Super Bowl: Lelucon yang Berubah Menjadi Perayaan Nasional

Satu hal lucu dari Super Bowl adalah bahwa nama ini awalnya disodorkan sebagai sebuah candaan. Nama ini merupakan hasil usulan dari Lamar Hunt, pemilik Kansas City Chiefs pada dekade 1960-an. Tak dinyana, lima dekade kemudian, Super Bowl berubah menjadi sebuah perayaan berskala nasional.
Hunt, meski dikenal sebagai pemilik Chiefs, sebetulnya punya peran yang jauh lebih besar dari itu. Dia adalah putra dari pengusaha minyak kaya raya bernama Haroldson Lafayette "H.L." Hunt dan pada akhir dekade 1950-an, dia kebingungan untuk memutar uang yang diwarisi dari sang ayah.
Kala itu, Hunt sebenarnya ingin sekali memiliki sebuah tim National Football League (NFL). Hunt pun melirik Chicago Cardinals yang gagal bersaing dengan Chicago Bears sebagai tim utama di Windy City. Oleh Hunt, Cardinals rencananya bakal dipindahkan ke kampung halamannya, Dallas.
Hunt tidak sendiri. Ada tiga orang lain yang juga mengincar Cardinals, yakni Bud Adams, Bob Howsam, dan Max Winter. Namun, segala upaya dari keempat orang ini gagal menggoyahkan kukuhnya pendirian pemilik Cardinals.
Setelah gagal membujuk pemilik Cardinals, keempat orang itu kemudian menemui komisioner NFL, Bart Bell. Mereka mengajukan usulan ekspansi kepada NFL. Namun, karena dirasa sangat berisiko, Bell pun menolak usulan tersebut. Jadilah ketiga orang itu pulang dengan tangan hampa.
Ya, tiga, karena Hunt tidak pulang dengan tangan hampa. Dalam perjalanan pulang ke Dallas, dia mendapat ide untuk membuat liga tandingan. Segera setelah itu dia pun menghubungi Adams, Howsam, Winter, serta satu rekan bisnis Winter, Bill Boyer. Pada 22 Agustus 1959, terbentuklah American Football League (AFL).
Awalnya, hanya ada delapan tim di AFL yang terbagi dalam dua conference. Di Timur ada New York Titans (sekarang Jets), Boston (sekarang New England) Patriots, Buffalo Bills, dan Houston Oilers (sekarang Tennessee Titans). Sementara itu, di Barat ada Los Angeles Chargers, Denver Broncos, Oakland Riders, dan Dallas Texans.
Tim-tim itu pun sebenarnya dianggap gagal menampilkan permainan football terbaik. Maka dari itu, stadion-stadion tempat mereka bertanding jarang sekali terisi penuh. Walau begitu, AFL beruntung karena ada dua stasiun televisi yang bersedia menayangkan pertandingannya, yakni American Broadcasting Company (ABC) dan National Broadcasting Company (NBC).
Dari sini, AFL pun mampu bersaing dengan NFL dalam upaya menarik talenta-talenta terbaik. Tak cuma itu, perubahan tim pun sudah mulai terjadi pada pertengahan dekade 1960-an, di antaranya kepindahan Chargers dari Los Angeles ke San Diego, Texans ke Kansas City (menjadi Kansas City Chiefs), dan pergantian New York Titans menjadi Jets.
Apa yang terjadi di AFL ini tentu tidak luput dari perhatian bos-bos NFL. Pasalnya, tim-tim AFL sudah dianggap mengancam eksistensi NFL dengan aksi perebutan pemain yang marak terjadi. Pada 1966, AFL dan NFL memutuskan untuk melakukan merger.

Namun, untuk melakukan merger, ada satu hal yang harus dilakukan pihak NFL. Mereka harus bersedia mengirim tim juaranya untuk menghadapi kampiun AFL. Pada 1967, pertandingan ini untuk pertama kalinya digelar dengan tajuk AFL-NFL World Championship.
Laga itulah yang kemudian disebut sebagai gelaran Super Bowl pertama. Ketika itu, Hunt mengirimkan surat kepada komisioner NFL, Pete Rozelle, yang berbunyi: "Aku cuma bercanda ketika menyebutnya 'Super Bowl'. Mungkin nanti bisa diperbaiki lagi ke depannya."
