Tentang Dua Kutub Berbeda: Ancelotti dan Zidane

"Seekor babi tidak bisa melatih. Minggatlah, Ancelotti!"
Pada hari pertamanya memimpin Juventus dalam pertandingan Serie A, kata-kata itulah yang digunakan para Juventini untuk menyambut Carlo Ancelotti. Status sang allenatore baru yang merupakan pemain legenda di Roma dan Milan membuat para suporter sulit untuk menerima dirinya. Alhasil, tubuh gempal dan pipi tembam Don Carletto pun menjadi sasaran tembak.
Tidak pernah benar-benar diterima di Juventus, prestasi Ancelotti pun begitu semenjana di sana. Besarnya tekanan untuk sukses juga tidak mampu diatasi pria kelahiran Reggiolo ini di Delle Alpi. Padahal, untuk sekadar menjadi juara liga, seharusnya dia mampu mewujudkannya dengan mudah.
Selain keberadaan bintang-bintang kelas wahid macam Edwin van der Sar, Ciro Ferrara, Antonio Conte, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi, dan Zinedine Zidane, dia juga dibantu dengan menurunnya kualitas Milan dan Inter. Saingan Ancelotti ketika itu "hanya" Roma dan Lazio yang akhirnya mengalahkan Juventus dalam perburuan gelar Serie A.
12 tahun setelah dipecat Juventus, Ancelotti dan Zidane bereuni di Real Madrid. Ketika itu, situasinya sudah berbeda. Ancelotti sudah bukan lagi pelatih pemula yang tidak becus menangani pemain bintang dan Zidane sudah tujuh tahun pensiun sebagai pemain. Pada 2013 lalu, mereka menjadi pelatih dan asisten pelatih di Santiago Bernabeu.
Ancelotti datang dengan status sebagai salah satu pelatih terbaik Eropa. Dua gelar Liga Champions bersama Milan tentu menjadi isi CV-nya yang paling mencolok. Selain itu, dia juga mampu menjadi juara liga bersama Chelsea dan Paris Saint-Germain.
Sementara itu, sejak pensiun pasca-Piala Dunia 2006, Zidane aktif di Real Madrid dalam kapasitas sebagai penasihat. Pada 2011, dia bahkan sempat ditunjuk menjadi direktur olahraga. Namun, pada tahun 2013 itulah Zidane akhirnya justru sudi turun jabatan demi bisa melatih bersama mantan mentornya dulu.
Di bawah komando Ancelotti dan Zidane, Real Madrid berhasil meraih La Decima alias gelar Liga Champions kesepuluh sepanjang sejarah klub. Inilah bukti nyata keberhasilan era Galactico kedua Florentino Perez yang dimulai pada 2009.
Namun, musim 2013/14 itu menjadi musim pertama dan satu-satunya Ancelotti bersama Zidane. Pasalnya, pada musim berikut, Zidane diminta untuk menangani Real Madrid Castilla, sementara itu, pada akhir musim 2014/15, Ancelotti ditendang karena gagal bersaing dengan Barcelona di La Liga.
Dini hari (13/4) nanti, mereka berdua akan kembali bereuni. Akan tetapi, situasinya pun kini sudah berbeda. Selain bakal berhadapan sebagai musuh, kini Zidane pun sudah punya satu gelar Liga Champions di CV-nya sebagai pelatih kepala. Di Allianz Arena nanti, Sang Padawan sudah resmi menjadi Ksatria Jedi yang utuh.
Bak Dua Kutub Ketika Bermain
Sebagai pemain, Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane adalah dua kutub berseberangan. Jika Ancelotti adalah salah satu gelandang penyeimbang terbaik, maka Zidane adalah salah satu fantasista terhebat sepanjang masa.
Ancelotti adalah gelandang bertahan yang lengkap. Dia cerdas dan kuat tetapi memiliki teknik yang cukup bagus untuk membuatnya mampu mengeksekusi peran secara elegan. Sementara itu, Zidane adalah seorang penyihir. Dengan kemampuan teknikal, imajinasi, dan kekuatannya, dia adalah kekuatan yang sulit sekali dihentikan di sepertiga lapangan akhir.

