Soal Marquee Player di Belahan Dunia Lain

Dalam buku 'The New Partridge Dictionary of Slang and Unconventional English' keluaran Routledge, Tom Dalzell dan Terry Victor secara gamblang menjelaskan definisi marquee player. Menurut mereka, "marquee player" adalah "a leading or pre-eminent professional athlete with the ability to attract a large audience". Seorang atlet profesional top yang mampu menarik banyak penonton.
Definisi itu tak bisa dilepaskan dari makna harfiah "marquee" sendiri. Menurut Kamus Cambridge, "marquee" adalah "a roof-like structure that sticks out over the entrance to a public building, especially a theatre, and on which there is usually a sign." Ia adalah bagian dari bangunan, biasanya teater, yang berfungsi untuk mengumumkan apa yang sedang terjadi di dalam bangunan tersebut. Tujuannya jelas: agar orang-orang tertarik dan mau datang menonton pentas di gedung tersebut.
Marquee player, pada dasarnya, adalah papan iklan berjalan. Mereka adalah sarana reklame bagi kompetisi tempat mereka berlaga. Keberadaan pemain-pemain spesial berfungsi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kompetisi yang mereka ikuti itu punya kelas dan kualitas. Tujuannya, selain untuk menarik penonton, tentu untuk menarik marquee player lain sehingga penonton pun semakin banyak.
Kalau dibilang ujung-ujungnya duit, ya, memang. Pasalnya, marquee player memang biasanya ada di kompetisi profesional. Mereka ini adalah orang-orang yang dibayar lebih dari rata-rata pemain lain untuk menjadi papan iklan berjalan itu tadi.
Di Liga Indonesia, mulai musim ini keberadaan marquee player bakal dimulai. Michael Essien menjadi pelopornya.
Aturan marquee player di sini, walau detailnya belum jelas, sepertinya bakal mengacu pada aturan marquee player di Major League Soccer (MLS) dan A-League. Di dua kompetisi itu, diberlakukan salary cap dan marquee player adalah pemain-pemain yang boleh digaji lebih dari batasan gaji yang ada. Mereka diberi perlakuan spesial tentu karena punya pengalaman, kemampuan, dan reputasi.
Pada tahun 2017 ini, ditetapkan bahwa salary cap yang diterapkan adalah 480.625 dolar AS per pemain per tahun. Selebihnya, ada aturan lain yang mengatur soal seberapa gaji marquee player berdasarkan usia mereka.
(Selengkapnya, bisa dibaca di rilis resmi MLS ini)
Saat ini, di MLS ada 51 pemain yang terdaftar sebagai marquee atau designated player. Tambahan terbaru legiun tersebut adalah Bastian Schweinsteiger yang baru saja direkrut Chicago Fire. Mantan gelandang internasional Jerman itu digaji 4,5 juta dolar per tahun di Windy City. Jumlah yang diterima Schweini itu hampir sama dengan yang diterima Clint Dempsey.
(Baca Juga: Jalan Berangin Bastian Schweinsteiger)
Di MLS, setiap tim paling banyak boleh memiliki tiga pemain dengan status designated player. Selain bintang veteran seperti Schweinsteiger, ada dua macam designated player lain di kompetisi ini.
Mereka adalah para bintang Tim Nasional Amerika Serikat seperti Dempsey (Seattle Sounders), Michael Bradley (Toronto FC), dan Alejandro Bedoya (Philadelphia Union), serta para pemain asing yang dianggap punya kemampuan lebih. Contohnya antara lain Nicolas Lodeiro (Sounders), Nemanja Nikolic (Fire), Romain Alessandrini (LA Galaxy), Giovani dos Santos (Galaxy), dan Sebastian Giovinvo (Toronto FC). Giovinco sendiri, bersama Kaka, merupakan pemain dengan gaji termahal di MLS (mencapai 7 juta dolar per musim).

Sepuluh tahun sejak David Beckham menginjakkan kaki di MLS, jumlah marquee player di liga tersebut sudah berlipat ganda. Apakah dengan begitu, proyek ini bisa dikatakan sudah berhasil?
Bisa ya, bisa tidak. Jika tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan popularitas kompetisi dan mengundang lebih banyak bintang lagi untuk berlaga, jelas proyek itu berhasil. Namun, dari segi prestasi, masih jauh.
Hingga kini, baru ada dua tim MLS yang sukses menjuarai CONCACAF Champions League, yakni LA Galaxy dan Chicago Fire. Namun, keberhasilan kedua tim itu justru terjadi ketika aturan designated player belum diberlakukan. Setelah itu, hanya ada Real Salt Lake yang mampu menjadi runner-up pada musim 2010/11 lalu. Ketika itu, mereka dikalahkan klub Meksiko, Monterrey, di final.
Kemudian, mari beralih ke A-League di Australia. Seperti halnya, MLS, jumlah maksimum marquee player di A-League pun tiga. Untuk mereka, tim-tim boleh menghamburkan uang semampu mereka. Akan tetapi, salary cap di A-League jauh lebih rendah dibanding MLS. Jika batas maksimal gaji yang diterima pemain non-marquee di MLS hampir mendekati 500 ribu dolar AS, di A-League, batasannya adalah 2,6 juta dolar Australia per tim.
(Aturan selengkapnya, bisa dibaca di sini)
Untuk urusan marquee player, A-League memang masih tertinggal dari MLS. Jika MLS punya tiga jenis pemain, A-League hanya punya bintang veteran dan bintang lokal. Emile Heskey (Newcastle Jets), Alessandro Del Piero (Sydney FC), dan Robbie Fowler (Perth Glory) adalah contoh bintang veteran yang dimaksud. Sementara itu, Harry Kewell (Melbourne Heart), Brett Emerton (Sydney FC), dan Tim Cahill (Melbourne City) adalah perwakilan para pemain lokal.

Sampai sekarang, kilau A-League memang masih kalah jauh dibanding MLS. Selain itu, keberhasilan Western Sydney Wanderers menjuarai Liga Champions Asia pada 2014 lalu pun bersih dari campur tangan para marquee player bernama besar. Jadi, boleh dibilang hingga saat ini, kalau memang keberadaan marquee player memberi manfaat bagi tim-tim A-League, hal itu hanya dirasakan oleh penikmat sepak bola Australia saja.
Nah, meski populer di sepak bola, sebenarnya marquee player ini juga ada di olahraga-olahraga lain. Kompetisi Australian Football League (AFL), kompetisi Premiership Rugby, dan World Team Tennis pun mengenal keberadaan marquee player. Alasannya sama. Selain untuk meningkatkan kualitas kompetisi, tentunya juga untuk mengeruk uang.
Rata-rata, jumlah marquee player yang diperbolehkan untuk setiap tim di sebuah kompetisi memang tidak banyak. Jika MLS dan A-League membolehkan tiga, Premiership Rugby di Inggris membolehkan tiap klubnya memiliki dua marquee player. Selain dua marquee player, setiap tim hanya boleh mengeluarkan 5,1 juta poundsterling untuk membayar gaji pemain. Aturan ini sendiri mulai diberlakukan pada musim 2015/16 lalu.