Alasan Hunt ketika itu sederhana saja. Saat itu dia memiliki dua anak, seorang putra dan putri. Putri Hunt ketika itu suka sekali bermain dengan bola mainan yang bernama Super Ball. Dengan permainan kata-kata sederhana, Super Ball pun menjadi Super Bowl.
Walau nama 'Super Bowl' ini awalnya hanya candaan, sebenarnya ada asal muasal yang sahih mengapa pertandingan sebesar Super Bowl dinamai 'Super Bowl'. Sejak dekade 1920-an dulu, pertandingan besar antartim universitas selalu disebut sebagai Bowl karena laga pertama memang diselenggarakan di Rose Bowl, Pasadena. Dari sana, muncullah Bowl-Bowl lain seperti Miami Bowl, Sugar Bowl, dll.
Pada laga Super Bowl pertama, 15 Januari 1967, Green Bay Packers sebagai juara NFL bersua dengan Kansas City Chiefs di Los Angeles Memorial Coliseum. Namun, jangan harap Super Bowl ini semeriah Super Bowl LII lalu di Minneapolis. Super Bowl pertama itu bahkan tidak semeriah laga-laga final football universitas.

Kala itu, tidak ada penyanyi papan atas yang melantunkan lagu kebangsaan. Lalu, jangan tanya pula soal halftime show yang gaungnya sampai ke seluruh penjuru dunia itu. Hari itu, yang ada hanya marching band dan 4.000 merpati yang dilepas ke udara.
Tak cuma hiburan yang seadanya, kualitas pertandingan pun seadanya. Jangan harap ada trick play seperti yang dilakukan Philadelphia Eagles lewat Trey Burton dan Nick Foles. Hari itu, Chiefs dijadikan bulan-bulanan oleh Packers.
Animo yang rendah itu pun semakin terasa ketika pandangan mata diarahkan ke tribune stadion. Menurut catatan Brent Musburger di 'When It Was Just a Game', ada sekitar 30.000 tempat duduk di LA Coliseum yang kosong. Pendek kata, Super Bowl pertama itu tidak layak disebut sebagai Super Bowl.
Namun, di balik semua hal buruk itu, ada satu sisi positif dari sana: tayangan televisi. Dalam tulisannya yang berjudul 'How the Super Bowl Became America’s Most Important Event' di Slate, Justin Peters menuliskan bahwa ada 51 juta orang yang menyaksikan pertandingan itu via pesawat televisi.
Jumlah itu tentu saja fenomenal untuk event yang dihelat untuk pertama kalinya dan kalau mau dibandingkan, jumlah itu adalah separuh dari rata-rata penonton Super Bowl dewasa ini. Artinya, Super Bowl pertama itu juga tidak sia-sia.
Berangkat dari sana, Super Bowl terus berkembang, khususnya sejak dua tim AFL, Chiefs dan Jets, mampu memenangi gelaran ini pada 1969 dan 1970. Apalagi, sejak 1970 AFL sudah melebur ke NFL. Dengan bergabungnya AFL ke NFL, liga pun semakin semarak dengan bertambahnya jumlah tim hingga akhirnya, ajang perebutan supremasi football di Amerika Serikat pun makin bergengsi pula.
***
Pada dasarnya, Super Bowl telah beralih fungsi. Dari awalnya merupakan ajang untuk adu kemampuan antara tim AFL dan NFL, kini ia adalah libur nasional tak resmi. Menjadi tak resmi karena ia selalu diselenggarakan tiap hari Minggu yang otomatis merupakan hari libur.
Di Amerika sana, konsumsi pangan terbanyak terjadi pasa masa Thanksgiving. Status libur nasional tak resmi Super Bowl yang disebut sebagai Super Bowl Sunday ini semakin mantap setelah Departemen Pertanian AS menyebut bahwa setelah Thanksgiving, konsumsi rakyat Amerika terbanyak dilakukan pada Super Bowl Sunday. Artinya, Super Bowl ini bukan cuma soal menang-kalah. Lebih dari itu, ia adalah sebuah perayaan.
Bagaimana Super Bowl bisa menjadi perayaan, itu sebenarnya tidak mengejutkan. Sudah sejak dekade 1950-an football mampu menggantikan bisbol sebagai olahraga nasional Amerika. "Bisbol memang masih menjadi olahraga tradisional, tetapi football adalah yang paling populer," tulis Sean McAdam dalam kolomnya di ESPN.
