Tentang Australia Terbuka, si Seri Pembuka Grand Slam Itu

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Federer juara Australia Terbuka 2018. (Foto: REUTERS/Issei Kato)
zoom-in-whitePerbesar
Federer juara Australia Terbuka 2018. (Foto: REUTERS/Issei Kato)

Grand Slam selalu menjadi cara paling berkelas untuk membuka musim kompetisi yang baru di ranah tenis. Dari keempat seri yang ada, Australia Terbuka menjadi pembuka. Turnamen ini seharusnya menjadi start yang tepat bagi setiap petenis untuk memulai perburuan gelar juaranya. Serupa yang sudah-sudah, nama-nama besar dipastikan berlaga di edisi ke-114 (atau ke-51 sejak era terbuka). Namun, hanya karena berlimpah nama besar, bukan berarti tidak ada kejutan di dalamnya.

Berkaca pada tahun lalu saja, Australia Terbuka mempertontonkan bagamaina petenis Korea Selatan, Chung Hye-on tampil menggebrak walau kita tahu langkahnya terhenti di babak perempat final melawan Roger Federer akibat cedera.

Itu baru nomor putra. Di nomor putri, petenis yang tak ambisius-ambisius amat mengejar gelar, Caroline Wozniacki, mengalahkan Simona Halep di partai puncak. Kemenangan itu tak cuma mengganjar Wozniacki dengan trofi Grand Slam, tapi juga torehan sejarah sebagai orang Denmark pertama yang membawa pulang gelar mahaprestisius itu.

Nah, karena tenis bukan olahraga populer di sini, mungkin penjelasan singkat ini bisa membantu untuk setidaknya menjawab, Australia Terbuka itu apa, sih?

Trofi Australia Terbuka. (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Trofi Australia Terbuka. (Foto: Getty Images)

Jadi, sesuai preambulenya. Australia Terbuka itu turnamen macam apa?

Gampangnya, Australia Terbuka itu turnamen tenis tahunan yang jadi bagian dari kompetisi Grand Slam. 'Kan ada empat seri, tuh, Australia Terbuka ini seri pertamanya. Setelah Australia Terbuka, bakal lanjut ke Prancis Terbuka, Wimbledon, terus ditutup sama Amerika Serikat (AS) Terbuka. Karena jadi turnamen pembuka, maka Australia Terbuka ini selalu digelar pada Januari. Tahun ini, dari 14 Januari sampai 27 Januari di Melbourne Park. Karena namanya sudah Melbourne Park, sudah pasti di Melbourne-lah, ya.

Sebentar, yang dimaksud dengan Grand Slam itu adalaaaah....

Di antara kompetisi-kompetisi tenis, turnamen yang terpenting itu, ya Grand Slam. Kenapa paling penting? Karena jumlah poinnya, hadiah, dan prestisenya paling besar. Yang jadi operator Grand Slam ini bukan Asosiasi Tenis Profesional (ATP) maupun Asosiasi Tenis Wanita (WTA), tapi Federasi Tenis Internasional (ITF). Mereka ini adalah badan yang memegang otoritas tertinggi di jagat tenis. Jadi, sederhananya begini. Kalau ATP itu induk buat petenis putra dan WTA itu induk buat petenis putri, si ITF ini ya, bapaknya dua induk ini.

Grand Slam ini pertama kali nongol pada kurun waktu 1924 sampai 1925. Waktu itu, International Lawn Tennis Federation (ILTF) ngedesain buat menjadikan turnamen-turnamen yang sudah ada sebagai empat kompetisi paling mayor. Australia Terbuka sendiri sudah ada sejak 1905, tapi waktu itu namanya masih Australasian Championship dan belum ada Grand Slam.

Jadi, waktu Grand Slam dicetus, ILTF menggabungkan Australasian Championship, Wimbledon, French Championship, dan American Championship sebagai empat seri Grand Slam. Di antara ketiganya, hanya Wimbledon yang sudah berstatus sebagai turnamen mayor.

Australia Terbuka 2018. (Foto: Reuters/Toru Hanai)
zoom-in-whitePerbesar
Australia Terbuka 2018. (Foto: Reuters/Toru Hanai)

Namanya 'kan Australia Terbuka. Yang terbuka apanya, sih?

Kata 'terbuka' itu maksudnya turnamen ini boleh mempertandingkan petenis profesional dengan petenis amatir. Tak peduli serendah apa pun jam terbangmu, kalau kamu lolos kualifikasi dan setelah diundi bertemu petenis kelas kakap macam Roger Federer, ya ngana harus tanding.

Memangnya dulu enggak boleh?

No chance. Era terbuka ini baru hadir tahun 1968. Sebelum 1968, yang boleh ikut bertanding di Grand Slam itu cuma pemain amatir. Dan itu bukan berlaku di Grand Slam saja, tapi seluruh kompetisi yang digelar ILTF--termasuk Piala Davis.

Lucunya, pemberlakuan era terbuka ini dimulai karena Asosiasi Tenis Inggris buka suara pertama kali. Mereka bilang mereka muak dengan dunia tenis yang munafik. Gimana enggak munafik? Memangnya buat ikut dari satu turnamen ke turnamen lain itu tak butuh duit? Kalau petenis-petenis amatir doang yang boleh ikut Grand Slam, terus mereka duitnya dari mana? Kerja lagi gitu di tempat lain? Ya, begitulah kira-kira awalnya.

Ngeniwei, aturan di Australia Terbuka itu seperti apa saja?

Bicara soal aturan, kita bicara dulu soal siapa aja, sih, yang boleh main. Benar kalau di era terbuka semua boleh main, tapi, yang namanya turnamen 'kan punya syarat peserta juga. Kalau di nomor tunggal putra dan putri Australia Terbuka, petenis yang peringkatnya ada di 100 besar dunia boleh ikutan, tanpa kualifikasi. Kecuali mereka mundur, lho, ya.

Kalau yang peringkatnya di bawah 100 besar juga boleh ikutan lewat babak kualifikasi. Ada 128 petenis masing-masing di tunggal putra dan putri yang berhak ikut kualifikasi, urutannya tentu dari peringkat, ya. Untuk babak kualifikasi bakal dihelat pada 8 Januari hingga 11 Januari. Dari 128 orang itu, sudah termasuk wildcard. Namun, yang perlu diingat, spot buat masuk ke putaran final itu cuma 16. Ha.

Andy Murray di Shenzhen Terbuka 2018. (Foto: AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Andy Murray di Shenzhen Terbuka 2018. (Foto: AFP)

Oya, ada kasus khusus juga di Australia Terbuka. Ada aturan yang namanya protected ranking buat petenis yang cedera minimal enam bulan. Misalnya, Andy Murray. Per Senin (7/1/2019), Murray ada di peringkat 253 dunia. Penyebabnya dia absen di banyak turnaman karena cedera.

Tapi, Murray dipastikan ikut berlaga di Australia Terbuka 2019. Dengan protected ranking, ia bisa menggunakan peringkat rata-ratanya dalam kurun waktu tiga bulan saat cedera menghantam. Hitungannya, karena Murray cedera pas Wimbledon 2017 dan waktu itu ia ada di peringkat pertama, tapi turun ke peringkat tiga pada Oktober, maka peringkat dua akan jadi peringkat rata-ratanya. Tapi, itu sekadar supaya dia bisa berkompetisi. Artinya, Murray akan berlaga di Melbourne Park dengan status non-unggulan.

Ribet, ya..

Oh jelas, tenis memang olahraga super ribet. Kalau soal nomor apa saja yang dipertandingkan, ya, standarlah. Tunggal putra dan putri, ganda putra dan putri, ganda campuran. Berbeda dengan tahun lalu, di tahun ini kategori kursi roda dan junior tidak dipertandingkan.

Ada peraturan yang aneh-aneh tidak?

Kalau Australia Terbuka peraturannya lebih relatable. Jadi bukan aturan yang 'menyusahkan' seperti kostum putih-putih Wimbledon. Pemberlakuan heat stress scale jadi kebijakan terbaru di Australia Terbuka. Intinya, seperti early warning system soal ekstremnya suhu di Australia. Kalau suhunya sudah sampai skala tertentu (tahun ini ditetapkan skala 5), maka akan ada peringatan buat memindahkan pertandingan dari outdoor ke indoor.

Suhu di Australia tiap di bulan-bulan segini memang minta ampun, lebih panas daripada omongan teman sendiri. Tahun lalu saja, suhunya mencapai 39 derajat Celcius. Jangan heran bila Simona Halep sempat dilarikan ke rumah sakit usai laga final karena dehidrasi. Malah pada 2014, petenis Kanada, Frank Dancevic, sampai mengalami halusinasi. Dancevic melihat tokoh kartun Snoopy sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Ya, semengerikan itu kondisi cuacanya.

Halep lolos ke semifinal Australia Terbuka 2018. (Foto: REUTERS/Toru Hanai)
zoom-in-whitePerbesar
Halep lolos ke semifinal Australia Terbuka 2018. (Foto: REUTERS/Toru Hanai)

Ada lagi perubahan aturannya?

Di nomor pria yang masing-masing laganya berjalan paling sedikit tiga set bakal diperkenalkan jeda 10 menit jika pertandingan berlanjut ke masa rubber. Australia Terbuka tahun ini juga akan menggunakan sistem tie break buat final set. Jadi kalau di final set kedudukannya 6-6, maka bakal diberlakukan tie break. Siapa yang lebih dulu mencapai angka 10, tentu dengan jarak minimal dua poin, dia yang menang.

Yak, cukup soal aturan. Kira-kira, yang bakal tampil impresif siapa, nih?

Sebenarnya, ini selalu jadi pertanyaan paling menyebalkan soal kompetisi tenis, terutama di nomor tenis putra, karena juaranya itu-itu melulu. Jadi tenis itu seperti arena yang banal. Ambil contoh sejak Federer merengkuh gelar juara Grand Slam pertamanya pada 6 Juli 2003.

Sejak hari itu hingga akhir musim 2018, ada 62 kompetisi Grand Slam tunggal putra yang dihelat. Nah, dari 62 kompetisi itu, 54 di antaranya dimenangi oleh The Big Four. Bila dirinci, 54 gelar itu akan menjadi 20 Federer, 17 Nadal, 14 Djokovic, dan tiga Andy Murray.

Novak Djokovic menjuarai AS Terbuka. (Foto: Danielle Parhizkaran/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Novak Djokovic menjuarai AS Terbuka. (Foto: Danielle Parhizkaran/Reuters)

Jadi, kalau ditanya siapa kira-kira yang bakal jadi juara, ya jawaban paling mainstream antara Federer, Nadal atau Djokovic. Terlebih Djokovic, ya. Bagaimanapun musim 2018 seperti menjadi tahunnya Djokovic. Selain menjuarai Wimbledon dan AS Terbuka, ia juga menang di beberapa turnamen ATP--plus mendapat dua gelar sekaligus: petenis peringkat satu dunia dan Career Golden Masters.

Saat Djokovic ada di puncak, Federer dan Nadal justru tampil inkonsisten. Keduanya tidak hanya kalah dari petenis unggulan, tapi juga non unggulan. Misalnya, di babak 16 besar AS Terbuka, Federer kalah 6-3, 5-7, 6-7, dan 6-7 yang berstatus non-unggulan. Sementara, Nadal mundur di semifinal karena cedera.

Jadi, tiga orang itu saja yang bakal impresif?

Enggak juga, sih. Mereka bertiga kan memang ada di posisi tiga besar. Selain ketiganya, masih ada nama-nama yang patut diperhitungkan macam Kei Nishikori, Dominic Thiem, Alexander Zverev, ataupun Chung Hyeon.

Zverev juga dinilai punya potensi menjanjikan. Toh, ia berhasil menjadi juara di ATP World Tour Finals 2018 setelah mengalahkan Djokovic di partai puncak dalam dua set langsung 6-4, 6-3. Nishikori juga tak bisa dianggap remeh. Ia sampai ke final AS Terbuka walaupun kalah tiga set langsung dari Djokovic.

Nama-nama senior juga tak kalah menjanjikan. Ada petenis macam Juan Martin del Potro, Marin Cilic, ataupun Kevin Anderson. Di musim 2018, ketiganya berhasil merengkuh tiket final Grand Slam, walaupun ketiganya berujung runner up. Kalau mau yang acap jadi kuda hitam John Isner dan Grigor Dimitrov juga tidak boleh dilupakan.

Itu 'kan yang putra, kalau yang putri seperti apa?

