Terlibat Pengaturan Skor, 9 Pemain IBL Diberi Sanksi oleh Perbasi

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Basket (ilustrasi) (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Basket (ilustrasi) (Foto: Pixabay)

Indonesia Basketball League (IBL) 2017-2018 belum resmi dibuka, pecinta basket sudah dibuat terkejut. Bukan soal pertandingan, melainkan tentang sembilan pemain yang tersandung kasus match fixing alias pengaturan skor.

Skandal ini pun baru mencuat saat beredar surat resmi dari Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) nomor 508/XI/PP/2017 tertanggal 21 November 2017.

Tanpa basa-basi, isi surat itu langsung memberitahukan keputusan sanksi kepada sembilan pemain IBL dari klub Siliwangi Bandung, yakni Ferdinand Damanik, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa Herlusdityo, Untung Gendro Maryono, Fredy, Vinton Nolan Sarawi, Robertus Riza Raharjo, dan Zulhilmi Faturrohman.

Dalam suratnya, Perbasi menegaskan kesembilan pemain tersebut telah melakukan pelanggaran indisipliner dengan mengatur skor. Nama-nama itu dilarang mengikuti seluruh kegiatan basket baik sebagai pemain, pelatih, official team, maupun membuka kegiatan basket di Indonesia.

Meski begitu, induk olahraga bola ring itu tidak menjelaskan di pertandingan mana maupun kapan terjadinya match fixing yang melibatkan sembilan nama tersebut. Masih dari isi surat Perbasi, sanksi kepada sembilan pemain sendiri sudah diputuskan per tanggal 31 Oktober 2017.

Hukuman sendiri berbeda-beda bagi setiap pemain, dengan hukuman terlama lima tahun diberikan kepada Ferdinand. Rekan lainnya, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa, dan Untung dijatuhi hukuman empat tahun.

Sementara Fredy, Vinton, dan Robertus harus angkat kaki dari seluruh kegiatan basket selama tiga tahun. Terakhir, sanksi paling ringan yakni dua tahun diberikan kepada Zulhilmi.

Musim ini, IBL sendiri bergulir dengan peta persaingan antar 10 klub andal Tanah Air. Sesuai jadwal, level kompetisi basket bergengsi itu baru akan dimulai pada 8 Desember 2017 di delapan kota besar Indonesia, termasuk Jakarta dan Bandung, dan di kompetisi itu kita tak akan melihat nama-nama di atas berlaga.