Syarat Utama Pemain Ganda Menurut Markis Kido: Jago Antisipasi

Penggemar bulu tangkis pastinya pernah mendengar nama Markis Kido. Sebelum pensiun di pemusatan latihan nasional (pelatnas) PBSI pada 2009, Kido memberikan oleh-oleh terakhir kepada Indonesia berupa medali emas Olimpiade 2008 Beijing. Itu sekaligus menjadi pencapaian tertinggi Kido bersama Hendra Setiawan selaku pasangannya.
Kini, setelah keluar dari pelatnas, Kido memang beberapa kali masih bermain di lapangan bulu tangkis, salah satunya Djarum Sirkuit Nasional Jawa Barat, Juli lalu. Satu kegiatan rutinnya yang lain, adalah melatih bibit-bibit muda PB Jaya Raya Jakarta, klub yang telah membinanya sejak dulu.
Sebagai pelatih, tak jarang Kido juga mengikuti proses pencarian atlet yang dilakukan Jaya Raya ke berbagai kota. Untuk tahun ini di antaranya Bali, Solo, dan Medan. Dengan pengalaman mumpuninya sebagai atlet juga, Kido bisa jeli melihat bakat seorang pemain.
Di sektor ganda putra, Kido mengatakan syarat utama yang harus dipenuhi adalah kekuatan tangan. Pasalnya, gaya permainan sektor ganda memang identik dengan saling adu drive, lob, hingga smash dalam ritme yang cepat.
"Ganda dan tunggal beda. Kalau tunggal kami lihat pertama itu kekuatan kakinya dulu karena harus mengover lapangan sendirian. Kalau ganda tangannya, karena di lapangan berdua," ucap Kido saat ditemui di agenda Kejuaraan Nasional PBSI.
"Gaya ganda itu permainan cepat, insting mainnya harus kelihatan sejak kecil. Harus cepat dan antisipasi bagus. Dari kecil sudah kelihatan biasanya, kalau pasif kurang (berbakat jadi pemain ganda, red)," imbuh peraih emas Asian Games 2010 ini.

Jaya Raya sendiri, dilansir laman resmi klub, menjadi klub penyumbang emas Olimpiade terbanyak dengan tiga emas. Sebelum Kido/Hendra, emas disumbang Susy Susanti pada 1992 dan Tony Gunawan/Candra Wijaya pada 2000. Juga delapan gelar juara dunia, 19 gelar All England, dan 10 emas Asian Games disumbang pemain klub Ibu Kota ini.
"Dari dulu Jaya Raya kuat di ganda putra dan ganda campuran. Jaya Raya juga mencari pemain dari kecil, jadi selalu tidak kehabisan pemain, dan berlomba-lomba cari bibit pemain (dengan klub lain)," kata Kido yang resmi menjadi pelatih di klub mulai 2018.
Saat ini, selain Hendra Setiawan yang masih aktif, klub yang identik dengan warna kuning ini diperkuat Greysia Polii, Muhammad Rian Ardianto, Angga Pratama, Hafiz Faizal, Della Destiara Haris, Rizki Amelia Pradipta, hingga terbaru Marcus Fernaldi Gideon yang bergabung mulai Juli 2018.
Teranyar, Jaya Raya membuktikan kehebatan tim dengan menjuarai nomor beregu campuran dewasa Kejuaraan Nasional PBSI 2018, di final Sabtu (22/12/2018). Gelar beregu ini menjadi gelar keenam setelah juara pada 1996, 2000, 2006, 2012, dan 2014.
Kido pun sibuk bertugas memberi arahan pemain ganda dari samping lapangan selama Kejurnas berlangsung di Britama Arena, 18-22 Desember lalu. Mantan pasangannya, Hendra, juga sempat turun di hari pertama meski selanjutnya absen memperkuat tim karena sakit.
Menyoal Hendra, Kido menganggap rekannya itu masih bisa bersaing di melawan ganda putra dunia lainnya. Terbukti, Hendra bersama Mohammad Ahsan lolos ke BWF World Tour Finals yang tiketnya didapat lewat kualifikasi perhitungan poin terbanyak selama tur dunia 2018.
"Dia (Hendra) masih bisa oke walau tidak juara, tapi di tingkat dunia saja kemarin terbukti masuk BWF World Tour Finals, artinya masih bagus. Saya rasa sama, masih didominasi China, Jepang, dan sekarang muncul Taiwan," katanya.
Saat ditanya apakah akan mengajak Hendra hijrah menjadi pelatih, Kido mengaku pernah membicarakan hal itu. "Sering ngobrol soal kepelatihan juga karena dia juga di klub (Jaya Raya), tetapi dia belum tahu karena masih fokus main," ujar Kido mengakhiri.
