Susy Susanti Beberkan Mencekamnya Piala Uber 1998, saat Kerusuhan Landa RI

14 Oktober 2021 13:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
 Susy Susanti. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Susy Susanti. Foto: Getty Images
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Susy Susanti tampak gelisah. Tak seperti biasanya, sang legenda kala itu begitu tegang dan risau manakala bertanding di Piala Uber 1998. Bukan karena lawan yang akan dihadapinya, melainkan kondisi mencekam yang tengah melanda Indonesia.
ADVERTISEMENT
Ya, peristiwa Mei 1998 menjadi potongan terpenting dalam sejarah Indonesia yang diliputi dengan kegelapan. Pada periode 13-15 Mei menjadi puncak kekerasan rasial di ibukota dan kota-kota lainnya.
Etnis Tionghoa menjadi sasaran amukan massa ketika itu. Rumah dan pertokoan dijarah dan dibakar, sementara ratusan orang menjadi korban pelecehan, perkosaan, hingga pembunuhan.
Susy, yang juga keturunan Tionghoa, harus meninggalkan keluarganya di Indonesia untuk berjuang di bawah bendera Merah Putih saat gejolak pecah. Ia menjadi bagian dari Tim Indonesia yang dilepas Presiden Soeharto untuk berlaga di Piala Uber 1998 di Hongkong.
Mengetahui keluarganya di dalam negeri begitu dekat dengan ancaman, tentu menyerang psikologisnya saat bertarung ribuan kilometer jauhnya. Apalagi, perhelatan Piala Uber 1998 dibuka tepat saat kondisi Indonesia tengah membara, yakni 15 Mei 1998.
Pebulu tangkis Indonesia Susi Susanti saat pertandingan bulu tangkis putaran pertama Piala Uber di sini 16 Mei 1996. Foto: TOMMY CHENG/AFP
“Tahun 1998 mungkin jadi salah satu momen kami benar-benar berjuang. Pada saat itu, presidennya masih Soeharto. Pada saat kita bertanding terjadi kerusuhan besar [di Indonesia], tentunya pasti berdampak secara psikologis kepada kami, para atlet,” cerita Susy dalam wawancara khusus dengan kumparan.
ADVERTISEMENT
“Khususnya, mungkin kami yang menjadi kaum minoritas, keturunan Tionghoa, karena kan waktu itu terjadi kerusuhan yang cukup besar, dan memang banyak keluarga kami yang juga menjadi korban,” tambahnya.
“Rasanya pasti campur aduklah, karena dari saya dan teman-teman yang mengalami mungkin bisa merasakan seperti apa, sih, perjuangannya, ketegangan, dan ketakutan. Wah, itu seperti di film-film,” kata istri dari Alan Budikusuma ini.
Susy, Mia Audina, Hendrawan, Chandra dan Indra Wijaya serta Haryanto Arbi merupakan pebulu tangkis keturunan Tionghoa yang masuk dalam rombongan Piala Thomas dan Uber 1998. Kerisauan akan keselamatan keluarga di Indonesia begitu kentara mendominasi pikiran mereka.
Namun, Susy dan nama-nama lainnya pantang menyerah dengan keadaan. Berjuang atas nama Indonesia di Piala Uber, Susy menganggap dirinya layaknya seorang prajurit yang turun di medan perang.
ADVERTISEMENT
Meskipun diselimuti ketakutan, ketegangan, dan kesedihan, baginya tugas negara menjadi prioritas utama. Tak ada jalan lain selain terus melangkah maju.
Pebulu tangkis Indonesia Susi Susanti di final kejuaraan Piala Uber putri di stadion Ratu Elizabeth di Hong Kong, 23 Mei 1996. Foto: FREDERIC BROWN/AFP
“Tapi, intinya, pada saat kami bertanding ke luar negeri, tentunya itu sudah menjadi tugas negara. Kami ini istilahnya seperti prajurit, tidak mungkin mundur. Kami harus maju terus pantang mundur,” tegasnya.
“Meskipun pasti dalam hati kami ada juga ketakutan, ketegangan, dan kesedihan, tapi kami melihat bahwa tugas kami lebih besar. Itu tetap tugas untuk negara yang harus diutamakan, sehingga kami tetap berjuang di sana dan memberikan yang terbaik,” lanjutnya.
Peristiwa Mei 1998 memang dipenuhi kegelapan hingga membuat nama Indonesia tercoreng di mata dunia. Akan tetapi, pendar muncul dalam kepekatan lewat bulu tangkis.
ADVERTISEMENT
Tim Uber Indonesia mampu menembus final setelah menjuarai Grup B yang diisi Inggris, Belanda, dan Korea Selatan. Sementara, di semifinal, mereka berhasil mengatasi Denmark skor 4-1.
Di final, Susy cs. menghadapi China di partai puncak. Sayangnya, pada partai final yang dihelat pada 23 Mei 1998, Susy yang turun sebagai tunggal pertama gagal menyumbang poin.
Begitu pula dengan Zelin Resiana/Indarti Isolina, Mia Audina, dan Meiluawati yang menelan kekalahan. Satu-satunya kemenangan diraih oleh pasangan Eliza Nathanael/Deyana Lomban.
Achmad Budiharto (kedua kiri) dan Susy Susanti serta Ahsan/Hendra menghadiri sesi jumpa pers jelang keberangkatan ke All England. Foto: Angga Septiawan Putra/kumparan
Pencapaian Tim Uber berbanding terbalik dengan Tim Thomas Indonesia. Hendrawan memenangi nomor tunggal putra, diikuti pasangan Chandra Wijaya/Sigit Budiarto dan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky hingga akhirnya Indonesia merengkuh gelar juara dengan menaklukkan Malaysia 3-2.
ADVERTISEMENT
Meskipun gagal mempertahankan Piala Uber, Susy cukup puas dengan hasil yang mereka raih. Baginya, kerja kerasnya dan teman-temannya berhasil mengharumkan nama Indonesia yang tercemar karena tragedi 1998.
“Kami bisa mengembalikan nama baik Indonesia yang sebelumnya sudah tercemar. Istilahnya, dianggapnya Indonesia sudah tidak ada, karena waktu itu kan ada reformasi,” kata peraih medali emas Olimpiade 1992 tersebut.
“Sehingga dalam keadaan genting seperti itu, dunia internasional menganggap Indonesia itu sudah jatuh. Pada saat kami memberikan prestasi lewat bulu tangkis, nama Indonesia tetap mencatatkan prestasi dan kami mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional,” tandasnya.