Suara Hati Aldila Sutjiadi: Tenis Tak Lagi Anak Tiri & Didukung Birokrasi

kumparanSPORTverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petenis tunggal putri Indonesia Aldila Sutjiadi meraih medali emas di SEA Games 2019 di lapangan Rizal Memorial Tennis Centre, Manila, Filipina. Foto: ANTARA FOTO/Pelti/Dwi Ari Setyadi
zoom-in-whitePerbesar
Petenis tunggal putri Indonesia Aldila Sutjiadi meraih medali emas di SEA Games 2019 di lapangan Rizal Memorial Tennis Centre, Manila, Filipina. Foto: ANTARA FOTO/Pelti/Dwi Ari Setyadi

Aldila Sutjiadi tak pernah main-main soal tenis. Sebab, olahraga tenis bukan sekadar pilihan karier, melainkan telah menjadi bagian hidup atlet kelahiran Jakarta ini. Bagaimana tidak? Ia telah menjajal olahraga raket satu ini sejak usia 5 tahun.

Segenap prestasi telah diukirnya untuk Indonesia. Selama ini, Aldila telah sangat bangga bertanding di mana pun dengan panji Merah Putih. Akan tetapi, ia masih merasa dibikin miris soal birokrasi.

Bagi Aldila, olahraga tenis masih terasa bak olahraga anak tiri di Indonesia. Perhatian masyarakat luas dan pemerintah seolah masih lebih sering terfokus pada bulu tangkis dan sepak bola.

"Tenis kan bukan olahraga utama di Indonesia seperti sepak bola atau bulu tangkis. Jarang sekali melihat ada atlet tenis [Indonesia yang disorot hingga viral] di TV atau media sosial," kata Aldila kepada kumparan, Jumat (4/11).

Aldila Sutjiadi, Petenis RI yang juara di Copa Colsanitas, Bogota, Colombia. Foto: Instagram/@dila11

Jangan salah sangka, Aldila Sutjiadi berkata seperti itu bukan karena haus apresiasi. Namun, ia percaya, jika semakin banyak publikasi tentang petenis Indonesia, itu akan berdampak pada peningkatan prestasi.

Sebab, menjajal profesi sebagai petenis profesional tidaklah murah. Sang atlet bukan tak mungkin harus merogoh kocek pribadi untuk bisa bertanding di luar negeri.

"Harapan saya untuk pemerintah dan media adalah bisa memublikasikan pertenisan Indonesia dan atlet tenis Indonesia. Dengan mereka dapat publikasi, akan banyak sponsor yang tertarik membantu," jelas kolektor 1 emas Asian Games dan 3 emas SEA Games itu.

Namun jelas, harapan petenis kelahiran 2 Mei 1995 tersebut tak cuma bantuan publikasi. Aldila juga berharap pemerintah dalam hal ini Kemenpora membuat birokrasi yang baik agar prestasi petenis lokal kian melesat.

Ilustrasi berlatih tenis. Foto: Shutter Stock/kumparan

"Pastinya banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk membantu pertenisan Indonesia. Paling gampangnya membuat turnamen nasional atau internasional di Indonesia. Contoh di Thailand, mereka punya turnamen ITF [International Tennis Federation] cukup banyak. Mungkin ada sekitar 10 atau lebih dalam setahun," harapnya.

"Atlet Indonesia banyak yang berprestasi, tetapi tidak bisa bertanding ke luar negeri karena masalah dana. Kalau ada pertandingan di Indonesia, mereka punya kesempatan mendapat ranking nasional maupun internasional."

"Selain itu, saya juga berharap pemerintah mendukung atlet seperti saya dan petenis lainnya untuk mengikuti turnamen di luar negeri. Di Indonesia kan belum ada WTA, jadi saya harus ke luar negeri, itu butuh biaya untuk traveling, pesawat, hotel," tambahnya.

Selain Thailand, Hong Kong juga negara yang disebut Aldila sangat mendukung prestasi petenisnya. Ia menceritakan bagaimana asosiasi tenis di sana bisa membiayai penuh petenis nasionalnya untuk bertanding di berbagai negara.

Petenis tunggal putri Indonesia Aldila Sutjiadi meraih medali emas di SEA Games 2019 di lapangan Rizal Memorial Tennis Centre, Manila, Filipina. Foto: ANTARA FOTO/Pelti/Dwi Ari Setyadi

"Teman saya ada yang bermain untuk Hong Kong, saya dengar cerita dia, pas COVID-19 kan enggak ada turnamen di Hong Kong, jadi dia ke luar negeri untuk bertanding, semua biaya latihan dan turnamen ditanggung oleh pemerintah atau Asosiasi Tenis Hong Kong. Dan itu untuk persiapan Asian Games," kisahnya.

