Pendidikan Jarak Jauh Bawa Universitas Terbuka Raih Anugerah Ekonomi Hijau 2026

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. (tengah) saat menerima penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau di Jakarta pada Kamis (3/9/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. (tengah) saat menerima penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau di Jakarta pada Kamis (3/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Bagi seorang mahasiswa, perjalanan menuju kampus mungkin terlihat sederhana. Namun ketika perjalanan itu dilakukan berulang kali oleh mahasiswa dalam jumlah besar, kebutuhan bahan bakar, mobilitas, dan sumber daya yang menyertainya ikut menjadi bagian dari jejak lingkungan pendidikan tinggi.

Universitas Terbuka (UT) memilih menjawab persoalan tersebut dengan cara berbeda. Bukan mahasiswa yang selalu datang ke kampus, melainkan pendidikan yang datang lebih dekat kepada mahasiswa.

Model Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang dikembangkan UT sejak 1984 kini bertransformasi semakin digital. Pembelajaran dan berbagai layanan akademik dapat diakses dari berbagai wilayah sehingga mahasiswa tidak harus datang ke kampus setiap hari. Pendekatan tersebut mendapat pengakuan melalui Anugerah Ekonomi Hijau dari detikcom pada Kamis (3/9/2026), yang diterima langsung oleh Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si.

Penghargaan tersebut diberikan atas penerapan Green Campus Digital dalam transformasi pendidikan, yang memadukan teknologi, efisiensi sumber daya, perluasan akses pendidikan, dan prinsip keberlanjutan. Bagi UT, konsep ekonomi hijau tidak berhenti pada bagaimana kampus mengelola lingkungannya, tetapi juga bagaimana proses pendidikan dirancang agar semakin efisien, inklusif, dan minim mobilitas.

Di titik inilah PJJ memiliki dampak yang lebih luas. Ketika mahasiswa tidak harus melakukan perjalanan rutin menuju kampus, kebutuhan penggunaan bahan bakar dan potensi emisi karbon dari mobilitas pendidikan dapat ditekan. Digitalisasi pun tidak sekadar membuat kuliah lebih fleksibel, tetapi turut mengubah cara pendidikan menggunakan sumber daya.

Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menegaskan bahwa penghargaan tersebut menunjukkan adanya pengakuan publik terhadap kontribusi UT dalam ekonomi hijau, terutama melalui keterlibatan mahasiswa dan sivitas akademika.

"Arti penghargaan ini tentu saja sangat penting dan bermakna untuk UT sekaligus menegaskan bahwa publik telah mengakui secara nyata bahwa UT punya peran yang signifikan dalam ekonomi hijau khususnya melalui peran serta mahasiswa dan sivitas akademika UT. Mahasiswa UT tidak harus mengkonsumsi BBM untuk mendapatkan pembelajaran, tidak harus datang ke kampus tetapi kampus yang datang ke pintu rumah mahasiswa. Dengan demikian kita menghemat emisi karbon, kita menghemat BBM dan seterusnya. Hingga pada gilirannya kita memberikan sumbangsih yang sangat signifikan kepada ekonomi hijau." ujar Ali.

Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. menerima penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau di Jakarta pada Kamis (3/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Komitmen tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Sejak 2010, UT telah mencanangkan gerakan UT Go Green melalui berbagai praktik ramah lingkungan, mulai dari pengurangan penggunaan kertas (paperless), penanaman pohon, pengelolaan sampah, pembuatan biopori, pembangunan danau buatan, hingga pengembangan eco-building.

Langkah itu kemudian diperluas melalui UT Green University (UTGU) dengan menerapkan prinsip keberlanjutan pada infrastruktur, pengelolaan energi dan limbah, transportasi, serta pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perpaduan antara model PJJ dan praktik lingkungan tersebut membentuk pendekatan Green Campus Digital yang menjadi bagian dari penyelenggaraan pendidikan UT.

Konsistensi tersebut turut tercermin dalam UI GreenMetric World University Rankings 2025, dengan UT menempati peringkat 269 dunia dan 34 nasional. Capaian itu memperkuat upaya UT dalam mengintegrasikan teknologi, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Bagi UT, Anugerah Ekonomi Hijau bukan sekadar penghargaan atas program yang telah dijalankan. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan dapat dibangun dari cara pendidikan itu sendiri diselenggarakan. Ketika ilmu pengetahuan dapat menjangkau mahasiswa tanpa selalu menuntut mereka menempuh perjalanan ke kampus, akses pendidikan dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan dalam arah yang sama.

Dari satu perjalanan yang tidak perlu dilakukan hingga satu layanan yang beralih ke digital, langkah-langkah kecil itu dirangkai menjadi kontribusi yang lebih besar. Karena bagi UT, memperluas akses pendidikan bukan hanya tentang membawa lebih banyak orang menuju masa depan, tetapi juga memastikan masa depan yang mereka tuju tetap memiliki bumi yang layak untuk ditinggali.