Suparni, Belajar Menangkat Bola Besi Peluru Sejak di Bangku SD

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suparni Yati ketika berlaga di nomor tolak peluru. (Foto: Media APG Indonesia 2017)
zoom-in-whitePerbesar
Suparni Yati ketika berlaga di nomor tolak peluru. (Foto: Media APG Indonesia 2017)

Tak ada atlet hebat yang lahir secara instan. Begitu pula dengan prestasinya. Tak ada pula podium yang berhasil dijejak secara tiba-tiba. Karena segala sesuatunya membutuhkan proses yang disertai dengan perjuangan.

Kondisi itu dirasakan benar oleh Suparni Yati. Keberhasilannya memecahkan rekor Asia pada cabang olahraga (cabor) atletik nomor tolak peluru di ASEAN Para Games 2017 tak semerta-merta diraihnya. Apalagi, dengan kekurangan yang dimilikinya. Perjuangan pun harus dilaluinya dua kali lipat.

Nama Suparni tercatat dalam buku sejarah setelah mampu mencatatkan lemparan sejauh 11,03 meter. Hasil tersebut menggeser rekor Asia milik atlet Malaysia atas nama Nursuhana binti Ramlan yang dibuatnya pada 2012 sejauh 10,71 meter ketika di Paralimpiade London 2012.

Kisah heroik Suparni mengharumkan nama bangsa sejatinya telah dimulai semenjak kecil. Ia juga tak sendiri, setelah sang bapak angkat bernama Jasman membantunya.

Karena Jasman pula yang membuat Suparni kecil tertarik dengan olahraga tolak peluru. Jadilah, Jasman memegang peranan ganda yakni sebagai bapak juga pelatih.

"Saya sudah mencoba mengangkat bola besi peluru itu sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Bapak angkat, yang memang dekat dengan keluarga saya, yang mengajak saya untuk berlatih sampai akhirnya saya bisa ikut Pekan Olahraga Daerah di Bengkalis, Riau pada 2009," kenang Suparni dalam keterangan resminya.

Pengalamannya sebagai atlet semakin terasah usai mengikuti Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XIV di Riau pada 2012. Prestasi yang cemerlang kemudian membawanya ke Peparnas XV di Jawa Barat tahun 2016 di mana dia berhasil menggondol dua emas dan satu perak.

"Dari sana saya kemudian dipanggil ke pemusatan latihan nasional untuk ASEAN Para Games 2017," ujar perempuan berusia 24 tahun itu.

Para atlet tolak peluru kategori F20 ini adalah mereka yang memiliki keterbatasan kecerdasan atau IQ. Mereka pada umumnya mempunyai IQ di bawah 75.

Suparni Yati saat naik podium. (Foto: Media APG Indonesia 2017.)
zoom-in-whitePerbesar
Suparni Yati saat naik podium. (Foto: Media APG Indonesia 2017.)

Meski demikian, semua kekurangan itu nyatanya tak menjadi halangan bagi Suparni untuk berjuang meraih prestasi tertinggi.

"Semua itu karena latihan yang giat dan berkat dukungan pelatih," tambah Suparni.

Lantas, apa target Suparni berikutnya?

Raihan medali emas plus memecahkan rekor ASIA di ASEAN Para Games 2017 tak membuat Suparni puas. Ada keinginan yang terpendam yang ingin diwujudkan pada tahun depan.

"Saya mau mendapatkan prestasi yang lebih tinggi lagi. Semoga kelak bisa berkompetisi di Asian Para Games 2018 di Indonesia dan Paralimpiade 2020 di Tokyo," katanya optimistis.

Selamat, Suprani!