Meski memiliki perbedaan gaya bermain yang mencolok ketika bermain, saat menjadi pelatih keduanya justru punya gaya yang mirip. Orang bilang, kedua sosok ini sama-sama mengandalkan kharisma untuk mengontrol orang-orang di sekitarnya.
Namun, cara bekerja kharisma kedua orang ini pun berbeda. Ancelotti adalah people's person. Dia mampu mendekati setiap individu dengan cara yang khas dan eksklusif. Pria yang juga pernah melatih Parma ini tahu persis cara memperlakukan orang sesuai dengan egonya masing-masing.
Ketika beberapa waktu lalu Franck Ribery merajuk karena terus dirotasi, misalnya, Ancelotti dengan cerdasnya berkata, "Franck, kamu ini seperti Ferrari. Masa iya Ferrari dipakai setiap hari?"
Kemampuan Ancelotti menemukan titik yang pas untuk meredam ego ini banyak dia pelajari di Milan dulu, baik saat menjadi pemain maupun pelatih. Meski hal ini gagal diterapkannya di Juventus, bersama Milan dia mampu mengubah peruntungan.
Ketika itu, di skuat Milan masih ada beberapa nama yang pernah menjadi rekan setimnya, Sebastiano Rossi, Paolo Maldini, dan Alessandro "Billy" Costacurta. Dibantu tiga senatori itu, Ancelotti berhasil menjadi salah satu pelatih tersukses Milan sepanjang masa.
Jika Ancelotti mampu menentramkan dan mendamaikan, Zidane tidak begitu. Melihat sosoknya, pemain-pemain bintang Madrid tunduk pada pesona yang dia pancarkan. Itulah mengapa, Zidane disebut sebagai maskotnya El Real. Hal itu, awalnya merupakan sebutan berkonotasi negatif.
Ketika melatih Real Madrid Castilla, tidak ada tanda-tanda Zidane bakal menjadi pelatih yang mampu mempersembahkan Una Decima. Gaya melatihnya yang banyak dipengaruhi oleh Marcello Lippi, dianggap kuno.
Akan tetapi, di skuat bertabur bintang seperti tim utama Real Madrid, hal itu ternyata tidak penting. Sederhananya begini: Apa lagi yang mau dilatih dari pemain-pemain seperti Cristiano Ronaldo, Toni Kroos, Luka Modric, dan Gareth Bale? Mereka sudah tahu caranya bermain sepak bola dan mereka sudah paham betul bagaimana menjadi juara.
Mereka butuh sosok yang paham menjadi pemain hebat seperti mereka. Itulah mengapa, mereka tidak sudi diperintah oleh orang-orang yang tidak bisa bermain bola seperti Jose Mourinho. Itulah mengapa, sembari (diam-diam) menjura pada Zidane, mereka pun membuktikan kepada idola mereka itu bahwa mereka juga bisa menjadi sepertinya.
Kharisma Zidane itu diakui betul oleh Ancelotti. Dalam otobiografinya, Preferisco la Coppa, dia menceritakan bagaimana orang-orang di Juventus dulu begitu memuja Zidane. Mulai dari Gianni Agnelli, John dan Lapo Elkann (cucu Agnelli), sampai Paolo Montero, semua memuja pria keturunan Aljazair itu. Tak heran jika di Real Madrid dia mampu mengontrol ego para pemain bintang tim. Ya, bagaimana tidak? Suka tidak suka, Zidane saat ini masih lebih besar dibanding mereka semua.
Sama-sama Bukan Peracik Taktik Kelas Wahid
Dari soal cara bermain tim, Carlo Ancelotti selama ini tidak pernah punya taktik yang khas, kecuali mungkin 4-3-2-1 di Milan. Namun, formasi Pohon Natal itu pun dia gunakan karena dia ingin mengakomodasi semua talenta yang dia miliki di Milan. Kemudian, di Chelsea, Real Madrid, dan Bayern, pendekatan Ancelotti pun sama.

Sebagai sosok yang mampu mengayomi pemain, Ancelotti pun mampu mengeluarkan kemampuan terbaik para bintangnya tanpa harus meminta ini-itu secara mendetail. Selain itu, dia juga selalu mampu mengoptimalkan apa yang dia punya. Tak seperti Pep Guardiola yang idealis dan selalu ingin menendang pemain-pemain yang sudah ada, Ancelotti adalah orang yang selalu mampu membuat jus limun lezat ketika dia diberi limun.
Nah, untuk menilai Zidane, sebenarnya terlalu dini. Akan tetapi, jika melihat tim Real Madrid-nya sekarang, Zidane sebenarnya tidak seimajinatif kala masih bermain dulu. Tim intinya sekarang berisikan pemain-pemain yang memang seharusnya menjadi pemain inti. Selain itu, dia juga meminta dua pemain ofensif terbaik tim, Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale, untuk menjadi tumpuan serangan. Sama sekali tidak mengejutkan.
Walau begitu, satu gelar Liga Champions sudah menjadi bukti betapa cocoknya Zidane dengan Real Madrid. Dini hari nanti, dalam duel antara Ksatria Jedi dan Master-nya ini, hanya ada dua pilihan bagi mereka: menang atau mati.
