Wawancara Sabar Gutama: Sulitnya Jadi Atlet Non-pelatnas hingga Main Tarkam

kumparanSPORTverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama (kanan) dan Reza Pahlevi Isfahani (kiri) mengembalikan kok ke arah ganda putra Malaysia Man Wei Chong/Tee Kai Wun pada babak semifinal Kapal Api Indonesia Open 2025 di Istora Senayan. Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama (kanan) dan Reza Pahlevi Isfahani (kiri) mengembalikan kok ke arah ganda putra Malaysia Man Wei Chong/Tee Kai Wun pada babak semifinal Kapal Api Indonesia Open 2025 di Istora Senayan. Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Nama Sabar Gutama mencuat usai menjadi runner up Indonesia Open 2025. Sabar dan pasangannya yakni Reza Pahlevi jadi satu-satunya wakil Indonesia di turnamen yang digelar di Istora GBK itu.

Sabar/Reza bukan berasal dari Pelatnas PBSI. Mereka profesional yang hidup dari sponsor. Oleh sebab itu, tak banyak turnamen yang bisa mereka ikuti.

Mereka harus cermat memilih turnamen dan tampil meyakinkan di turnamen tersebut. Sebagai pebulu tangkis profesional, Sabar/Reza mengungkapkan betapa sulitnya ikut turnamen dll. Bagaimana kisahnya?

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Sabar Karyaman Gutama (kiri) dan Reza Pahlevi Isfahani (kanan) bereaksi usai meraih poin atas lawannya ganda putra Malaysia Man Wei Chong/Tee Kai Wun pada babak semifinal Kapal Api Indonesia Open 2025. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Bagaimana cerita awal karier Sabar Gutama?

Wah ini awal karier yang sangat unik jadi kalau orang lain dia sudah di-support sudah diarahin buat menjadi atlet kalau saya basic-nya hanya ingin sehat saja karena saya dulu punya penyakit asma harus olahraga karena sudah banyak terkontaminasi sama obat jadinya yaudah saya coba. Kata papa ini anak harus olahraga terus ditanya olahraganya mau apa saya bilang main bola dulu terus kata papa jangan, ini sudah hitam, kecil, sakit-sakitan kalau main bola terlalu body contact dia takut anaknya kenapa-kenapa jadi mau gak bulu tangkis deket rumah. Jadi saya coba latihan seminggu dua kali seminggu tiga kali dan alhamdulillah senang, nomor satunya sehat dan sekarang bisa jadi kerjaan jadi prestasi.

Bulu tangkis awal masuk klub usia berapa?

Mulai umur delapan setengah tahun mulai masuk klub Sampurna di Sumedang. Latihan reguler seperti biasa ternyata happy senang gak sakit-sakitan asmanya berkurang, dan pelatih bilang ini ada bakat kelihatan senang banget, kalau latihan semangat banget mau diseriusin ga? Papa tanya ke saya dan saya mau serius yaudah langsung rutin deh sampai saat ini.

Penyakitnya bagaimana?

Iya mas sudah hilang kalau dulu kalau sakit asma atau batuk flu harus benar-benar dengan resep dokter dan kalau misalnya asmanya kambuh dan obatnya sudah habis itu dosisnya naik terus. Dan umur segitu sudah dosisnya tinggi kan bahaya.

Cerita masuk pelatnas bagaimana?

Ceritanya lumayan struggle karena kan kita tahu kalau di pelatnas indonesia masuknya dari junior dari umur 17-18 mereka sudah ditarik pelatnas. Sedangkan saya masuk di usia 20 tahun sudah dewasa kedua. Jadi ya gak gampang tidak mudah dulu tuh targetnya usia 18 masuk pelatnas tapi rezekinya belum. Di usia 19 targetnya masuk pelatnas juga belum masih berkompetisi di lokal dan alhamdulillah di usia 20 ada rezeki masuk pelatnas tidak seperti yang lain masuknya di usia junior-junior.

Kenapa memutuskan keluar pelatnas?

Ya mungkin memutuskan untuk keluar karena kita diskusi juga sama Reza tidak banyak kesempatan yang dikasih ke kita. Satu karena situasi dan kondisi tak mendukung karena abis COVID kami benar-benar pasangan COVID, kita dipasangkan saat COVID melanda benar-benar tidak ada turnamen, rangkingnya tidak ada, tidak banyak turnamen yang diselenggarakan yang bisa kita ikuti. Dan junior kita seperti Leo/Daniel, Bagas/Fikri itu peak performanya lagi naik kita merasa tidak banyak kesempatan dikasih untuk kita lalu kita mikir bagaimana kita cari opportunity lain di luar dan sebenarnya ambisi untuk menjadi pemain profesional yang berprestasi ada cuma dulu kita tidak tahu ini bisa dapat sponsor atau enggak, bisa survive tidak di luar, cuma alhamdulillah dengan berjalannya waktu ada rezeki dari Tuhan bisa berprestasi seperti sekarang tentu kita sangat bersyukur.

Memutuskan keluar pelatnas berdua Reza?

Iya berdua jadi kita ngobrol berdua bagaimana kita merasa bukan di usia yang muda lagi dan junior kita prestasinya sudah lumayan naik rangkingnya mulai nge-boost sedangkan kita masih stagnan terus kita coba oportunity lain di luar deh.

Pas keluar bagaimana struggle-nya?

Pastinya struggle banget karena kita kan benar-benar beranjak dari bawah kita bukan berada di pemain profesional yang sudah di top level, kita berada di bawah dan sponsor belum banyak yang ngelirik dan ada beberapa sponsor yang mau biayain kita untuk berangkat turnamen cuma masih belum banyak waktu itu. Jadi ada tarkam di mana kita dipanggil kita main, sampai main di ubin dan itu yang kita rasain jadi ketika sekarang alhamdulillah ada di level ini pastinya kita sangat happy sangat senang, sangat bersyukur dan kita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dikasih.

Main Tarkam bagaimana ceritanya?

Awalnya karena kita cari modal cari untuk bertahan hidup dan waktu itu tarkam lagi gila-gilanya karena kan Sirnas dewasa tidak ada dan turnamen kita belum punya modal yang banyak untuk berangkat turnamen jadi sponsor cuma memfasilitasi beberapa turnamen internasional jadi tarkam ketika di sela-sela jadwal kosong ditawarin main kita main, benar-benar dari kota ke kota.

Seberapa ribet urusin turnamen sendiri?

Sebenarnya lumayan ribet tapi alhamdulillah kita dibantu sama istri-istri kita yang bantuin kalau submit nama kan dari klub terus langsung ke PBSI tapi kalau akomodasi sama istri-istri kita sama istri reza saya juga bantuin tiket yang promo tiket yang murah tapi gak bikin kita capek terus hotel kalau tidak bisa official hotel karena mahal kita cari yang deket gor jadi lumayan struggle di situnya.

Katanya sempat ketinggalan pesawat?

Itu di Thailand itu lucu banget sih waktu itu penerbangannya dua ada yang sore dan siang Saya tanya reza mau penerbangan yang mana oke kita book tahunya kita melihat kita book yang itu tapi di aplikasi kita book-nya malah yang jam siang bukan jam yang sore kita dengan santainya pas sudah mau pulang kita santai aja di hotel baru bangun terus kita otw ke bandara lah kok jamnya jam 11 pagi terus kita ngecek bulak-balik sama reza jadi ketinggalan pesawat jadi beli baru lagi kacau sih itu.

Suka-dukanya jadi atlet non-pelatnas?

Ya kita benar-benar harus mandiri kan kita bagaimana caranya bisa tampil bisa turnamen bisa main dengan bajet yang cukup karena kita tahu kalau akomodasi tidak murah untuk ke luar negeri gak murah.