soeharto. Indonesia lagi-lagi masih berbenah. Sementara, perkembangan teknologi kian menggeliat.
ADVERTISEMENT
Kelahiran internet pada 1983 menjadi pintu yang mengakrabkan Indonesia dan dunia dengan game online. Dengan teknologi jaringan yang memungkinkan sebuah game diakses oleh banyak orang di pelbagai negara dalam satu waktu, game sudah melebarkan sayapnya ke penjuru dunia termasuk Indonesia.
Muncul Netrek pada 1988 sebagai game internet pertama yang menggunakan metaserver, menjadi pijakan selanjutnya dari kemunculan kompetisi-kompetisi game di dunia, termasuk di Indonesia. Pada perkembangannya, game yang dipertandingkan dalam skala besar dan melibatkan banyak negara akan masuk dalam kategori eSports.
Kemudian pertanyaannya, bagaimana eSports bisa menjadi begitu populer di Indonesia saat ini? Apalagi, Indonesia cukup tertinggal menyoal teknologi. Contohnya, tentang internet sendiri. Penggunaan internet mulai marak di Indonesia pada 1995, ketika IndoNet muncul sebagai ISP (Internet Service Provider) komersial pertama.
ADVERTISEMENT
Keberadaan komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet membuat game online di Indonesia mulai marak dan dari sini, perkembangan internet berlanjut ke arah komersial dengan bermunculannya warung internet (warnet). Alhasil, semakin banyak pula orang yang bisa bermain game online. Dan bisa jadi, game yang dimainkan itu termasuk kategori eSports.
Netrek, salah satu pijakkan awal game online di dunia. (Foto: Dok. Wikimedia Commons)
Lantas, mari kita mengulas sejarah eSports di Tanah Air bersama Eddy Lim, Ketua Indonesia eSports Association (IeSPA). Sebelum menyandang jabatan ini, Eddy menjadi saksi hidup bagaimana perkembangan game online dan eSports, karena merupakan pendiri dari Indonesia Gamers, yang saat ini dikenal dengan Liga Game.
Selaiknya platform jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter, Eddy menyebut bahwa Liga Game memang dibentuk karena memiliki sebuah tujuan: mengumpulkan para gamers di Indonesia. Karena media untuk bisa mendukungnya belum mendukung, maka dalam praktiknya, Liga Game menganut prinsip jemput bola.
ADVERTISEMENT
Liga Game menjadi pionir bagi kemunculan eSports di Indonesia saat menghelat kompetisi game online pertama pada 1999. Dalam keadaan negara yang sedang mengalami masa transisi politis itu, Eddy dan kolega mencoba untuk melebarkan sayap permainan game di Indonesia.
Hambatan rupanya tak melulu berbentuk penolakan dalam upaya yang dilakukan Liga Game. Minimnya fasilitas dan terbatasnya jangkauan informasi membikin Eddy harus turun gunung memperkenalkan dan mengajak pemain game untuk ikut berkompetisi.
Menariknya, menjamurnya warnet di akhir era 90-an hingga awal 2000-an, menyediakan lahan gembur untuk dijadikan tempat promosi. Meski harus keluar-masuk banyak warnet, kompetisi game online pertama di Indonesia akhirnya dihelat dengan hanya mempertandingkan dua game.
"Liga Game dibentuk ketika internet mulai marak, sehingga saya berpikir untuk membuat forum. Awalnya hanya teman-teman, kemudian semakin banyak. Karena dulu belum ada Facebook (atau media sosial lain), di dunia maya kami kumpul di forum. Makanya, dibuat situsnya pada 2001, sekaligus meresmikan komunitas," kata Eddy saat dihubungi kumparanSPORT.
ADVERTISEMENT
"Dulu internet tidak sebanyak sekarang dan belum ada smartphone, sehingga orang-orang sangat mengandalkan komputer lalu menggunakan Yahoo Messenger dan MiRC untuk bisa berinteraksi. Anggota Liga Game pun kebanyakan berawal dari obrolan di MiRC. Tapi, karena obrolan di MiRC bersifat sementara, setelah ditutup hilang, akhirnya dibentuklah forum (website)."
"Pada 1999, kami sebetulnya sudah mulai dan masih menggunakan nama Indonesia Gamers. Baru pada 2001 kami membuat website dengan nama Liga Game. Karena apa? Karena Indonesia Gamers namanya kepanjangan," ujarnya sambil terkekeh.
"Tahun 1999, kami sudah melangsungkan sebuah kejuaraan karena sudah banyak warnet. Tapi, tidak semudah sekarang. Kalau dulu, kami harus mendatangi warnet satu per satu. Lalu kami jelaskan bahwa akan ada kejuaraan dengan aturannya seperti apa, lokasinya di mana. Saat itu, game-nya Quake II dan Starcraft."
ADVERTISEMENT
Animo penonton yang menyaksikan langsung kompetisi eSports. (Foto: Dok. Counter-Strike.net)
Indo Game kemudian menjadi pintu pertama bagi masuknya kompetisi game berskala internasional di Indonesia dengan menjadi event organizer (EO) kejuaraan World Cyber Games (WCG) pada 2002.
"Liga Game juga EO pertama, menjalankan kejuaraan game pertama, dan mengirimkan atlet eSports pertama ke luar negeri. Waktu itu, kami menjadi EO kejuaraan World Cyber Games pada 2002 yang diselenggarakan di delapan kota di Indonesia," imbuh Eddy.
"Kami berkeliling ke semua kota itu. Setiap datang ke satu kota, kami bertemu dengan perkumpulan warnetnya. Syaratnya, untuk bisa diselenggarakan di sebuah kota, harus ada minimal 32 warnet yang tergabung. Karena begitu banyak dan harus berkeliling, persiapannya saja memakan waktu satu tahun," kenang Eddy.
ADVERTISEMENT
Dengan skala yang lebih besar, game-game online yang dimainkan pun semakin banyak. Tercatat pada tahun 2002, bertepatan dengan Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan itu, beberapa game seperti 2002 FIFA World Cup, Age of Empires II, Counter-Strike, dan StarCraft: Brood War dipertandingkan.
Dari sini, perkembangan eSports di Indonesia berjalan naik-turun lantaran semakin banyaknya game online baru bermunculan --yang belum tentu termasuk ke dalam kategori eSports-- membikin animo masyarakat untuk mencoba game eSports jadi berkurang. Puncaknya, ketika game semacam Ragnarok ramai pada 2003 hingga 2006.
Namun, karena telah memiliki pondasi cukup kuat, eSports tetap menemukan jalan untuk terus berkembang. Bahkan, pada April 2018 lalu, kejuaraan Indonesia Games Championship yang mengundang tim-tim mancanegara, diikuti lebih dari 9.000 peserta dan dihadiri lebih dari 13 ribu pengunjung. Total hadiahnya pun mencapai Rp 500 juta.
ADVERTISEMENT
Tak berhenti sampai di situ. Indonesia yang notabene tertinggal beberapa kali dalam menerima perkembangan teknologi, termasuk game online, malah berkesempatan menjadi tempat lahirnya sebuah sejarah baru bagi eSports dunia. Sebabnya, eSports resmi menjadi cabang olahraga (cabor) ekshibisi di Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang.
Jika dirunut dari kisah Eddy tadi, semua ini bermula dari kompetisi yang ditabur di warnet-warnet. Dan akhirnya, Indonesia mulai menuai hasilnya: menjadi panggung dunia yang mementaskan babak baru perjalanan eSports.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan