Tentang Celtic, Si Ikan Besar di Kolam Kecil

Salah satu karakter utama lain penggemar sepak bola, selain punya ingatan pendek, adalah kesukaan mereka untuk meromantisasi hal sekecil apa pun. Para pendukung Celtic pun tak luput dari pengecualian.
Jika pendukung Manchester United menyebut Old Trafford sebagai "Theatre of Dreams" alias "Teater Mimpi", para pendukung Celtic punya julukan yang lebih ethereal lagi untuk Celtic Park. Mereka menyebut stadion yang terletak di Parkhead itu sebagai "Paradise". Surga.
Hal ini sendiri sudah lama menjadi bagian dari folklor klub kelahiran 1888 itu. Sebelum Celtic Park selesai dibangun saja, julukan itu sudah melekat. Bandingkan dengan julukan "Theatre of Dreams" yang baru muncul pada 1990 lalu lewat ucapan Sir Bobby Charlton.
Selain meromantisasi Celtic Park, para pendukung Celtic juga dikenal akan kebiasaan mereka meromantisasi orang-orang yang berkontribusi atas kejayaan mereka. Lagu Willie Maley, misalnya, diciptakan untuk menghormati para legenda Celtic. Dalam lagu tersebut, selain Willie Maley yang merupakan manajer agung pertama Celtic, disebut pula nama-nama legenda lain seperti "The Immortal" Jock Stein, James McGrory, Jimmy Johnstone, hingga Paul McStay.
Bicara soal legenda-legenda Celtic, belum sah rasanya jika belum membicarakan Brendan Rodgers. Ya, Anda tidak salah dengar, kok. Brendan Rodgers yang itu.
Saat ini, Scottish Premiership sudah memasuki pekan ke-24. Artinya, liga sudah memasuki putaran kedua dari tiga putaran yang dijadwalkan.* Hingga kini, Celtic-nya Rodgers sudah mengemas 23 kemenangan plus 1 hasil imbang tanpa pernah kalah sekali pun. Tak hanya itu, 65 gol sudah mereka lesakkan dan hanya ada 16 gol yang bersarang di gawang Craig Gordon.
Satu hal yang mencengangkan adalah bahwa dengan 70 poin yang telah mereka kemas saat ini, Celtic unggul 27 poin dari tim peringkat kedua, Aberdeen, dan peringkat ketiga, Rangers. Keunggulan itu bahkan lebih besar dibanding keunggulan Aberdeen dan Rangers atas juru kunci liga, Inverness Caledonian Thistle. Aberdeen dan Rangers kini mengoleksi 43 poin; unggul 25 poin dari Inverness.
Tak hanya dominan di liga, Celtic pun sudah punya satu trofi musim ini setelah pada 27 November 2016 lalu mereka menang 3-0 atas Aberdeen di final Piala Liga Skotlandia. Di Piala Skotlandia pun mereka belum terhenti. Di laga babak kelima 11 Februari 2017 lalu, mereka menghajar Inverness enam gol tanpa balas.
Sayang, dominasi domestik ini tak mampu mereka replikasi di kancah antarklub Eropa. Pada fase grup Liga Champions 2016/17 lalu, Celtic babak belur. Meski berhasil dua kali menahan imbang Manchester City (3-3 dan 1-1), mereka finis di posisi juru kunci dengan raihan 3 poin hasil dari tiga kali imbang dan tiga kali kalah. Bahkan, pada laga perdananya, Celtic dibantai Barcelona 0-7 di Camp Nou.
Prestasi buruk itu tentu amat disayangkan mengingat tahun ini adalah tahun ke-50 sejak Celtic menjadi klub Britania pertama yang menjadi juara Piala Eropa (sekarang Liga Champions). Di final 1967, mereka mengalahkan Internazionale dengan skor 2-1. Padahal, saat itu Inter yang diasuh Helenio Herrera lebih diunggulkan setelah berhasil menjadi juara pada edisi 1964 dan 1965. Atas keberhasilan itu, tim Celtic tersebut kemudian diberi julukan "The Lisbon Lions", merujuk pada kota tempat pertandingan digelar.
Saat ini, sulit rasanya untuk membayangkan Celtic mengulangi prestasi tersebut. Sederhana saja alasannya: Mereka tidak punya sumberdaya yang cukup untuk berprestasi di kancah Eropa. Terakhir kali Celtic melaju ke final kompetisi antarklub Eropa adalah pada musim 2002/03. Saat itu mereka dilatih oleh Martin O'Neill dan kalah di final dari Porto yang diasuh Jose Mourinho.
Ketika Celtic menjadi juara Piala Eropa 1967 itu, mereka diperkuat sepenuhnya oleh pemuda-pemuda setempat. Hampir semua pemain yang dibawa hari itu ke Lisbon lahir dalam radius 10 mil dari Celtic Park, kecuali Bobby Lennox yang lahir di Saltcoats -- 30 mil dari Parkhead. Di zaman sekarang, mengulangi hal seperti itu adalah sebuah kemustahilan. Mau bagaimana pun, kebutuhan akan pemain asing sudah jadi keharusan. Kini, bintang terbesar Celtic pun merupakan seorang pemain asing berkewarganegaraan Prancis: Moussa Dembele. Yang jadi masalah, mengandalkan Dembele saja tentu tidak cukup untuk menghadapi lawan-lawan yang punya Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo.
Melihat fenomena demikian, rasanya kejayaan masa lampau Celtic itu takkan pernah bisa terulang lagi. Meski begitu, para pendukung Celtic pun tampaknya tidak keberatan. Di dunia kecil itu, mereka adalah penguasa. Terlebih lagi, sang rival utama, Rangers, kini masih berusaha mengais kembali kebesaran mereka yang amblas ketika mereka dinyatakan bangkrut pada 2012 silam. Di dunia kecil itu, Celtic adalah adikuasa dan Brendan Rodgers menjadi despot yang dipuja rakyatnya sekaligus dibenci para lawan. Masuknya nama B-Rod -- julukan Rodgers -- di lagu rakyat Celtic pun rasanya tinggal tunggu waktu saja.
*) Scottish Premiership hanya diikuti oleh 12 klub. Agar bisa menjalani 38 pertandingan seperti liga-liga pada umumnya, mereka membagi liga menjadi tiga putaran. Pada pekan 1-22, semua tim bertemu secara kandang dan tandang. Pada pekan 22-33, semua klub bertemu sebanyak satu kali entah kandang maupun tandang. Terakhir, pada pekan 33-38, enam tim teratas akan saling berhadapan sekali (entah kandang maupun tandang), demikian pula dengan enam tim terbawah.