Dibandingkan dengan nomor tunggal putra, nomor tunggal putri memang lebih tak tertebak. Dalam konferensi persnya, Serena Williams sudah menegaskan bahwa ia begitu mengejar gelar Grand Slam ke-24 di Australia Terbuka tahun ini. Maka, tidak salah untuk menempatkannya sebagai salah satu kandidat juara.

Capai final Wimbledon, Serena tembus 30 besar. (Foto: REUTERS/Toby Melville)
zoom-in-whitePerbesar
Capai final Wimbledon, Serena tembus 30 besar. (Foto: REUTERS/Toby Melville)

Apalagi melihat penampilannya di musim lalu. Walau gagal merengkuh Grand Slam, ia berhasil sampai ke partai pamungkas Wimbledon dan AS Terbuka. Selain Serena, tentu ada nama besar macam Simona Halep (1), Angelique Kerber (2), Elina Svitolina (4), Naomi Osaka (5), ataupun Sloane Stephens (6). Jangan lupakan juga Caroline Wozniacki (3) yang jadi juara tahun lalu.

Kalau soal hadiah seperti apa? Dengar-dengar, Australia Terbuka itu pernah jadi seri Grand Slam yang paling tidak laku karena uang hadiahnya kecil banget.

Biarpun umurnya sudah 114 tahun, tapi Australia Terbuka itu baru populer sejak 1980. Penyebabnya tidak cuma uang hadiah yang paling kecil, tapi karena jarak Australia sendiri yang jauh dari negara-negara asal para kontestan. Dulu, 'kan belum canggih, ya. Belum ada pesawat. Jadi petenis-petenis Eropa itu berangkat dengan kapal ke Australia. Tebak berapa hari yang dibutuhkan? 45 hari saja sodara-sodaraaaa!!!

Australia Terbuka itu pernah diadakan di Perth pada 1906. Di tahun itu saja, petenis Australia yang ikut cuma dua orang. Alasannya, Perth bukan kota yang mudah dijangkau oleh orang-orang yang tinggal di Australia sendiri.

Australia Terbuka (Ilustrasi) (Foto: Reuters/Issei Kato)
zoom-in-whitePerbesar
Australia Terbuka (Ilustrasi) (Foto: Reuters/Issei Kato)

Kabar baiknya, Australia Terbuka melakukan gebrakan jelang 2012. Di kompetisi tahun 2012, uang hadiahnya meningkat menjadi 26 juta dolar Australia. Ini menjadi uang hadiah terbanyak dibandingkan seluruh kompetisi tenis, termasuk tiga seri Grand Slam lainnya. Di tahun 2019 ini, hadiahnya juga berlipat mencapai 62,5 juta dolar Australia yang didistribusikan seperti ini:

Tunggal putra dan putri: Juara 4.100.000, Runner-up 2.050.000, Semifinal 920.000, Perempat final 460.000, Babak keempat 260.000, Babak ketiga 155.000, Babak kedua 105.000, Babak pertama 75.000

Ganda putra dan putri (per tim): Juara 750.000, Runner-up 375.000, Semifinal 190.000, Perempat final 100.000, Babak ketiga 55.000, Babak kedua 32.500, Babak pertama 21.000

Ganda campuran (per tim): Juara 185.000, Runner-up 95.000, Semifinal 47.500, Perempat final 23.000, Babak kedua 11.500, Babak pertama 5.950

Babak kualifikasi putra dan putri (per pemain): Babak ketiga 40.000, Babak kedua 25.000, Babak pertama 15.000

Berarti, tetap tidak ada gap antara nomor putra dan putri, ya? Kalau soal poin seperti apa?

Yep, benar. Sejak aturan penyamaan jumlah uang hadiah saklek diberlakukan pada 2001, tidak ada lagi gap antara uang hadiah yang diterima petenis pria dan wanita. Kalau dibandingkan dengan pertandingan pertama di era terbuka dulu (1969), gap hadiah antara pria dan wanita mencapai 157,11%. Wew.

Nah, kalau poinnya bisa dilihat di tabel berikut, ya. Kalau merasa aneh kenapa poin putra dan putri berbeda, maka jawabannya karena yang memberi poin beda. Poin petenis putra ditentukan dan diberika oleh ATP, sementara putri oleh WTA.

Distribusi poin Australia Terbuka. (Foto: Wikipedia)
zoom-in-whitePerbesar
Distribusi poin Australia Terbuka. (Foto: Wikipedia)