Tentang Sampanye dan Formula 1

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perayaan sampanye Formula 1. (Foto: NELSON ALMEIDA / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Perayaan sampanye Formula 1. (Foto: NELSON ALMEIDA / AFP)

Ceritanya jauh bermula pada 1950.

Sampanye di negeri asalnya, Prancis, adalah simbol keberhasilan atau kesuksesan. Karenanya, ketika seseorang hendak merayakan sesuatu, sampanye adalah minuman yang tepat untuk menemani sebuah selebrasi. Tradisi merayakan sesuatu bersama sampanye itu sudah mendarah daging di Prancis, Inggris, dan kawasan Eropa, terutama di kalangan elite.

Formula 1 1950, ketika Prancis untuk pertama kali menjadi tuan rumah di Sirkuit Gueux, sampanye mulai hadir di ajang balap mobil single-seat nomor satu dunia itu. Ceritanya sederhana saja.

Sirkuit Geuex itu berada di daerah perbuktian hijau yang masih berada dalam wilayah Champagne--wilayah tempat sampanye berasal. Dan sebagaimana sampanye sebagai simbol keberhasilan tadi, jadilah pemenang dari Grand Prix (GP) Prancis di tahun itu mendapat hadiah sampanye.

Kala itu orang pertama yang mendapat kehormatan menerima sampanye sebagai pemenang sebuah balapan Formula 1 adalah pebalap Argentina, Juan Manuel Fangio. Saat itu dia mendapat sampanye dari salah satu produsen terkemuka asal Prancis, Moet et Chandon.

Hamilton dan Bottas ketika berada satu podium. (Foto: Andrej Isakovic/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Hamilton dan Bottas ketika berada satu podium. (Foto: Andrej Isakovic/AFP)

Setelah itu, tradisi pemenang balapan mendapatkan sampanye berlanjut di GP lainnya, dan menjadi sebuah tradisi Formula 1 dan ajang balap lain. Sampanye itu menjadi minuman wajib bagi para pemenang di atas podium. Namun, cerita dan sejarah tak berhenti di situ saja. Sebab itu baru momen permulaan.

Pada 1966, di sebuah ajang balap mobil bernama 24 Hours of Le Mans yang kebetulan juga dihelat di Prancis, Jo Siffert sang pemenang ajang tersebut tak sengaja menyemburkan sampanye yang diterimanya ke arah penonton.

Setahun kemudian, Dan Gurney, pebalap Formula 1 asal Amerika Serikat melakukan gaya Siffert, tapi kali ini dengan sengaja. Di atas sebuah podium, Gurney sengaja menggoyang-goyangkan botol sampanyenya hingga airnya menyembur keluar dan membasahi penonton dan orang-orang yang ada di podium.

Sejak aksi Gurney itu, selebrasi menyemburkan sampanye di atas podium menjadi ritus di ajang Formula 1 dan ajang balap lain seperti MotoGP. Mereka, para pemenang yang biasanya berdiri di podium, bersuka cita sambil menyembur-nyemburkan sampanyenya. Entah itu ke arah penonton, ke satu sama lain, atau ke arah umbrella girl yang biasanya menemani mereka di sana.

X post embed

Perayaan tersebut sungguh ikonik, sehingga sampanye kini tak hanya lekat dikenal sebagai minuman para bangsawan, tapi juga minuman para pemenang balapan. Menariknya, semakin ke sini, botol sampanye yang didapat para pemenang itu pun semakin besar.

Pernah, pada 2015 lalu, sampanye digantikan oleh sparkling wine sebagai minuman perayaan di atas podium Formula 1. Namun, pada Agustus 2017 silam, sampanye telah kembali ke atas podium, menemani para pebalap merayakan kemenangan mereka.

Jangan terkejut juga apabila saat ini, berkat segala ritual itu, sampanye dihargai sedemikian mahal. Satu botol sampanye yang biasanya disembur-semburkan oleh Lewis Hamilton, Sebastian Vettel, atau Valtteri Bottas di atas podium itu harganya bisa mencapai angka 3.000 dolar atau sekitar Rp 41,2 juta.

Ya, uang sebanyak itu 'dihambur-hamburkan' di atas podium demi sebuah tradisi, demi kultusnya sebuah perayaan, sebagai simbol mantapnya sebuah kesuksesan yang baru diraih oleh para pebalap. Dan agar semua orang tahu: kemenangan memang begitu mahal harganya.