Bola & Sports
·
8 September 2020 11:12

Wawancara Khusus Yayuk Basuki: Saya Atlet Orde Baru, Tak Ada Jaminan Hidup

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Wawancara Khusus Yayuk Basuki: Saya Atlet Orde Baru, Tak Ada Jaminan Hidup (38187)
Petenis Yayuk Basuki mencium mendali emasnya usai mengalahkan Tamarine Tanasugarn dari Thailand di final tenis tunggal putri Asian Games ke-13 di Bangkok. Foto: AFP/TORSTEN BLACKWOOD
Peluh bercucuran, terkadang air mata ikut tumpah. Perjuangan seorang atlet untuk mengibarkan bendera Merah Putih di kancah dunia sangatlah berat.
ADVERTISEMENT
Tengok saja apa yang telah dilakukan Yayuk Basuki. Legenda hidup tenis Indonesia ini berkali-kali berhasil mengharumkan nama bangsa.
Wanita kelahiran 30 November 1970 ini memperoleh enam gelar tunggal WTA Tour dan sembilan gelar dari ganda. Prestasi terbaiknya dalam turnamen Grand Slam adalah mencapai babak perempat final Wimbledon pada 1997.
Namun, sederet tinta emas itu nyatanya tidak dibarengi dengan apresiasi yang pantas dari pemerintah. Yayuk mengaku tak mendapat jaminan hari tua dari pemerintah usai pensiun.
Dalam memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas), kumparanSPORTS mewawancarai anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN ini untuk mengetahui lebih dalam mengenai pemikirannya terkait jaminan hari tua terhadap atlet. Berikut petikan wawancaranya.
Sebagai atlet berprestasi, adakah jaminan hidup dari pemerintah kepada Anda saat ini?
ADVERTISEMENT
Tidak Ada. Sama sekali tidak ada. Saya kan atlet era lalu ya, era orde baru sampai awal reformasi, jadi tidak ada yang namanya jaminan.
Apakah Anda kecewa tidak mendapat jaminan hari tua dari pemerintah dengan sederet prestasi yang telah Anda persembahkan?
Kecewa sih enggak, karena kembali lagi, memang dulu belum menjadi prioritas kalau bicara mengenai hari tua atlet. Mungkin diganti dengan yang lain, dalam artian pembinaan atlet atau lain-lain ya.
Banyak juga atlet yang direkrut untuk bekerja, entah itu bekerja di BUMN atau bank. Dulu banyak atlet voli, ada yang ke PLN seperti itu. Setelah itu, karena saya selalu incharge di eranya menteri (Menpora) Adhyaksa Dault, jadi kita mulai memikirkan hal itu, karena banyak sekali keluhan ya, banyak atlet yang kurang sejahtera.
ADVERTISEMENT
Lebih miris lagi hidupnya susah dah untuk sementara baru semacam bonus, jadi penghargaan setelah mereka berprestasi dalam membawa nama negara seperti SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade. Tetapi, tetap saja jaminan hari tua belum terjamin. Itu yang sampai muncul UU Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) 2005, di dalam itu sudah ada pasalnya, penghargaan untuk atlet berprestasi atau pelaku olahraga. Hanya belum tertulis apa persisnya.
Apakah kondisi ini juga yang mendorong Anda masuk ke jalur politik?
Kenapa saya coba masuk ke senayan salah satunya yang memotivasi adalah untuk penghargaan atlet berprestasi. Saya ingin mendorong adanya revisi UU SKN 2005 ini.
Saya concern kepada jaminan hari tua atlet karena kita ini sulit untuk merangkul atau membina para atlet muda. Karena itu, kita harus merangkul para orang tua. Hanya setiap kali dirangkul, orang tua nantinya menanyakan masa tua atau hari depan anaknya, bagaimana kalau sudah tidak menjadi atlet. Ini sulit untuk dijawab. Selama ini hanya sekadar 'Oh, nanti jadi PNS atau jadi pegawai BUMN'. Tapi, itu kan itu tidak bisa semuanya.
ADVERTISEMENT
Bagaimana Anda melihat kondisi para atlet pascapensiun sekarang?
Atlet dari cabang olahraga populer, mereka baik-baik, dalam arti kehidupannya sehat dalam ekonomi. Kalau saya kasihannya dari cabang yang olahraga yang kurang populer. Ini yang kasihannya mereka, hanya menunggu event saja, ini yang perlu kita pikirkan.
Memikirkan jaminan hari tua pastinya harus seluruh atlet, mereka layak dipikirkan pemerintah. Jangan ibaratnya, habis manis sepah dibuang, karena mereka membawa nama Merah Putih sampai habis-habisan, setelah itu tapi ga diperhatikan. Ini harus diperhatikan konsepnya, silakan pembuat kebijakan agar kita tak sulit mencari bibit-bibit atlet di masa yang akan datang.
Banyak anggapan atlet sebenarnya juga harus bisa mengelola keuangan sendiri ketika aktif. Bagaimana Anda menilainya?
Buat saya, pengelolaan dana atlet semasa aktif, terutama atlet yang dapat hadiah secara instan, memang diperlukan. Mereka juga harus dibekali pendidikan, jangan karena atlet pendidikan dipinggirkan.
ADVERTISEMENT
Pada saat muda, prioritasnya memang olahraga, tapi jangan mengabaikan pendidikan, kan disela-sela istirahat kita masih bisa belajar. Hal yang paling mudah adalah membaca, itu kan sama dengan belanja karena namanya ilmu tidak pernah habis.
Kalau mau membuka usaha kan harus betul-betul dipelajari usaha apa sih yang cocok buat kita dan bagaimana mitra kita dan lain-lain. Saya rasa kalau atlet dibekali pendidikan yang baik mereka juga akan baik.
Bagaimana Anda menilai kondisi dunia olahraga Indonesia sekarang?
Saya melihat keterpurukan dan kita harus mendapat solusi supaya muncul atlet-atlet di kemudian hari. Bahkan setelah jadi atlet sewaktu junior, jangan sampai karena khawatir masa depannya, mereka jadi banting stir. Mudah-mudahan ada solusi dan konklusi bagaimana bisa menjamin dan menjadi pegangan bagi pembina olahraga untuk merekrut atlet lagi. Karena olahraga belum menjadi prioritas yang utama dari pemerintah.
ADVERTISEMENT
Kita juga harus bicara industri olahraga, karena di dunia industri, olahraga sudah berkembang pesat, sedangkan kita belum bisa seperti itu. Hanya bisa satu-dua cabang, sepak bola misalnya, tapi itu juga masih morat-marit itu juga prestasinya belum ada.
Ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah, tapi tidak bisa dari pemerintah saja kalau kita bicara atau pendanaan. Karena olahraga ini belum jadi prioritas pemerintah saat ini.