"Itu kan Hong Kong negara kecil dan penduduknya sedikit, masa kita Indonesia yang besar dan penduduknya banyak kalah sama Hong Kong yang bisa kirim pemain ke luar negeri untuk bertanding dan membiayai semua. Dari situ, mungkin bisa jadi catatan untuk pemerintah dan Asosiasi Tenis Indonesia [Pelti]," tambahnya.

Sebetulnya, Pemerintah Indonesia sudi memberikan bantuan finansial untuk Aldila Sutjiadi dan petenis lainnya. Akan tetapi, birokrasinya kurang fleksibel.

"Asosiasi [Pelti] dan pemerintah memberikan bantuan karena kami dapat bantuan untuk persiapan SEA Games dan Asian Games. Tapi, kami harus ngasih proposal setahun sebelum turnamen. Misalnya untuk 2023, kami harus kasih proposal Desember, kami kasih daftar turnamen yang kami mau ikuti," jelas Aldila.

"Tapi kan kalau di tenis, susahnya itu setiap minggu ada beberapa turnamen. Jadi, enggak cuma satu turnamen yang akan saya ikuti. Nanti sebelum Australian Open, ada 2 minggu turnamen, yang minggu pertama di Adelaide, Australia; atau Auckland, Selandia Baru. Yang minggu kedua di Adelaide atau Hobart, Australia."

Aldila Sutjadi saat menjuarai WTA 125 Tampico, Meksiko, pada Oktober 2022. Foto: Dok. Pribadi

"Nah, kalau mengikuti budget pemerintah, saya harus sudah ngasih tahu minimal satu bulan sebelum turnamen. Sedangkan, kami baru tahu masuk atau enggak ke turnamen itu 2 minggu sebelumnya. Misalnya, saya minta budget buat Adelaide, tetapi saya diterimanya di Auckland, nah, itu enggak bisa diganti," tambahnya.

Dalam perumpamaan situasi tersebut, Aldila Sutjiadi memang cuma bisa memilih satu di antara dua. Jadi jika ia mengajukan proposal untuk bermain di Adelaide dan ternyata bisanya bertanding di Auckland, dana dari proposal yang diajukan tak bisa dipindahkan ke turnamen lain alias hangus.

"Iya, saya tahu, maksudnya semua kan karena pakai uang pemerintah harus ada data semua, harus mengikuti prosedur mereka. Dari Pelti pun sudah menjelaskan ke Menpora, tetapi susah juga karena akhirnya mereka cuma menegaskan peraturan yang ada. Harapannya, sih, di 2023 bisa lebih fleksibel untuk pendanaan," tuturnya.

Momen tersulit dalam hal finansial di karier Aldila sebagai petenis profesional sejauh ini adalah jika harus mengikuti turnamen yang bertepatan dengan musim liburan. Di saat itulah, harga tiket pesawat hingga hotel naik.

"Kami atlet tenis selalu beli tiket last minute, karena kami enggak tahu kapan selesai tandingnya dan harus segera berangkat ke destinasi berikutnya. Jadi, kami enggak bisa beli tiket promo, apalagi tiket itu enggak bisa di-cancel," jelasnya.

Aldila Sutjiadi, Petenis RI yang juara di Copa Colsanitas, Bogota, Colombia. Foto: Instagram/@dila11

Pada akhirnya, Aldila tak cuma memikirkan kariernya sendiri. Ia ingin bisa memiliki penerus. Maka dari itu, ia pun berharap pemerintah bisa menciptakan birokrasi yang mendukung petenis mulai di level akar rumput.

"Harapan saya pastinya untuk pemerintah, Pelti, dan masyarakat Indonesia agar bisa membantu atlet tenis Indonesia yang mengejar impian jadi yang terbaik di kancah dunia, baik itu dari [penyelenggaraan] turnamen, biaya turnamen, publisitas, popularitas," ucap Aldila.

"Semoga mereka bisa memperhatikan lagi atlet-atlet Indonesia, bukan cuma di Jakarta, tetapi juga daerah terpencil. Pada zaman saya, banyak pemain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Semoga bisa menemukan talenta-talenta itu dan mengembangkannya," tandasnya.

Bicara soal prestasi, Aldila Sutjiadi sukses meraih 2 titel Women's Tennis Association (WTA) Tour, tur tenis wanita tingkat atas dunia, pada 2022. Yang pertama adalah Copa Colsanitas, turnamen level WTA 250 di Kolombia pada April 2022; dan turnamen WTA 125, Abierto Tampico di Meksiko pada Oktober lalu.

Saat ini, Aldila berada di peringkat 51 WTA. Targetnya adalah menembus 50 besar di akhir 2022. Setelahnya pada tahun depan, ia akan coba menembus top 30. Ini adalah bagian dari rencananya meniti karier hingga suatu saat nanti harapannya bisa menjuarai Grand Slam.

instagram embed