Dari statusnya sebagai olahraga paling populer, jadi tak mengherankan ketika puncak perhelatan football profesional pun menjadi ajang yang begitu gemerlap. Meski tidak ada kewajiban untuk turut serta dalam hiruk pikuk Super Bowl, warga Amerika akan merasa kehilangan sesuatu ketika mereka melewatkannya. Pasalnya, hampir setiap orang yang mereka temui pasti akan menjadikan Super Bowl sebagai bahan perbincangan.
Awalnya, Super Bowl dibesarkan oleh siaran televisi dan pada akhirnya, kedua hal ini saling bersimbiosis secara mutualisme. Melihat besarnya jumlah penonton, Super Bowl pun kemudian dijadikan ajang untuk menjejalkan berbagai produk komersial, apa pun bentuknya mulai dari produk sampai film, kepada khalayak.
Di sini, korporasi berlomba-lomba untuk 'mencuri hati' rakyat Amerika. Itu semua dilakukan dengan iklan khusus yang dibuat semenarik mungkin. Tujuannya, tentu saja, adalah supaya iklan-iklan itu tidak sekadar numpang lewat karena untuk memasang iklan di Super Bowl, ada harga khusus yang jauh lebih mahal ketimbang biasanya.
Sebagai gambaran, saat ini rata-rata penonton Super Bowl adalah 110 juta orang. Sementara, gelaran Oscar rata-rata hanya ditonton oleh 40 juta orang. Super Bowl pun kemudian menjadi gelaran olahraga tahunan dengan jumlah penonton terbesar kedua setelah final Liga Champions (360 juta). Istimewanya bagi Super Bowl tentu saja adalah jumlah sebanyak itu mereka raup hanya dari penonton Amerika Utara saja, sementara Liga Champions disaksikan seluruh dunia.
Dengan pasar yang khusus itu, kans bagi produk yang dipasarkan lewat Super Bowl menjadi laku pun lebih besar. Gambarannya begini, salah satu iklan paling kerap muncul di final Liga Champions adalah bir. Sementara, konsumsi bir di negara-negara mayoritas muslim, termasuk Indonesia, tergolong rendah. Perbedaan kultur macam inilah yang tidak didapati korporasi pemasang iklan di Super Bowl.
Kemudian, dengan besarnya jumlah penonton di televisi itu, Super Bowl pun jadi punya fungsi lain. Event ini adalah event perekat keluarga. Dengan makin bertambahnya jumlah pesawat televisi, orang tak lagi menyaksikan Super Bowl di bar, melainkan di rumah. Di sinilah suasana libur nasional itu menjadi semakin terasa, khususnya di kota-kota tempat tim yang bertanding di Super Bowl berasal.
Lalu, jangan lupakan pula hiburan yang disajikan di ajang Super Bowl. Tak seperti pada musim reguler, durasi jeda antarbabak di Super Bowl bisa mencapai 30 menit. Di sinilah musisi-musisi papan atas mulai dari Michael Jackson, Whitney Houston, sampai Prince dan Bruce Springsteen menyajikan performa terbaik mereka. Disokong dengan tata panggung megah dan spektakuler, halftime show di Super Bowl ini boleh dibilang merupakan event yang terpisah dari Super Bowl itu sendiri.
Tampilnya para penghibur kelas atas itu jugalah yang membuat jumlah penonton Super Bowl selalu berada di atas 100 juta orang. Pasalnya, dengan begini Super Bowl tidak hanya menyasar para pencinta football saja, tetapi juga masyarakat umum. Para penonton pun merasa senang-senang saja karena mereka bisa mendapatkan hiburan kelas dunia secara cuma-cuma, meski hanya di layar kaca.
Pada akhirnya, Super Bowl memang menjadi besar karena ia punya segala modal untuk membuatnya menjadi besar. Sudah dari sononya masyarakat Amerika menikmati olahraga, apa pun itu, sebagai sebuah ajang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Berbagai jeda, entah itu time-out atau saat penghitung waktu disetop karena permainan berhenti, yang membuat para penggemar sepak bola meradang itu justru dinikmati oleh orang-orang Amerika sebagai kesempatan untuk bersantai dan bercengkrama. Berbagai jeda itu pulalah yang kemudian disusupi korporasi untuk mempromosikan produk mereka.
Di Super Bowl, semua orang terpuaskan dan itulah yang kemudian semakin memperkuat posisi tawar event ini sebagai hari raya khusus dan rasanya, dengan asumsi bahwa karakter masyarakat Amerika tidak berubah, ajang ini akan selamanya punya tempat spesial bagi mereka yang merayakannya.
