Dizza Batik Jadi Bukti Nyata Pertamina Berdayakan UMKM Tanpa Batas Usia

Perjalanan Dizza Batik, UMKM busana asal Surabaya, bermula pada 2012. Sang pemilik, Soesi Soekotjo, mengawali kiprahnya dari produksi kerajinan tangan seperti taplak meja dan tempat tisu, sebelum akhirnya memantapkan diri berfokus pada lini busana batik dan tenun.
“Saya mendirikan Dizza Batik itu sejak tahun 2012 dengan membuat baju fashion batik dan tenun. Ketika itu memang saya sebelumnya memang sudah di kerajinan,” kata Soesi saat ditemui kumparan di Pameran Kriyanusa 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Sabtu (26/9).
Perkembangan usaha batik Soesi ini semakin pesat setelah mendapatkan dukungan dari Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga selama kurang lebih empat tahun. Katanya, usahanya mendapatkan dukungan permodalan yang dimanfaatkan untuk menambah mesin jahit dan memperbanyak stok kain tenun dari berbagai daerah.
“Jadi koleksi-koleksi usahanya itu jadi lebih banyak, karena dapat binaan Pertamina ini jadi lebih variasi. Bahan-bahannya jadi lebih variatif,” sebut Soesi.
Ia pun mengutarakan rasa bersyukur nya karena usahanya tetap mendapat ruang dan apresiasi untuk berkembang di usianya yang tak lagi muda. Menurutnya, kepedulian Pertamina terhadap perajin senior memberikan dorongan moral yang sangat berarti di tengah lanskap industri yang kerap berfokus pada generasi muda.
“Jadi kita tuh merasa seperti dihargai gitu loh, kita masih didukung. Jadi saya sangat berbesar hati karena Pertamina itu masih mendukung kami yang berusia dalam pengembangan usaha kami. Untuk selanjutnya saya berharap anak-anak saya ini bisa mengembangkan usaha,” tutur Soesi.
Kemitraan tersebut juga membuka peluang baru bagi Dizza Batik, termasuk penawaran ekspansi ke pasar luar negeri. Kendati demikian, Soesi masih mempertimbangkan dengan matang terkait kapasitas produksi serta kesiapan sumber daya manusia yang dimilikinya sebelum melangkah ke skala internasional.
“Ada (penawaran ekspor), jadi kan kita punya grup ya. Jadi ‘ada pelatihan ini’ ini, kan kita bisa saja kita milih atau tidak karena kita juga mikir kira-kira sudah bisa ekspor nggak ya? Kita kira mampu nggak ya dengan sumber daya yang ada ini,” sebut Soesi.
Bagi Soesi, jika nantinya Dizza Batik menembus pasar global, nilai otentisitas wastra Nusantara tetap menjadi identitas utama yang tidak bisa ditawar.
“Pasti tertarik dengan ekspor. Kita tidak lupa wastra ini harus saya bawa keluar karena kan pokok awal dari usaha ini wastra,” lanjut Soesi.
Dizza Batik sendiri menghadirkan ragam pilihan produk busana, mulai dari kaus batik, daster, hingga rompi dengan bermacam motif. Dalam proses produksinya, Soesi tetap memegang teguh kualitas dengan hanya mengandalkan teknik tradisional batik tulis dan cap, tanpa menyentuh metode cetak atau printing.
“Batiknya batik tulis, paling tidak itu cap. Jadi saya tidak memakai printing. Jadi paling rendah itu cap,” ujar Soesi.
Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa kemandirian dapat diperjuangkan oleh siapa pun tanpa mengenal usia.
"Pendampingan yang diberikan oleh Pertamina merupakan upaya yang terus dilakukan untuk memajukan mitra binaan UMKM. Dengan memberikan kesempatan ke pasar-pasar baru, UMKM diharapkan dapat terus tumbuh menjadi lebih besar," kata Baron.
